
Pakar Tegaskan Indonesia di Board of Peace Bukan Koalisi dengan Israel, Justru Perkuat Diplomasi Palestina
WARTASUNDA.COM – Kehadiran Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) di Washington DC pada 19 Februari 2026 memicu perdebatan di media sosial.
Sorotan muncul setelah bendera Merah Putih terlihat berdampingan dengan Israel dalam pertemuan perdana forum tersebut.
Sebagian warganet menilai posisi itu sebagai sinyal koalisi politik. Namun, pakar menegaskan anggapan tersebut tidak tepat dan perlu dilihat dalam konteks diplomasi multilateral.
Duduk Satu Forum Bukan Berarti Berkoalisi
Pakar intelijen dan keamanan internasional, Dr. Stepi Andiani, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa Board of Peace merupakan dewan multilateral yang mempertemukan berbagai negara dengan kepentingan berbeda.
“Bentuknya adalah dewan. Dalam sebuah dewan bisa terdiri dari beberapa koalisi dan berbagai kepentingan yang dipertarungkan di meja perundingan. Itu bukan berarti berkoalisi,” ujar Stepi.
Menurut dia, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut justru membuka ruang diplomasi yang lebih luas, termasuk untuk memastikan isu Palestina tetap menjadi perhatian dalam pembahasan internasional.
Diplomasi di Meja Perundingan
Stepi menilai diplomasi tidak selalu diwujudkan lewat pernyataan keras di luar forum, melainkan melalui keterlibatan langsung dalam proses perundingan.
Dengan hadir di Board of Peace, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk memperjuangkan konsistensi politik luar negeri yang mendukung kemerdekaan Palestina.
“Indonesia berada di meja perundingan bukan untuk berkoalisi, melainkan memastikan Palestina tetap menjadi prioritas dalam setiap napas diplomasi,” katanya.
Peran Indonesia dalam Misi Stabilitas Internasional
Di tengah polemik tersebut, Indonesia juga terlibat dalam misi kemanusiaan melalui penempatan personel TNI sebagai Wakil Komandan dalam International Stabilization Force (ISF).
ISF merupakan kontingen gabungan dari lima negara, yakni Albania, Indonesia, Kazakhstan, Kosovo, dan Maroko.
Misi ini difokuskan pada perlindungan warga sipil, termasuk anak-anak, serta dukungan layanan kesehatan dan rekonstruksi infrastruktur di wilayah terdampak konflik seperti Gaza dan Rafah.
Partisipasi Indonesia dalam misi tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen konkret, bukan sekadar pernyataan simbolik di forum internasional.
Tegaskan Komitmen pada Palestina
Keterlibatan Indonesia di Board of Peace dan ISF menunjukkan pendekatan ganda: diplomasi aktif di level global dan aksi kemanusiaan di lapangan.
Dengan posisi strategis sebagai Wakil Komandan dalam misi stabilisasi, Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk memastikan prinsip perlindungan sipil dan hukum humaniter internasional dijalankan.
Stepi menilai kombinasi langkah diplomatik dan kontribusi kemanusiaan itu mempertegas konsistensi Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam percaturan global.***