
Sorotan The Economist terhadap Kebijakan Prabowo Dinilai Tanda Indonesia Makin Diperhitungkan di Panggung Ekonomi Global
WARTASUNDA.COM β Sorotan media internasional terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perhatian publik. Majalah ekonomi asal Inggris, The Economist, menyoroti sejumlah program prioritas pemerintah mulai dari kebijakan fiskal, keberlanjutan anggaran negara, hingga tantangan ekonomi global yang dinilai dapat memengaruhi pelaksanaan program strategis nasional.
Di tengah berkembangnya diskusi di ruang publik dan media sosial, pemerintah menilai perhatian tersebut justru menunjukkan posisi Indonesia yang semakin strategis dalam peta ekonomi dunia.
Dengan jumlah penduduk mendekati 280 juta jiwa, kapasitas pasar domestik yang besar, serta peran yang terus meningkat di kawasan Asia Tenggara, Indonesia disebut semakin sulit diabaikan oleh pengamat internasional.
Tokoh eksponen Pemuda Indonesia, Dadung Hari Setyo, menilai intensitas pembahasan terhadap Indonesia di media global tidak lepas dari meningkatnya peran nasional dalam sektor industri, investasi, dan geopolitik.
Menurutnya, negara yang memiliki pengaruh besar biasanya akan lebih sering menjadi objek analisis dan evaluasi internasional.
βPerhatian dari media internasional dapat dibaca sebagai indikasi bahwa Indonesia semakin masuk dalam radar ekonomi global. Negara yang memiliki pengaruh biasanya memang mendapat ruang analisis yang lebih luas,β ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah aktif mendorong sejumlah kebijakan strategis seperti hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi desa, transisi energi, serta perluasan investasi pada sektor bernilai tambah tinggi.
Langkah tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di kawasan Asia.
Kebijakan hilirisasi misalnya, diarahkan agar Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ditempatkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Pemerintah memandang program tersebut tidak hanya berkaitan dengan bantuan sosial, tetapi menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas generasi mendatang dan penguatan ketahanan sosial.
Di sektor pemerataan ekonomi, penguatan koperasi dan ekonomi berbasis desa juga terus didorong sebagai upaya memperluas pertumbuhan hingga ke tingkat daerah.
Pendekatan ini dinilai penting agar manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan atau pusat industri.
Pengamat menilai kritik dari media internasional tetap menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan.
Namun, setiap media memiliki pendekatan editorial yang berbeda. The Economist sendiri selama ini dikenal menggunakan perspektif ekonomi liberal, efisiensi fiskal, dan mekanisme pasar bebas sehingga kebijakan yang melibatkan intervensi negara sering mendapat perhatian lebih besar.
Di sisi lain, pemerintah menilai narasi pesimistis yang berkembang di media sosial terkait kondisi ekonomi nasional perlu disikapi secara proporsional.
Aktivitas investasi masih berlangsung, proyek strategis tetap berjalan, dan berbagai sektor seperti industri, energi, pangan, serta infrastruktur masih menunjukkan aktivitas pembangunan.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyerap informasi, terutama yang beredar dalam bentuk potongan judul atau unggahan singkat di media sosial.
Publik didorong membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan data resmi, memahami sudut pandang media, serta menghindari penyebaran narasi yang tidak berbasis indikator ekonomi.
Menurut pemerintah, perhatian media internasional dapat menjadi bahan refleksi dan evaluasi.
Namun arah ekonomi Indonesia tidak dapat dinilai hanya dari satu artikel atau satu sudut pandang semata.
Fondasi ekonomi nasional tetap dipantau melalui berbagai indikator seperti investasi, inflasi, stabilitas sistem keuangan, penguatan industri domestik, dan keberlanjutan proyek strategis nasional.




