Terdakwa Aksi tembak Masjid Selandia Baru Mengakui Tidak Bersalah

WELLINGTON – Pelaku aksi tembak 2 masjid di Christchurch Selandia Baru, Brenton Tarrant, mengakui tidak bersalah atas tudingan tindakan mematikan dan terorisme. Tarrant yang dituduh telah menghabisi 51 jamaah di 2 masjid Christchurch di dakwa dengan 92 dakwaan.

Dalam serbuan yang disiarkan langsung di Facebook, Tarrant yang bersenjatakan senjata semi-otomatis yang menargetkan ummat Islam yang ikut datang sholat Jumat di Christchurch pada 15 Maret, dalam aksi tembak massal terburuk di Selandia Baru.

Muncul di persidangan Pengadilan Tinggi Christchurch melalui tautan audio visual dari penjara dengan keamanan maksimum di Auckland, pria asal Australia itu duduk diam waktu pengacaranya Shane Tait menerangkan kliennya Mempublikasikan tidak bersalah atas semua tudingan.

Sekedar informasi, ini ialah untuk ke-1 kalinya tudingan teroris diusulkan di pengadilan Selandia Baru.

pria yang memproklamirkan sebagai penyokong supremasi kulit putih itu didakwa dengan 51 tudingan tindakan mematikan, 40 percobaan tindakan mematikan dan terlibat dalam tindakan teroris atas kekejaman aksinya yang Dilakukan pada 15 Maret di kota Pulau Selatan.

Hakim Pengadilan Tinggi Cameron Mander menerangkan persidangan akan diawali pada 4 Mei tahun yang akan datang.

“Pengadilan berusaha untuk membawa kasus-kasus kriminal yang serius ke pengadilan dalam waktu 1 tahun (sesudah) penangkapan. Skala dan kompleksitas dari Perkara ini membikin ini menantang,” kata Mander seperti dilansir dari Al Jazeera, Jumat (14/6/2019).

Tarrant telah dikembalikan ke tahanan sampai 16 Agustus waktu sidang pemeriksaan Perkara Diplaningkan.

pria 28 tahun itu berdiri menghadap kamera dari penjara, dengan tanpa ekspresi tetapi sering menyeringai waktu pengacaranya memasukkan pembelaan tidak bersalah atas namanya.

Kisaran 80 anggota perkumpulan Muslim Christchurch duduk di ruang sidang, dengan tenang dan khidmat ikut jalannya sidang. Ada beberapa hentakan kaki pelan waktu permintaan tidak bersalah dimasukkan oleh pengacara Tarrant.

Pada sidang terakhir pada tanggal 5 April lalu, pengadilan telah memerintahkan Tarrant untuk menjalani pemeriksaan mental terlebih dahulu untuk menentukan apakah ia layak untuk diadili.

Baca juga: Hakim Perintahkan Pemeriksaan Mental untuk Teroris Selandia Baru

“Tidak ada problem yang timbul sehubungan dengan kesehatan terdakwa untuk memohon, untuk memperoleh konseling, dan untuk diadili. Sidang kebugaran tidak diperlukan,” kata Hakim Cameron Mander dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan tidak lama sesudah sidang.

Mander melarang outlet berita mengambil foto atau video penampilan Tarrant, walaupun ia menerangkan gambar dari sidang sebelumnya pada bulan April dapat dipakai.

Pemerintah Selandia Baru memperketat undang-undang senjata negara itu sesudah serbuan tersebut dan menerangkan akan meninjau undang-undang yang berhubungan dengan ujaran kebencian.

Pemerintah negara ini juga menyokong usaha internasional untuk memastikan bahwa raksasa media sosial berbuat lebih banyak untuk memerangi ekstremisme di dunia maya.

(ian)

Warta Batavia by alfiani wardah

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *