Tegang, Muncul Ajakan Arab Saudi Boikot Turki

RIYADH – Pihak nasionalis dan media pro-pemerintah Riyadh menyerukan supaya publik Arab Saudi memboikot Turki. Ajakan ini dipicu oleh sikap pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan yang dianggap mengekploitasi Perkara tindakan mematikan jurnalis Jamal Khashoggi untuk kepentingan politik yang akhirnya memantik ketegangan diplomatik.

Saban tahun, ratusan ribu turis Saudi mengunjungi Turki karena iklimnya yang lebih halus, perairannya yang biru kehijauan, dan tempat geografisnya sebagai persimpangan antara Timur dan Barat.

Tetapi Ajakan pemboikotan ke Turki berkemungkinan memukul ekonomi negara yang dipimpin Presiden Erdogan tersebut.

Jangan berangkat ke Turki” dan “Turki tidak aman” hanyalah contoh judul beberapa berita Utama yang muncul dari media-media pro-pemerintah Riyadh dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa pihak, termasuk media Al-Arabiya telah memercikkan warning legal dari Kedutaan Arab Saudi di Ankara perihal meningkatnya Perkara pencurian paspor dan kejahatan kecil.

Ajakan boikot itu membuahkan hasil. Kementerian pariwisata Turki mengabarkan Lawatan wisatawan Arab Saudi turun lebih dari 30 % dalam 5 bulan ke-1 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebuah agen perjalanan di Riyadh untuk AFP, Kamis (11/7/2019), mengakui ada penurunan pemesanan tur ke Turki, walaupun otoritas pariwisata Saudi tidak merespon permintaan komentar.

“Saya peduli dengan keamanan,” kata seorang pemuda Riyadh untuk AFP, yang menerangkan mengapa dia mempertimbangkan untuk menghindari Turki sebagai maksud perjalanan.

Ajakan Boikot

Para masarakat Saudi Ada di antara pembeli dan investor properti top di Turki yang menghabiskan rata-rata USD500 sehari sebagai turis di negara itu. Angka secara signifikan lebih tinggi daripada pengunjung Eropa. Data ini Ialah hasil studi tahun 2018 oleh Riyadh’s King Faisal Center for Research and Islamic Studies.

Ajakan boikot ke Turki tidak terbatas pada pariwisata. Sebuah video terkait sentimen Perkara tindakan mematikan Khashoggi memperlihatkan gubernur berpengaruh Riyadh, Faisal bin Bandar, Tidak mau tawaran kopi Turki. Video yang menyebar di media sosial itu ikut memicu Ajakan pemboikotan ke produk-produk Turki.

Ajlan al-Ajlan, Ketua Kamar Dagang dan Industri Riyadh, bersuara amat keras.

“Tatkala kepemimpinan Turki dan (Presiden Recep Tayyip) Erdogan meneruskan permusuhan mereka dan menargetkan kepemimpinan kerajaan, kami menyerukan lebih dari sebelumnya untuk memboikot mereka di semua bidang—impor, tenaga kerja dan hal-hal yang berurusan dengan perusahaan-perusahaan Turki,” tulis Ajlan di Twitter bulan lalu.

Pejabat Turki ialah yang ke-1 mengabarkan tindakan mematikan Khashoggi dan terus menekan Riyadh untuk mengungkap informasi Soal hal keberadaan jasad jurnalis yang dimutilasi tersebut.

Bocoran informasi dari Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat menyebut tindakan mematikan itu Disangka diperintahkan oleh Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman. Tetapi, Arab Saudi menyangkal keras tudingan tersebut.

Bulan lalu, Pangeran Mohammed—pewaris takhta paling kuat di dunia Arab—Memperingatkan supaya jangan mengeksploitasi Perkara tindakan mematikan untuk keuntungan politik. warning putra Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini dipercayai Ialah serbuan terselubung ke Erdogan.

Bahkan sebelum tindakan mematikan itu terjadi, Riyadh mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Ankara yang jadi penyokong Utama Qatar dan dituduh menyokong kelompok-kelompok Islamis termasuk Ikhwanul Muslimin. Sekadar diketahui, Arab Saudi dan sekutu Arabnya telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar karena negara kecil di Teluk itu dianggap menyokong terorisme walaupun Doha membantahnya.

Arab Saudi juga menyaksikan Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman eksistensial. Adapun pemerintah Erdogan dipandang sebagai sekutu pihak tersebut.

(mas)

Warta Batavia by alfiani wardah

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *