Tuntutan Pembubaran Banser Bukti Nyata Ada Keterlibatan HTI di Rusuh Papua

Banser Papua. Foto: Istimewa.

Oleh Eko Kuntadhi

Warta Sunda – Menjelang perayaan 17 Agustus kemarin isu penghinaan Somad pada simbol salib meledak. Videonya viral. Yang ke-1 kali memposting ialah akun @kajianustadabdulsomad_. Di-share oleh ribuan orang lain, video penghinaan itu menyebar dan mengundang bermacam tanggapan.

Saat ini akun tersebut telah lenyap. Kalau menilik dari nama akunnya dan isi postingan sebelumnya, akun ini terkesan selaku amplifikator seluruh ceramah Somad. Jadi tatkala akun itu memviralkan ceramah Somad mengenai hal salib, ada Citra kesengajaan. Pemilihan waktu yang pas mungkin juga diperhitungkan, mengingat menurut Somad itu ialah ceramahnya 3 tahun lalu.

Apa yang terjadi sesudah itu? Tuntutan pada Somad. Ummat Kristen marah. Dan Somad mengumumkan tidak mau minta maaf.

Saat ada pihak yang bereaksi dan tersinggung dengan pernyataan Somad lalu menuntut secara hukum, ada pihak lain membangun narasi bela ulama. Somad dijadikan simbol membenturkan sentimen Islam-Kristen. Suasana ini sampai sekarang terus disuarakan. Isu agama menyembul ke permukaan.

Itu sebuah potongan fragmen. Ada fragmen lain.

Menjelang 17 Agustus juga, terjadi insiden di asrama maha siswa Papua di Surabaya. Sebab isu soal bendera merah putih, serombongan orang mendatangi asrama itu. Mereka terdiri dari massa FPI dan kubu lain. Korlapnya diketahui bernama Tri Susanti, eks Calon Legislator Gerindra yang gagal.

Dalam insiden itu tidak ada pemukulan, penangkapan atau aksi anarkis. Yang ada cuma geruduk massa ke asrama. Polisipun kabarnya sukses menuntaskan problem dengan tertib. Cuma ada 1 video, berupa umpatan seseorang di depan asrama. “Monyet Anda semua,” begitu katanya.

Nah, 1 umpatan itulah yang lalu digoreng luar biasa. Pernyataan itu dibingkai dalam isu rasisme. Membangkitkan sentimen solidaritas masarakat Papua. Tetapi di Papua sendiri bukan cuma umpatan itu yang dijadikan bahan membakar masarakat. Ceramah Somad yang menghina salib juga disampaikan ke publik Papua. Kita tahu, sebagian besar warga Papua memeluk Kristen atau Katolik, di mana salib Adalah simbol yang disakralkan.

Klop lah. Ketersinggungan agama dan ras jadi bumbu untuk menggerakkan Papua. Lalu demonstrasi dan kerusuhan semarak. Digoreng oleh bermacam pihak. Mulai dari LSM, beberapa elit Papua, sampai gerombolan khilafah.

Coba lihat di media sosial, para pengasong khilafah seperti bersorak sorai menyaksikan keadaan di Papua waktu ini. Mereka mempergunakan Peluang ini untuk mencerca Presiden Jokowi.

Tuntutan itu sebetulnya agak aneh. Banser atau Ansor ialah organisasi di bawah lindungan NU yang paling keras meneriakkan NKRI.

Dilihat dari intensitas dan bergulirnya kondisi, orang normal mudah menyimpulkan bahwa gerakan ini bukan tetiba terjadi. Artinya sebuah umpatan dari video yang beredar gak mungkin dapat jadi satu-satunya pemicu sampai semua Papua bergejolak. Gerakan ini telah diplaningkan amat matang jauh hari sebelumnya. Video itu cuma sekadar sentuhan kecil untuk membuatnya lebih meledak.

Isu Somad dan Papua menyatu dalam sebuah bingkai, merongrong NKRI.

Jadi di wilayah NKRI lain tengah dibangun narasi gesekan agama dengan menggunakan mulut kotor Somad yang menghina salib. Videonya sengaja disebar. Sementara di Papua statemen itu juga dipakai untuk membakar massa bareng video penghinaan rasial. Agak sulit menyaksikan bahwa seluruh masalah ini tidak saling berkait. Ketersambungannya begitu jelas.

Di media sosial para pengasong khilafah dan LSM berlomba untuk memanaskan situasi dengan 2 narasi yang seakan tak sama tapi tujuannya berjumpa: bagaimana gesekan terus terjadi dalam masarakat. Baik di Papua maupun di tempat lain.

Sebuah info menerangkan bahwa pertumbuhan HTI di Papua termasuk yang paling tinggi di Indonesia. Bahkan pada bagian konferensi khilafah internasional utusan dari Indonesia berasal dari Papua. Ini sedikit menerangkan kesalingterkaitan bermacam isu yang ada di Papua sekarang.

Yang paling kentara ialah tuntutan pembubaran Banser (Ansor) jadi bagian butir dari 9 butir tuntutan Papua ke pemerintah Indonesia.

Tuntutan itu sebetulnya agak aneh. Banser atau Ansor ialah organisasi di bawah lindungan NU yang paling keras meneriakkan NKRI. Kiprahnya dalam menjaga NKRI, menjadikan Banser target nomor 1 yang dimusuhi HTI. Nah, tatkala dalam bagian butir tuntutan Papua malah memasukkan tuntutan pembubaran Banser, kita akhirnya tahu, siapa saja yang mengail dalam kisruh Papua.

Itulah yang menerangkan kenapa video ceramah Somad 3 tahun laku baru diviralkan sekarang. Kenapa akun @kajianustadabdulsomad_ yang ke-1 kali menaikkan video tersebut sekarang menghilang. Kenapa massa penyokong Somad dibakar untuk melaksanakan pembelaan pada Somad atas ceramah yang menista agama lain itu. Dan kenapa sekarang ada tuntutan pembubaran Banser di Papua.

Semuanya jelas benderang. Cuma HTI dan gerombolan yang ingin Indonesia cerai berai yang tidak suka pada Banser. Cuma orang yang ingin Indonesia bubar yang meminta pemerintah membubarkan Banser. Jejak Banser selaku organisasi penjaga NKRI telah tercatat semenjak zaman kemerdekaan. Tuntutan pembubarannya cuma cara licik menunggangi Perkara Papua untuk menghancur-leburkan pertahanan NKRI.

Kita akhirnya paham. HTI dan gerombolan radikal telah menyusupkan kakinya di mana-mana. Saat ini mereka bermain dalam isu Papua. Supaya Indonesia tercabik.

Dan saya, tetap bareng Banser. Karena saya hanyalah orang yang mencintai Indonesia. Membela keberadaan Banser ialah wujud kecil dari membela Indonesia. [Warta Sunda/pin]

Eko Kuntadhi, Pegiat Media Sosial. Disadur dari Tagar.Id dengan judul asli ‘Tuntutan Pembubaran Banser Bukti Nyata Ada HTI di Papua’.

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *