
Pak Harto dan Jenderal Kunarto: Teladan Reformasi Polri yang Kembali Digaungkan Prabowo
WARTASUNDA – Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik 10 anggota Komite Percepatan Reformasi Polri di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 7 November 2025.
Langkah ini menandai dimulainya upaya pembenahan menyeluruh di tubuh kepolisian, agar mampu menghadirkan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat.
Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa komisi tersebut tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang transparan, inklusif, dan berdampak nyata.
Langkah ini seolah menghidupkan kembali semangat reformasi yang dulu pernah dijalankan oleh sejumlah Kapolri di masa pemerintahan Presiden Soeharto, salah satunya Jenderal Kunarto, yang dikenal sebagai sosok polisi sederhana dan berintegritas tinggi.
Wejangan Pak Harto yang Melekat: “Asal Kamu Baik, Semua Akan Baik”
Sebelum menjabat Kapolri pada 1991, Jenderal Kunarto sempat menghadap Presiden Soeharto. Dengan nada ragu, ia menyampaikan kegelisahannya akan tugas besar yang menantinya.
“Saya ini sudah lama meninggalkan Polri, Pak. Sekarang Bapak menugaskan saya di posisi penting. Saya tidak tahu harus memperbaiki Polri dari mana,” ujar Kunarto kala itu.
Pak Harto, seperti biasa, menanggapi dengan tenang. Setelah hening beberapa saat, beliau hanya berkata pendek namun sarat makna:
“Itu tidak sulit, Kunarto. Yang penting kamu baik. Asal kamu baik, maka semua akan baik.”
Tiga kata yang sederhana, namun menjadi prinsip hidup Kunarto. Dari wejangan itulah ia membangun gaya kepemimpinan yang menekankan integritas, keteladanan, dan kejujuran.
Reformasi Polri ala Jenderal Kunarto
Selama menjabat Kapolri periode 1991–1993, Jenderal Kunarto dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dan mengedepankan pelayanan publik.
Dalam wawancara dengan Kompas pada peringatan Hari Bhayangkara ke-46 tahun 1992, Kunarto menyebut ada dua hal yang paling diinginkan masyarakat dari polisi:
“Masyarakat hanya ingin dua hal: rasa aman dan pelayanan yang baik.”
Namun, dua hal sederhana itu ternyata tidak mudah diwujudkan. Keterbatasan sumber daya manusia dan sistem kerja membuat Polri kala itu belum sepenuhnya mampu memenuhi harapan publik.
Kunarto kemudian memulai reformasi internal, yang tak hanya menyentuh peralatan modern, tetapi juga pola pikir anggota Polri.
“Apalah artinya peralatan canggih kalau pola pikirnya tidak ikut berubah,” ujarnya tegas.
Dari semangat tersebut lahirlah semboyan yang legendaris:
“Tekadku: Pengabdian Terbaik.”
Teladan yang Masih Relevan di Era Prabowo
Tiga dekade berselang, pesan moral dari Pak Harto dan Jenderal Kunarto kembali terasa relevan.
Ketika Presiden Prabowo menegaskan pentingnya reformasi Polri, nilai integritas dan ketulusan pengabdian yang dulu dijunjung tinggi seakan menjadi fondasi arah perubahan saat ini.
Bahwa sejatinya, reformasi bukan hanya soal regulasi atau struktur kelembagaan, tetapi tentang karakter dan moralitas pemimpin.
Menjadi “baik”, seperti pesan Pak Harto, adalah kunci untuk membangun kepercayaan dan keadilan — dua hal yang menjadi inti keberadaan Polri di tengah masyarakat.”***





