Pemprov Kalsel Aktifkan Siaga Dini, Ribuan Warga Berhasil Dievakuasi dari Banjir Bandang

Pemprov Kalsel Aktifkan Siaga Dini, Ribuan Warga Berhasil Dievakuasi dari Banjir Bandang


BALANGAN, KALIMANTAN SELATAN – Banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan pada 28 Desember 2025. Curah hujan tinggi yang terjadi dalam waktu lama menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman warga di enam kabupaten.

Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Tabalong, Balangan, Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, dan Tanah Laut. Di beberapa titik, ketinggian air dilaporkan mencapai atap rumah warga.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bergerak cepat dengan mengaktifkan status siaga bencana hidrometeorologi untuk menekan dampak banjir bandang dan mempercepat proses penanganan di lapangan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan mencatat sebanyak 1.466 rumah terendam banjir dan 1.615 kepala keluarga terdampak. Pemerintah daerah bersama tim gabungan melakukan evakuasi warga ke sejumlah lokasi pengungsian yang telah disiapkan.

Di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi sekitar 2.895 warga dari kawasan yang terendam banjir. Proses evakuasi melibatkan BPBD, TNI, Polri, serta relawan kebencanaan.

Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, sebelumnya telah menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi sejak 12 November 2025 hingga 31 Januari 2026. Status tersebut mencakup sejumlah wilayah yang dinilai rawan banjir dan longsor.

Penetapan status siaga dini memungkinkan pemerintah daerah melakukan persiapan personel, peralatan, dan logistik sejak awal. Dengan kesiapan tersebut, respons penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.

Pemprov Kalimantan Selatan memastikan seluruh unsur terkait berada dalam kondisi siaga penuh. Koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk mempercepat evakuasi serta pendistribusian bantuan kepada warga terdampak.

Fenomena banjir bandang di Kalimantan Selatan ini memiliki kesamaan dengan sejumlah bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayah lain di Indonesia, seperti banjir di Sumatera serta longsor di Jawa dan Bali, yang dipicu oleh cuaca ekstrem.

Pemerintah provinsi menilai kapasitas daerah saat ini masih memadai untuk menangani kondisi darurat sehingga status bencana belum dinaikkan ke tingkat nasional. Namun, evaluasi terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya situasi.

Pengalaman banjir besar Kalimantan Selatan pada 2021 yang menyebabkan kerugian hingga Rp1,349 triliun menjadi pelajaran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas, mengingat potensi bencana hidrometeorologi diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal 2026.


IKLAN KONTEN
728 x 90 atau 336 x 280