Harga Minyak Dunia Tembus USD 105 per Barel, Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Tajam

Harga Minyak Dunia Tembus USD 105 per Barel, Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Tajam

 

WARTASUNDA – Harga minyak dunia melonjak tajam pada Sabtu, 8 Maret 2026.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate tercatat mencapai USD 105,47 per barel atau naik sekitar 16,03 persen dalam satu hari.

Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Penutupan jalur energi strategis tersebut mengganggu pengiriman minyak global dan memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak juga didorong oleh kebijakan pemangkasan produksi oleh kelompok produsen minyak OPEC+ di kawasan Timur Tengah.

Dalam satu bulan terakhir, harga minyak mentah bahkan tercatat melonjak sekitar 41,24 persen.


Produksi Timur Tengah Terganggu

Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh gangguan produksi di sejumlah negara produsen utama.

Produksi minyak Irak dilaporkan turun hingga 70 persen di ladang minyak bagian selatan.

Produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 4,3 juta barel per hari kini turun menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari.

Sementara itu, Kuwait mulai mengurangi produksi kilang secara bertahap sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian pasokan.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab juga menyesuaikan produksi minyak lepas pantai akibat meningkatnya risiko keamanan di sekitar wilayah Selat Hormuz.

Harga minyak acuan global Brent crude ikut naik menjadi USD 106,32 per barel.


Selat Hormuz Jadi Jalur Energi Vital

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Diperkirakan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Iran untuk menyerah tanpa syarat dalam konflik yang sedang berlangsung.

Situasi semakin memanas setelah Qatar menyatakan kemungkinan menghentikan produksi energi jika kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz.

Sementara itu, Arab Saudi mulai mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui jalur Laut Merah guna menghindari wilayah konflik.

Pemerintah Amerika Serikat juga menyatakan siap melepaskan cadangan minyak strategis jika pasar energi global mengalami gangguan pasokan yang lebih besar.


Dampak pada Ekonomi Global

Lonjakan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi di berbagai negara, terutama negara pengimpor energi.

Selain itu, volatilitas pasar keuangan juga meningkat, termasuk fluktuasi nilai tukar di beberapa negara Asia seperti Korea Selatan, yang mencapai level tertinggi sejak pandemi COVID-19.

Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat bergerak di kisaran USD 91,56 per barel pada akhir kuartal ini.

Dalam proyeksi 12 bulan ke depan, harga minyak diperkirakan berada di sekitar USD 101,20 per barel.


Pergerakan Harga Energi Global (8 Maret 2026)

Komoditas Harga Kenaikan Harian
Minyak Mentah WTI USD 105,47 16,03%
Brent USD 106,32 14,71%
Bensin USD 3,06 10,62%
Minyak Pemanas USD 4,14 14,37%

Investor global saat ini masih mencermati perkembangan konflik serta kemungkinan negosiasi antara Presiden Donald Trump dan pejabat Iran Abbas Araghchi yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas pasar energi dunia.***

IKLAN KONTEN
728 x 90 atau 336 x 280