Perjalanan Hidup Mbah Moen: dari Lahir sampai Wafat

Pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH. Maemoen Zubair (1928-2019). Foto: Istimewa.

Warta Sunda – Kyai H. Maimoen Zubair atau Mbah Moen ialah putra ke-1 dari pasangan Kyai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Lahir pada hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H bersesuaian tanggal 28 Oktober 1928 di Desa Karang Mangu Kecamatan Sarang, Jawa Tengah.

Baca: Ini Pesan Terakhir Mbah Moen Ke Cucu Mbah Hasyim Asy’ari

Nyai Mahmudah, putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian. Adapun Kyai Zubair Adalah murid kinasih Syeikh Sa’id Al-Yamani serta Syeikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Secara genealogi keilmuan, Mbah Zubair Adalah ulama yang cukup dihormati.

Kematangan ilmu KH Maimoen Zubair tidak ada satupun yang meragukan. Karena, semenjak balita ia telah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya.

Baca juga: Mbah Moen: Kebangkitan Peradaban Islam Akan Muncul Hadir dari Indonesia

Kecerdasan dan daya ingat Mbah Moen amat luar biasa yang membawanya ke pribadi yang dewasa. Bahkan sampai usia ke 91 tahun daya ingatnya masih segar.

Pada usia kisaran 17 tahun, Mbah Moen telah hafal di luar kepala nadzam Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl.

Seiring pula dengan kepiawaiannya membalah kitab-kitab fiqih madzhab Asy-Syafi’i, semisal Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, dan beberapa kitab kategori lainnya.

Pada tahun kemerdekaan, Mbah Moen memulai pengembaraannya untuk ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH Abdul Karim atau terkenal dengan sebutan Mbah Manaf.

Baca juga: Pesan Mbah Moen Supaya Berpegang ke Habib Luthfi

Kecuali ke Mbah Manaf, Kyai Maimoen juga menimba ilmu agama dari KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi. Di Lirboyo, Mbah Moen nyantri selama kira-kira 5 tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menenggak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, Mbah Moen tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, waktu menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah.

Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, ialah KH Ahmad bin Syu’aib. Tidak cuma 1, seluruh mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama di bidangnya, di antaranya:

– Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
– Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath
– Sayyid Amin Al-Quthbi
– Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani
– Syekh Abdul Qodir Almandily

sesudah 2 tahun lebih dirinya menetap di Makkah Al- Mukarromah, lalu kembali ke tanah air dan masih meneruskan semangatnya untuk ngangsu kaweruh yang tidak pernah surut. Walau telah dari Arab, Mbah Moen masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar ke Ulama-ulama besar tanah Jawa yang ada kala itu.

Baca juga: Legitimasi Seorang Kristen Soal Sosok Mbah Moen

Mbah Moen nikah pada usia 25 tahun, sesudah nikah sosok yang dikenal amat sederhana itu jadi Kepala Pasar Sarang selama 10 tahun.  Mbah Moen  ialah orang yang lahir dari gesekan permata dan intan.

Dari ayahnya, Kyai Maimoen meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan.

Akan tetapi dalam pribadi Mbah Moen, seluruh itu seirama dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir Kecamatan Sarang, Rembang tidak membikin sikap Mbah Moen ikut mengeras. Bahkan Mbah Moen memperlihatkan sikap sebaliknya.

Baca juga: 2 Rahasia Mbah Maimoen yang Diungkap Gus Dur

Ke yang lebih muda Mbah Moen memperlihatkan sikap yang sopan. Beliau ialah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Seluruh itu bukanlah kebetulan, karena semenjak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.

Kyai Maimoen muda membuktikan bahwa ilmu tidak mesti menyulap pemiliknya jadi tinggi hati ataupun ekslusif dibandingkan yang lainnya. Pada tahun 1965 Mbah Moen mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama.

Hal itu diiringi dengan berdirinya Pesantren yang Ada di sisi kediamannya. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. 1 dari sekian pesantren yang ada di Sarang. Keharuman nama dan kebesaran beliau telah tidak dapat dibatasi lagi dengan peta geografis.

Baca juga: Nasihat Mbah Maimoen Supaya Menghidupkan Malam Hari Raya

Banyak telah ulama-ulama dan santri yang sukses sebab  ikut nyantri dalam pesantren yang kerap dikunjungi para pejabat di negeri ini.

Mbah Moen dianugerahi 10 putra dari 3 kali pernikahannya. Almarhum nikah 3 kali sebab istri ke-1 dan keduannya meninggal dunia.

Istri ke-1 bernama Ibu Nyai Hj Fahima Baidhowi, yang Adalah putri dari KH Baidhowil Lasem Rembang. Dari pernikahannya, keduannya dikaruniai 2 putra dan 1 putri, masing-masing:

1. KH Abdullah Ubab (Gus Ubab)
2. KH Muhammad Najih (Gus Najih)
3. Ibu Nyai Hajah Shobihah (Neng Shobihah)

Dari istri ke-2, ialah Ibu Nyai Hj Mastiah, Mbah Moen dikaruniai 6 putra dan 1 putri, masing-masing:

1. KH Majid Kamil (Gus Kamil)
2. KH Abdul Goffur (Gus Ghofur)
3. KH Abdul Rouf (Gus Rouf)
4. KH Muhammad Wafi ( Gus Wafi )
5. Ibu Nyai Hj Rodhiah (Neng Yah)
6. KH Taj Yasin (Gus Yasin)
7. KH Muhammad Idror (Gus Idror)

sesudah istri ke-1 dan ke-2 wafat lebih dulu, Mbah Moen kembali nikah dengan istri ketiganya yaitu Ibu Nyai Hj Heni Maryam putri dari bagian ulama dari Kabupaten Kudus. Dari perkawinan ini tidak dikaruniayai nasab.

Dalam hal agama, 10 penerus KH Maimoen Zubair amat mumpuni. Bareng dengan mereka Mbah Moen mengembangkan pondok pesantren  Al Anwar 1, 2,3 dan 4. Pondok Pesantren 1 di asuh KH Maimoen Zubair sendiri sampai dengan sekarang. Pesantren ini berlokasi di Desa Karang Mangu, Kecamatan Sarang.

Baca juga: Mbah Moen: Hitungan Tahun Matahari dan Tahun Rembulan

Adapun Pondok Pesantren Al Anwar 2, 3, dan 4 lokasinya Ada di Dukuh Gondangrejo Desa Kalipang Kecamatang Sarang. Lokasinya berjarak kisaran 5 KM dari Ponpes Al Anwar 1 (Induk).

Yang membedakan pesantren ke empatnya ialah : Al-Anwar 1 murni pendidikan salaf, diasuh oleh KH Maimoen Zubair.  Al-Anwar 2 ada pendidikan salaf dan formal, ada MI, MTs, yang dikelola KH Abdullah Ubab. Berdiri kisaran tahun 2003.

Al-Anwar 3 spesial untuk Sekolah Tinggi STAI yang diasuh oleh KH Abdul Ghofur selaku rektornya. Al-Anwar 4 itu untuk SMK Al-Anwar yang diasuh oleh KH Taj Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah berdiri pada tahun 2016.

Di Pesantren Al-Anwar juga Ada pendidikan Ma’had Aly. Semacam program pendidikan spesial salaf yang disetarakan S1. Program tersebut berjalan semenjak tahun 2005 sampai dengan sekarang.

Waktu ini ada kisaran 10 ribu santriwan-santriwati yang masih mondok di 4 Pondok Pesantren. Sepeninggal Mbah Moen para santri diasuh oleh putra-putra Mbah Moen, sedangkan santri putri diasuh oleh Ibu Nyai Hj Heni Maryam, dan dibantu menantu-menantunya.

Baca juga: Mbah Maimun Muda Menurut Perkiraan Kyai Khas tahun 1950an

Kedelapan putra Mbah Moen semuanya diminta menetap di Sarang Rembang, untuk meneruskan mengelola pondok yang terus mengalami kemajuan. Kecuali ke-2 putrinya. Ibu Nyai Hj Shobihah (Neng Shobihah) di Cirebon nikah dengan KH Musthofa Aqil Siroj adik dari Ketum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siroj, sedangkan Neng Diyah jadi istri dari KH Zairul Anam (Gus Anam) Banyumas, Jawa Tengah.

Perjalanan hidup Mbah Moen ini disarikan dari cerita KH Zainul Umam (Gus Umam). Gus Umam termasuk orang dekat Famili KH Maimoen Zubair. Dia juga pernah mondok selama 9 tahun di Ponpes Al-Anwar dan jadi santri Mbah Moen semenjak tahun 1997 – 2006.

Gus Umam ialah orang yang sering mendampingi Mbah Moen waktu bepergian. Terakhir ia mendampingi Mbah Moen ke Bandara Soekarno Hatta waktu berangkat ke tanah suci untuk berhaji sebelum wafat. [Warta Sunda/pin]

Penjelasan: Disadur sepenuhnya dari NU Online dengan judul asli ‘Perjalanan Hidup KH Maimoen Zubair: Ditempa Keilmuan sebelum Usia Balig’

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *