Rupiah Sempat Sentuh Rp17.400, Pemerintah dan BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid

Rupiah Sempat Sentuh Rp17.400, Pemerintah dan BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid

WARTASUNDA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi perhatian publik setelah sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut memicu berbagai reaksi di media sosial dan memunculkan narasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan kondisi ekonomi nasional.

Berdasarkan data terbaru per Jumat (9/5/2026) pukul 23.56 UTC, kurs rupiah berada di level Rp17.377,45 per dolar AS.

Dalam grafik pergerakan lima hari terakhir, rupiah terlihat bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.280 hingga Rp17.450 per dolar AS.

Meski nilai tukar masih berada di level tinggi, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menegaskan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi dinamika global dibandingkan lemahnya fundamental ekonomi domestik.

Rupiah Bergerak Fluktuatif di Tengah Tekanan Pasar Global

Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan global.

Sebelumnya, rupiah sempat melemah mendekati Rp17.445 per dolar AS sebelum akhirnya bergerak menguat tipis setelah pemerintah dan Bank Indonesia melakukan koordinasi intensif untuk menjaga stabilitas pasar.

Presiden Prabowo Subianto disebut turun langsung memimpin rapat bersama otoritas ekonomi guna merespons tekanan terhadap rupiah dan menjaga kepercayaan pasar.

Bank Indonesia pun menegaskan siap melakukan intervensi secara maksimal atau β€œall out” baik di pasar domestik maupun offshore demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, BI memperketat aturan pembelian dolar AS dengan menurunkan batas kewajiban dokumen underlying menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan guna menekan aktivitas spekulatif.

Faktor Global Dinilai Jadi Penyebab Utama Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal yang juga memengaruhi banyak mata uang negara berkembang lainnya.

Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga acuan bank sentral AS The Fed, konflik geopolitik global, serta keluarnya aliran modal asing dari emerging market menjadi faktor dominan yang menekan nilai tukar.

Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan devisa korporasi dan pembayaran utang luar negeri juga ikut mendorong permintaan dolar AS di pasar domestik.

Karena itu, pemerintah menegaskan kondisi rupiah saat ini tidak bisa langsung dijadikan indikator bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami krisis.

Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh Positif

Di tengah tekanan terhadap rupiah, sejumlah indikator ekonomi nasional justru menunjukkan kondisi yang relatif kuat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan, menjadi yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Kinerja tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap kuat serta meningkatnya belanja pemerintah.

Selain itu, tingkat inflasi nasional juga masih berada dalam rentang target pemerintah dan Bank Indonesia sehingga stabilitas harga dinilai tetap terkendali.

Bank Indonesia bahkan menyebut rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued atau di bawah nilai fundamentalnya.

Pemerintah Minta Publik Tidak Terjebak Narasi Negatif

Ramainya pembahasan mengenai rupiah di media sosial dinilai menunjukkan adanya perbedaan antara persepsi publik dengan data ekonomi makro.

Sebagian masyarakat memang merasakan tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup. Namun pemerintah menilai kondisi tersebut belum mencerminkan situasi krisis ekonomi nasional.

Dalam konteks ekonomi global, krisis biasanya ditandai kontraksi ekonomi, lonjakan inflasi ekstrem, hingga terganggunya sistem keuangan secara luas.

Sementara Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi positif, inflasi terkendali, dan sektor keuangan yang relatif stabil.

Pemerintah bersama BI memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas rupiah, daya beli masyarakat, serta kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.***

IKLAN KONTEN
728 x 90 atau 336 x 280