
Menteri PU Kaji Trase Baru Kelok 44 Agam, Solusi Permanen Kurangi Risiko Longsor di Sumatera Barat
WARTASUNDA.COM – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai mengkaji pembangunan trase baru di ruas Jalan Kelok 44, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko longsor yang terus mengancam jalur tersebut.
Kajian ini menjadi solusi jangka panjang setelah ditemukannya penurunan badan jalan akibat pergerakan tanah di sejumlah titik.
Rencana tersebut disampaikan usai Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau langsung kondisi ruas jalan Kelok 44 pada Jumat (31/7).
Dari hasil pemantauan lapangan, Menteri menilai kondisi lereng dan struktur tanah di kawasan tersebut sudah tidak lagi ideal untuk hanya ditangani dengan perbaikan titik longsor.
Kelok 44 Miliki Kerawanan Geologi Tinggi
Kelok 44 merupakan jalan milik Pemerintah Daerah yang menghubungkan Kota Bukittinggi dengan kawasan Danau Maninjau hingga Lubuk Basung. Jalur sepanjang kurang lebih 35 kilometer ini memiliki 44 tikungan tajam dengan kontur perbukitan curam, sehingga menjadi salah satu ruas strategis sekaligus kawasan dengan tingkat kerawanan geologi yang tinggi.
Saat melakukan inspeksi, Menteri Dody menemukan banyak titik badan jalan yang mengalami penurunan akibat tanah bergerak.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tingkat kejenuhan tanah yang berpotensi memicu longsor susulan.
“Kelihatan lahan di sini sudah penuh air, sudah jenuh air. Saya khawatir terjadi longsor lagi, karena itu menurut saya lebih baik mulai dikaji kemungkinan membuat trase baru,” ujar Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Kajian Geoteknik Jadi Tahap Awal Penentuan Trase Baru
Kementerian PU menegaskan bahwa pembangunan trase baru tidak dapat dilakukan secara instan.
Seluruh proses harus diawali dengan investigasi geoteknik, pengeboran tanah, survei lapangan, hingga penyusunan desain teknis agar solusi yang dipilih benar-benar aman.
“Kita cari trase yang terbaik terlebih dahulu, dilakukan pengeboran tanah, investigasi geoteknik, kemudian disusun desainnya. Setelah itu baru diputuskan metode penanganan maupun skema pendanaannya,” kata Dody.
Ia menambahkan bahwa aspek keselamatan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan pembangunan infrastruktur di kawasan rawan bencana.
“Kita harus memastikan solusi yang dipilih benar-benar aman dan berkelanjutan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” tegasnya.
Dalam waktu dekat, Kementerian PU akan mempercepat investigasi geoteknik sebagai dasar menentukan trase terbaik, termasuk memperhitungkan kebutuhan pembiayaan pembangunan.
Pemprov Sumbar Diminta Segera Siapkan Usulan Perubahan Trase
Menteri Dody juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat segera menyusun usulan perubahan trase jalan agar proses perencanaan hingga penganggaran dapat berjalan lebih cepat.
Usulan tersebut selanjutnya akan dibahas bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk dilakukan kajian teknis secara menyeluruh sebelum ditetapkan sebagai proyek penanganan permanen.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat, Armizoprades, memastikan pemerintah daerah segera melakukan koordinasi.
“Atas arahan Bapak Menteri, kami akan segera berkoordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional untuk membahas alternatif perubahan trase beserta kajian teknisnya. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga akan menyiapkan usulan perubahan Rencana Aksi Menteri Pekerjaan Umum agar proses penanganan Ruas Jalan Manggopoh–Padang Luar dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Menurut Armizoprades, dukungan pemerintah pusat menjadi peluang penting untuk menghadirkan solusi infrastruktur yang lebih komprehensif bagi wilayah Sumatera Barat yang selama ini menghadapi tantangan geologi.
“Kami berharap sinergi ini terus terjalin sehingga solusi yang diambil tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, terutama dalam mendukung kelancaran mobilitas dan distribusi barang,” katanya.
Menteri PU Tinjau Sabo Dam dan Infrastruktur Strategis Lainnya
Selain mengunjungi Kelok 44, Menteri PU juga meninjau Sabo Dam Batang Tumayo di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya. Infrastruktur tersebut berfungsi mengendalikan sedimen sekaligus mengurangi potensi banjir lahar dan material vulkanik dari Gunung Marapi.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Ruas Jalan Provinsi Sicincin–Malalak untuk melihat kondisi jalan penghubung antardaerah yang turut terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025.
Menurut Dody, penanganan infrastruktur di Sumatera Barat membutuhkan pendekatan yang menyeluruh karena kondisi tanah dan topografi wilayah memiliki karakteristik yang kompleks.
“Kami memahami persoalan tanah di Sumbar memiliki tantangan tersendiri. Insya Allah pemerintah pusat siap membantu, tetapi tentu penanganannya harus diawali dengan kajian teknis yang komprehensif agar solusi yang diambil benar-benar tepat,” jelasnya.
Solusi Jangka Panjang untuk Keselamatan dan Konektivitas
Kajian pembangunan trase baru Kelok 44 menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat mitigasi bencana sekaligus menjaga konektivitas wilayah di Sumatera Barat.
Melalui sinergi antara Kementerian PU, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kabupaten Agam, serta instansi teknis terkait, pemerintah berharap dapat menghadirkan infrastruktur yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Pembangunan trase baru nantinya akan melalui tahapan investigasi geologi, survei detail, pengeboran tanah, penyusunan desain teknis, analisis risiko hingga penyiapan skema pendanaan, sehingga menghasilkan solusi permanen yang mampu melindungi masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.***




