Selama 14 Tahun Menjabat Qodhi, Tidak Ada Yang Hadir Mengadu

Selama 14 tahun menjabat qodhi, tidak ada yang Hadir mengadu. Foto: istimewa

Warta Sunda – Al-Habib Umar bin Hafizh bercerita: Dahulu ada seseorang memegang jabatan qodhi (hakim) di Syibam. Selama puluhan tahun tidak ada seorang pun yang Hadir mengadu kepadanya. “Kenapa diantara Anda semua tidak ada yang berkelahi, tidak ada yang bersengketa,” keluhnya suatu hari ke warga kota.

“Penghuni kota ini 1 dengan lainnya sudah didamaikan Quran,” jawab mereka,
“Sesiapa saja memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (QS Asy-Syuraa, 42:40). Mereka tidak butuh kau. Apa yang hendak kamu hakimi kalau mereka sudah bersatu.”

Baca: Kenikmatan Spesial Orang Mukmin Menyaksikan Allah di Akhirat

Ia cuma duduk bengong saban hari. Penampilannya seorang hakim, tetapi perbuatannya seperti penganggur. Saban hari ia masuk kantor, meski tidak ada seorang pun mengunjunginya.
seusai 14 tahun, Hadir 2 orang menemuinya.

“Ada apa?” tanya pak hakim.
“Kami ada problem,” jawab salah seorang tamunya.
“Alhamdulillah, selamat Hadir, selamat Hadir, selama bertahun-tahun saya merindukan kejadian ini. Kemarilah, duduklah, saya akan bertindak adil ke Anda semua.”

Sang hakim bersiap-siap hendak memamerkan seluruh ilmunya, sebab ini ialah Perkara ke-1 yang akan ia adili selama 14 tahun masa bakti.

“Nah, ceritakanlah persoalanmu!”
“Saya berbelanja sebidang tanah dari orang ini. Dalam tanah itu ternyata ada harta karun emas. Pada harta itu Ada tanda-tanda bahwa harta itu dari masa sebelum Islam yang artinya bahwa harta itu ialah rikaz.”
“Benar,” kata pak hakim.
“Jika itu harta rikaz, maka telah semestinya jadi milik pemilik tanah ke-1. Saya lalu mendatanginya dengan membawa harta itu. Kukatakan kepadanya bahwa seluruh emas itu ialah miliknya. Akan tetapi, ia tidak mau menerima. Katanya ia sudah menjual tanah itu kepadaku.”
“Aneh…, inikah pengaduanmu? Sekarang jawablah!” perintah pak hakim ke tamunya yang lain.

Al Habib Umar bin Hafidz Hadramaut

“Pak Hakim yang mulia, tanah itu berikut isinya sudah kujual, jadi saya tidak berhak lagi atas harta itu. Sewaktu menjual saya tidak berkata, ‘Kujual tanah ini tidak termasuk harta karunnya.’ Harta itu tersimpan dalam tanah yang sudah kujual, maka telah selayaknya harta itu jadi milik si pembeli tanah.”
“Sungguh aneh…, inikah jawabmu?”
“Ya.”
“Bagaimana pandangan Anda semua sekarang?”
“Pak hakim yang mulia, engkau mengetahui syariat-syariat Allah. Ambillah harta ini dan gunakanlah,” kata mereka berdua.
“Anda semua hendak menyelamatkan diri dan membinasakan pak hakimmu, ya?! Tidak dapat begitu!”
“Jika begitu adililah kami.”
“Sabaaar…, bersabarlah…, kau punya anak?”
“Ya, saya punya seorang puteri.”
“Kau?”
“Saya punya seorang putera.”
“Baiklah, keluarkanlah 1/5 harta tersebut selaku zakat sebab itu ialah harta rikaz. Lalu gunakanlah 4/5 sisanya untuk perkawinan putra-putri Anda semua. Sekarang pergilah Anda semua dari tempatku ini.”

Menakjubkan! Perhatikanlah pengaduan, pembelaan dan keputusan pak hakim. Subhanallah, Rasulullah Sawpernah menceritakan kejadian serupa yang dialami Bani Israil. Akan tetapi pada ummat Muhammad SAW kejadiannya lebih menakjubkan lagi. Tiada keutamaan yang dialami ummat terdahulu, kecuali dialami pula oleh ummat ini, bahkan lebih menakjubkan lagi.

Segala puji syukur bagi Allah yang sudah memberikan kemuliaan ini. Insyaa Allah kita dapat jadi orang-orang yang saling mencintai sebab Allah, orang-orang yang bersaudara sebab Allah. Semoga kebaikan ini tersebar di antara Anda semua.

Baca: Amalan Supaya Rasulullah Saw Datang Waktu Diambilnya Ruh

Ketahuilah, tiada yang lebih agung bagi Anda semua dari thoriqoh orang-orang mulia itu. Semoga Allah menghubungkan Anda semua dengan mereka dalam ikatan cinta, dan mengumpulkan kita ke dalam kubu mereka. Wal afwu minkum. [dutaislam/ka]

Ustadz Muhammad Husein Al Habsyi

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *