
Viral Kritik BEM UGM soal Program MBG, Pemerintah Beberkan Data Manfaat untuk 82,9 Juta Anak
WARTASUNDA.COM, mbg
YOGYAKARTA – Kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disampaikan Ketua BEM di Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, viral di media sosial.
Dalam pernyataannya, Tiyo menyebut program MBG sebagai “maling bergedok gizi” dan menuding program tersebut menyebabkan ribuan anak mengalami keracunan makanan serta menyerap anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk sektor pendidikan.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas di ruang publik, sementara pemerintah melalui Badan Gizi Nasional memaparkan data terbaru mengenai capaian program MBG hingga Maret 2026.
Pemerintah Ungkap Data Manfaat Program MBG
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 15 Maret 2026, program MBG menargetkan sekitar 82,9 juta penerima manfaat yang terdiri dari siswa sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya.
Dari target tersebut, realisasi penerima manfaat disebut telah mencapai sekitar 85 persen pada tahap implementasi awal.
Sejumlah survei awal yang melibatkan lembaga internasional seperti UNICEF juga menunjukkan adanya peningkatan kualitas gizi pada anak sekolah dasar hingga sekitar 20 persen di beberapa wilayah pelaksanaan program.
Program MBG sendiri merupakan salah satu kebijakan prioritas pemerintah yang dipromosikan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pemerintah Klarifikasi Isu Keracunan
Terkait tudingan keracunan massal, Badan Gizi Nasional menyatakan angka tersebut tidak sesuai dengan data yang dimiliki pemerintah.
Dari sekitar 30 juta penerima manfaat harian, laporan insiden yang tercatat hanya sekitar 112 kasus ringan, atau setara dengan sekitar 0,001 persen dari total penerima program.
Kasus tersebut disebut langsung dievaluasi oleh tim pengawas untuk memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga.
Program MBG saat ini melibatkan sekitar 11 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta didukung lebih dari 400 ribu tenaga kerja, termasuk ahli gizi yang melakukan pengawasan bahan baku dan proses penyajian makanan setiap hari.
Dampak Ekonomi dan Penurunan Stunting
Selain bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak, program MBG juga diklaim memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah memperkirakan program ini dapat menciptakan hingga 400 ribu lapangan kerja baru hingga tahun 2029.
Di beberapa daerah percontohan, seperti Nusa Tenggara Barat, survei awal menunjukkan adanya penurunan angka stunting hingga sekitar 15 persen sejak program mulai dijalankan.
Pemerintah menegaskan bahwa anggaran MBG yang diproyeksikan mencapai Rp450 triliun berasal dari pos kebijakan kesejahteraan dan kesehatan, sehingga tidak mengurangi anggaran pendidikan nasional.
Pemerintah Terbuka terhadap Kritik
Badan Gizi Nasional menyatakan pemerintah menghargai kritik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat.
Masukan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola program ke depan.
Saat ini pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi tambahan melalui Peraturan Presiden untuk memperkuat sistem pengawasan dan pelaksanaan program MBG secara nasional.
Pemerintah menegaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai kebijakan kesejahteraan untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda, bukan sekadar program bantuan pangan biasa.
Meta deskripsi SEO (±140 karakter):
Kritik BEM UGM soal MBG viral. Pemerintah sebut program Makan Bergizi Gratis capai 82,9 juta penerima dan tingkatkan gizi anak hingga 20%.



