
Jejak Harmonis Soeharto–Megawati yang Jarang Diungkap, Ini Pesan Penting Sang Ketua Umum
WARTASUNDA -Hubungan antara Presiden kedua RI, Soeharto, dan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memiliki sejarah panjang yang ternyata lebih harmonis dibanding anggapan publik selama ini. Meski sering digambarkan berada pada posisi berseberangan, keduanya justru pernah berada dalam relasi yang saling menghormati.
Salah satu momentum penting terjadi ketika Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI pada Kongres Luar Biasa di Surabaya pada 4 Desember 1993. Presiden Soeharto, melalui safari politiknya saat itu, menyatakan tidak keberatan dengan terpilihnya Megawati. Pernyataan tersebut menjadi sinyal pengakuan resmi dari pemerintah Orde Baru terhadap kepemimpinan Megawati.
Kedekatan Keluarga Besar Soekarno–Soeharto yang Sering Terlupakan
Di luar dinamika politik, hubungan dua keluarga besar ini juga berlangsung hangat. Interaksi antara anak dan cucu kedua tokoh terjadi dalam suasana kekeluargaan. Pertemuan antara Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Megawati kerap menggambarkan kedekatan dua figur perempuan yang memimpin organisasi besar di Indonesia.
Fakta ini menunjukkan bahwa perbedaan posisi politik tidak menghapus hubungan personal kedua keluarga.
Pernyataan Tegas Megawati: “Jangan Hujat Pak Harto”
Dalam berbagai kesempatan, Megawati menekankan pentingnya menghormati para pemimpin bangsa, termasuk Soeharto. Pada pembukaan Sekolah Calon Legislatif PDI Perjuangan pada 15 November 2018, Megawati menyampaikan pesan yang kuat:
“Waktu ayah saya dijatuhkan dengan cara yang tidak beretika, saya bilang jangan hujat Pak Harto.”
Pernyataan tersebut dianggap sebagai bentuk komitmen Megawati terhadap politik yang mengedepankan sikap dewasa dan menolak polarisasi.
Panda Nababan: Megawati Tidak Menumbuhkan Kebencian
Politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan, juga menegaskan bahwa Megawati tidak pernah menanamkan kebencian terhadap Soeharto maupun keluarganya. Menurutnya, anggapan bahwa Megawati memiliki konflik personal dengan Soeharto merupakan persepsi yang tidak tepat.
Megawati justru berupaya menjaga tradisi politik yang menjunjung rekonsiliasi dan saling menghormati antar tokoh bangsa.
Keteladanan Dua Tokoh Penting Bangsa
Pertemuan Megawati dengan Tutut Soeharto kerap menggambarkan suasana yang hangat dan akrab.
Banyak pengamat menilai, hubungan keduanya dapat menjadi contoh bagaimana perbedaan pilihan politik tidak semestinya menghilangkan nilai persaudaraan.
Kisah hubungan harmonis antara dua keluarga besar ini diharapkan menjadi pengingat penting mengenai pentingnya persatuan, dialog, dan penghormatan antar pemimpin bangsa.
.
Berita Terkait

Putri Jenderal Ahmad Yani: Soeharto Layak Disebut Pahlawan Bangsa
WARTASUNDA – Nama Jenderal Ahmad Yani selalu dikenang sebagai simbol keberanian dan pengabdian...

Persahabatan Prabowo–Megawati Tetap Terjaga, Diplomasi Nasi Goreng Jadi Penanda Keharmonisan Politik
WARTASUNDA -Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI...

Hubungan Soekarno–Soeharto dalam Pembebasan Irian Barat dan Pemulihan Ekonomi Indonesia
WARTASUNDA -Kisah perjuangan Indonesia merebut kembali Irian Barat dari Belanda menyimpan rekam...

Ziarah ke Astana Giribangun: Driver Ojol dan Mahasiswa Jateng Belajar Keteladanan Soeharto
WARTASUNDA – Kompleks Astana Giribangun kembali dipadati peziarah pada Sabtu, 15 November...

Jusuf Kalla Tegaskan: Sumbangan Soeharto untuk Bangsa Lebih Banyak, Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional
. WARTASUNDA – Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia,...

Presiden Prabowo Tetapkan Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional di Hari Pahlawan 2025
WARTASUNDA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menetapkan Presiden...