
Fakta Konvoi Bendera GAM di Aceh, Diduga Diprovokasi Pihak Asing, Nama Tengku Fajri Disebut
WARTASUNDA β Konvoi bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang terjadi pada 25 Desember 2025 di wilayah Aceh Timur dan Aceh Tamiang diduga kuat merupakan aksi provokasi yang digerakkan pihak dari luar Aceh, bahkan luar negeri.
Aksi tersebut berlangsung di tengah masa tanggap darurat bencana banjir. TNI menghentikan konvoi karena membawa simbol separatis yang dilarang peraturan perundang-undangan.
Namun, pasca-penindakan, beredar narasi menyesatkan di media sosial yang menyudutkan aparat.
Konvoi Dihentikan Sesuai Aturan Hukum
Konvoi yang mengatasnamakan penyaluran bantuan kemanusiaan itu kedapatan membawa bendera Bintang Bulan.
TNI menghentikan kegiatan tersebut berdasarkan ketentuan hukum yang melarang penggunaan simbol gerakan separatis.
Larangan tersebut diatur dalam Pasal 106 dan 107 KUHP, Pasal 24 huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, serta Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2007.
Namun setelah kejadian, muncul konten di media sosial yang menggambarkan seolah-olah TNI menghalangi bantuan dan bertindak represif. Informasi tersebut dinilai tidak sesuai fakta di lapangan.
KPA Sebut Dalang Berasal dari Luar Negeri
Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Jack Libya, menyatakan bahwa pengibaran bendera GAM dalam konvoi tersebut bukan instruksi organisasi.
Ia menyebut aksi tersebut merupakan propaganda pihak tertentu yang berada di luar Aceh. Salah satu nama yang disebut adalah Tengku Fajri.
βNyan bandum propaganda Tgk Fajri yang di lua nanggroe,β ujar Jack Libya dalam sebuah pernyataan video.
Jack Libya menegaskan KPA Pusat tidak pernah mengeluarkan perintah terkait aksi pada 25 Desember 2025.
Ia juga mengimbau masyarakat Aceh untuk tidak mudah terprovokasi, terlebih di tengah situasi bencana.
Senjata Api Ditemukan dalam Konvoi
Dalam penindakan tersebut, aparat menemukan satu pucuk pistol M1911 buatan Amerika Serikat yang dibawa oleh salah satu peserta konvoi.
Senjata tersebut dalam kondisi terkokang dan disertai lima butir peluru aktif.
Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa konvoi tidak semata-mata bermuatan kemanusiaan, melainkan berpotensi mengganggu keamanan.
Seorang pria di wilayah Lhokseumawe telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh kepolisian.
KPA Fokus Kemanusiaan
KPA merupakan organisasi yang dibentuk pasca-Perjanjian Helsinki sebagai wadah mantan kombatan GAM.
Organisasi ini bertujuan menjaga konsolidasi data dan mendorong stabilitas Aceh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jack Libya menegaskan bahwa KPA saat ini berfokus pada solidaritas kemanusiaan dan pemulihan pascabencana, bukan pada pengibaran simbol atau aksi politik yang dapat memicu konflik.
Imbauan kepada Masyarakat
Aksi konvoi yang diduga diprovokasi pihak asing dinilai berpotensi mengganggu proses pemulihan Aceh.
Penyebaran informasi tidak akurat di media sosial juga dikhawatirkan memperkeruh suasana.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, meningkatkan literasi informasi, serta memverifikasi setiap kabar dari sumber resmi.
Fokus utama saat ini adalah penanganan korban bencana dan menjaga stabilitas keamanan di Aceh.
:
Tinggal bilang saja.
Berita Terkait

TNI Bubarkan Provokasi di Tengah Banjir Aceh, Agenda Perusak Hutan Terbongkar
WARTASUNDA β TNI tegas membubarkan provokasi di tengah banjir Aceh. Agenda terselubung perusak...