
Ziarah ke Astana Giribangun: Driver Ojol dan Mahasiswa Jateng Belajar Keteladanan Soeharto
WARTASUNDA – Kompleks Astana Giribangun kembali dipadati peziarah pada Sabtu, 15 November 2025.
Dua rombongan dengan latar berbeda puluhan pengemudi ojek online dari Perhimpunan Ojek Online Indonesia (O2) dan ratusan mahasiswa Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Jawa Tengah datang untuk berziarah ke makam Presiden kedua RI, H. M. Soeharto.
Kedatangan mereka bukan sekadar ritual tahunan, melainkan upaya menggali kembali nilai kepemimpinan dan etos kerja yang selama ini dilekatkan pada sosok Soeharto.
Ojek Online O2: Menjaga Solidaritas dan Keteladanan
Ketua Umum O2, Cecep Saripudin, mengatakan ziarah ini menjadi ruang refleksi bagi para anggotanya.
Menurut dia, nilai-nilai yang identik dengan Soeharto ketegasan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial masih relevan untuk menjawab tantangan ekonomi dan sosial saat ini.
“Semangat kerja keras dan tanggung jawab yang diwariskan pendahulu bangsa perlu terus dirawat,” ujar Cecep.
Ia juga menyatakan dukungan O2 terhadap kebijakan pemerintah yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
Salah satu peserta, Edo, mengaku mendapatkan inspirasi dari sosok Soeharto dalam menjalani profesinya sehari-hari.
“Keteladanan beliau memberi dorongan untuk tetap bekerja jujur dan disiplin,” tuturnya.
Rangkaian doa dan tahlil yang digelar O2 turut menggerakkan ekonomi lokal, terutama pedagang dan warga sekitar kompleks Astana Giribangun yang banyak menggantungkan penghasilan dari wisata ziarah.
Mahasiswa AMAN Jateng: Mengkaji Sejarah, Menyerap Nilai Kepemimpinan
Di waktu yang sama, rombongan mahasiswa AMAN Jawa Tengah menggelar ziarah sebagai bentuk refleksi akademik atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto.
Sekretaris Jenderal AMAN Jateng, Wafiq Akbar Hasibuan, mengatakan bahwa kontribusi Soeharto terhadap pembangunan nasional menjadi bagian penting yang perlu dipahami generasi muda.
“Generasi sekarang harus membaca konteks sejarah secara utuh,” ujarnya.
Setibanya di kompleks makam, para mahasiswa diterima oleh Sukirno, Abdi Dalem Astana Giribangun, sebelum melaksanakan doa bersama, tabur bunga, dan hening cipta.
Sukirno menyebut tradisi ziarah sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan akar sejarah bangsanya.
Dalam kesempatan itu, mahasiswa juga diajak memahami falsafah Jawa Mikul Dhuwur, Mendhem Jero, yang menekankan penghormatan terhadap jasa tokoh besar sekaligus kebijaksanaan dalam memandang sisi-sisi lain mereka.
Astana Giribangun: Ruang Belajar Sejarah yang Tetap Hidup
Kehadiran driver ojol dan mahasiswa di Astana Giribangun memperlihatkan bahwa makam keluarga Cendana ini bukan hanya tempat penghormatan, tetapi juga ruang belajar tentang sejarah, kepemimpinan, dan nilai kebangsaan.
Aktivitas ziarah yang meningkat turut menggerakkan ekonomi warga sekitar dan menjaga keberlanjutan tradisi yang dianggap penting untuk merawat ingatan kolektif bangsa terhadap perjalanan panjang kepemimpinan Soeharto.



