Tanggapan Atas Planning Kehadiran UAS di Cirebon

Abdul Somad. (Foto: istimewa)

Oleh Mamang M Haerudin (Aa)

Warta Sunda – Waktu tengah mecatat catatan harian ini, saya tengah Ada dalam perjalanan ke Stasiun Gambir, Jakarta, dari Stasiun Kejaksan, Cirebon. Perjalanan berlanjut ke Bandara Soekarno Hatta lalu nanti sore insya Allah akan Sampai di Banda Kuala Lumpur, Malaysia. Saya berbarengan kyai dan beberapa Sahabat akan Ada di Malaysia, selama lebih kurang 10 hari. Buat apalagi jikalau bukan buat jihad fi sabilillah. Hehe. Jikalau ada Peluang dan akses yang baik, saban harinya insya Allah saya akan menuliskan pengalaman dalam bentuk catatan harian seperti biasa. Nah pagi ini, saya sengaja ingin menyampaikan pesan untuk masyarakat Cirebon, khususnya masyarakat Nahdliyin atas planning kehadiran Ust Abdul Somad (UAS), pada 22 Agustus 2019 yang akan datang. Karena pada tanggal tersebut saya sendiri tengah tidak ada di Cirebon.

Saya menginginkan kalau masyarakat Nahdliyin di Cirebon tidak Penting marah. Kehadiran UAS bahkan Adalah sebuah keniscayaan yang dapat dibilang telat. Saya tidak dapat membayangkan, akan ada berapa ribu jamaah yang datang dalam acara Tabligh Akbar perdana berbarengan UAS, yang rencananya akan dihelat di kampus Universitas Swadaya Gunungjati (UGJ, dulu Unswagati), Cirebon. Bercermin dari pengalaman sebelumnya, kajian agama Ust Hanan Attaki disambut luar biasa. Akan tetapi dulu kajian agama Ust Bachtiar Nasir digagalkan dan lalu diganti oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, sebab apalagi jikalau bukan sebab desakan masyarakat Nahdliyin. Ust Bachtiar Nasir ditengarai jadi bagian dalang gerakan radikalisme di Indonesia. Selaku figur publik agama yang getol mengampanyekan penegakan Khilafah Islamiyah. UBN, UAS, UHA dan Ust serupanya sungguh Ada dalam 1 gerbong, dengan lokomotif Inti penegakan syariat Islam atau Khilafah Islamiyah.

Saya juga menginginkan para kyai di PCNU Kota dan Kabupaten Cirebon dapat merespon terkait dengan kehadiran UAS ke Cirebon. Sambut dengan baik dan pastikan UAS tetap berceramah dalam konteks NKRI. Para kyai di 2 PCNU tersebut dapat dengan leluasa meminta supaya UAS menekankan bahwa dirinya mencintai NKRI dan tidak menghendaki penegakan Khilafah versi HTI, FPI dan versi manapun. Para kyai juga dapat melaksanakan pernyataan pers di depan seluruh media lokal bahkan nasional, supaya ini dapat jadi teladan untuk daerah-daerah lain. UAS boleh menyampaikan ceramah, tetapi lebih dahulu dengan penyampaian ceramah bagian dari 2 Rais Syuriah PCNU di Cirebon. Saya menginginkan oleh Dr. KH. Wawan Arwani Amin.

Saya percaya dengan begitu, kemungkinan jamaah yang membludak akan amat efektif untuk dipakai selaku fasilitas edukasi jamaah berkenaan dengan dakwah Islam rahmatan lil’alamin, dakwah Islam Nusantara, dakwah Ahlus sunah wal jemaah An-Nahdliyah. Saya juga berpesan supaya sahabat-sahabat Banser Kabupaten dan Kota Cirebon untuk berkoordinasi dengan GP Ansor dan Banser pusat. Seluruh ini dilaksanakan supaya Cirebon tetap damai dan bersatu. UAS bahkan Direncanakan akan berduet dengan Buya Yahya, salah seorang pendatang yang sudah dinilai ulama dan mempunyai jamaah fanatik yang banyak.

UAS sungguh fenomena. Ia viral sesudah ceramahnya menyebar di media sosial. Dan momen itu ditangkap dengan amat baik oleh teman-teman hijrah. UAS lalu dijadikan “maha guru”, bukan cuma sebab cakap dalam menyampaikan ceramah, melainkan juga pandai dalam kajian keislaman yang sumbernya dari bermacam kitab kuning. Dalam hal ini UAS sungguh tidak diragukan lagi. Bahkan UAS sendiri pernah jadi pengurus Lembaga Bahtsul Mahasail PWNU Riau. Cuma saja UAS terjebak euforia sebab sambutan luar biasa dari para fansnya, teman-teman hijrah. Sehingga sesudah viral itu, UAS telah tidak lagi membawa bendera NU. UAS merasa dirinya tidak mewakili atau lebih besar daripada NU.

Pucuk dicinta ulam Sampai. UAS bergaul dan diagung-agungkan oleh para pengusung khilafah. UAS pun kian kehilangan kendali. Banyak sekali ucapan-ucapannya yang offside. Videonya yang beberapa hari ini kembali viral, berisi ceramah yang full dengan kekonyolan. Membercandai dan merendahkan agama lain dan simbol-simbol yang sebetulnya tidak Penting diulas. Hal ini layak disayangkan. Sehingga akibatnya akan mencederai persatuan dan perbedaan di antara kita selaku masyarakat bangsa. Andaikan kata pepatah: mulutmu harimaumu. Lidah tidak bertulang. Ceramah untuk ceramahnya yang mudah dicerna itu malah melukai saudara-saudara kita yang tak sama. Saya pikir kita wajib Memperingatkan UAS.

Dalam konteks inilah saya ingin berpesan untuk yang kesekian kalinya. Bahwa sekalipun UAS mengujar kebencian, kita tidak Penting membalasnya dengan ucapan kebencian yang serupa. Kita: para ulama, warganet dan siapapun supaya berbarengan menyampaikan pengingat ini ke UAS. Supaya UAS kian hati-hati, tidak lagi terjebak euforia popularitas, dan tidak mengungkit SARA. Sayang sekali jikalau lalu UAS jadi pemicu disintegrasi ummat dan masyarakat bangsa. Kita yang Ada di Cirebon, memperoleh momentumnya. Apabila tidak aral merintang, UAS akan dipastikan datang menyapa dan menyampaikan ceramahnya di depan banyak jamaah. Inilah momen pas untuk kita, khususnya para ulama NU untuk Memperingatkan UAS.

Bagaimana pun UAS kadung dekat dan dipuja-puja teman-teman hijrah. Sementara kita tahu, teman-teman hijrah itu begitu lekat dengan formalisme syariat Islam dan politik identitas. Puncaknya UAS juga dekat dengan Habib Rizieq Shihab. HRS sungguh berpengaruh sekali di depan teman-teman hijrah. Fatwanya dinanti-nanti dan kepulangannya ke Indonesia tengah dirindukan. Bagi mereka, apapun yang keluar dari mulut HRS semuanya kebenaran. Bahkan HRS mencaci-maki dan melaksanakan ucapan kebencian di banyak Peluang ceramahnya. Jadilah UAS dan HRS corong keislaman dan bahkan arah politik teman-teman hijrah. Dalam konteks inilah pesan saya, saya sampaikan supaya kita tetap menjaga NKRI. Jangan biarkan siapapun atas nama apapun mengganggu NKRI. Wallaahu a’lam. [Warta Sunda/gg]

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *