Perempuan Izadi Pingsan Saat Berjumpa Pemerkosanya “ISIS” dalam Acara TV

BAGHDAD – Seorang perempuan Izadi yang dinilai selaku budak seks oleh ISIS, dipertemukan dengan teroris Daesh dalam sebuah acara di TV Irak. Ia menangis dan menerangkan penderitaannya sebelum pingsan.

Ashwaq Haji Hamid yang berumur 20 tahun waktu ini, dan berumur 14 tahun saat teroris Daesh merebut tanah leluhur Izadi di Sinjar, Irak Utara pada Agustus 2014.

Para penyerbu Takfiri meneruskan untuk membantai ribuan lelaki dan anak kecil Izadi serta menculik gadis-gadis untuk dijadikan budak seks. Ashwaq diculik bersama-sama keluarganya dan dibawa ke Suriah.

Pejabat Kurdi Irak sudah menerima 27 eks tawanan Izadi dari Daesh di Suriah.

“Kami Sampai di Suriah pada tengah malam. Kami kuatir dan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kami dan apakah kami akan dibunuh atau tidak,” katanya dalam sebuah Tanya Jawab dengan stasiun Irak al-Iraqiya.

BacaYazidi: Eropa dan AS Tidak Melaksanakan Apa-apa untuk Menyelamatkan Kami 

“Akan tetapi, kami merasa nyaman bersama-sama – kami hidup bersama-sama atau mati bersama-sama. Tetapi lantas mereka Melepaskan kami 1 sama lain.

“Di Suriah, para teroris Daesh Melepaskan seluruh gadis di atas usia sembilan tahun dari kerabat mereka. Kami dibawa ke Mosul. Kisaran 300 atau 400 perempuan dibawa ke Mosul. Kami tinggal di sana selama 3 hari dan para lelaki Daesh Hadir dan menyaksikan kami. Mereka memberi kami 1 sama lain selaku hadiah atau menjual kami dengan harga murah.”

Baca :
PM Pakistan Diadukan akan Menjumpai Pimpinan Taliban

Ashwaq menceritakan bagaimana member Daesh, Abu Humam, memilihnya dan menarik rambutnya.

“Saya tidak berkeinginan mereka memperkosa kami sebab saya baru berumur 14 tahun. Tetapi mereka menahan kami dengan borgol besi dan memperkosa kami dengan keras,” katanya.

“Dia terus berjanji bahwa dia akan membiarkan saya berangkat tetapi lantas dia memperkosa saya 3 kali sehari dan memukuli saya 3 atau 4 kali sehari. Saya hanyalah seorang anak kecil dan tidak tahu apa-apa.”

Ashwaq tidak menyembunyikan kebenciannya pada penyiksanya, dan menjelaskan dia tidak dalam posisi untuk menghukumnya, dia ingin pemerintah memberikan keadilan bagi mereka yang menderita seperti dirinya.

“Bahkan kalau saya diperbolehkan untuk membunuhnya, saya tidak ingin mengotori tangan saya, tetapi saya menuntut supaya pemerintah melaksanakan yang benar – itu bukan cuma saya, sebab siapa yang tahu berapa banyak gadis Yazidi yang diperkosa sesudah saya.”

BacaISIS Lakukan Kejahatan Seksual Sistematis Kepada Perempuan Izadi

Pihak berwenang memastikan bahwa Ashwaq dapat menyaksikan pemerkosanya dalam sebuah acara TV yang disiarkan di semua Irak.

Baca :
Tel Aviv Ungkap Detil Proyek Jalur Kereta Api Hubungkan Israel-Saudi-UEA

“Abu Humam, lihat ke atas,” katanya ke teroris Daesh yang berdiri di depannya dengan seragam sel kuning, kepalanya tertunduk dan tangannya terikat di depan.

“Kenapa engkau melaksanakan ini padaku? Kenapa? Apakah sebab saya Yazidi? Saya berumur 14 tahun saat Anda memperkosa saya. Lihatlah. Apakah Anda punya perasaan? Apakah Anda punya kehormatan? Saya berumur 14 tahun, setua putri Anda, putra Anda, atau kakak Anda.”

“Engkau menghancur-leburkan hidupku,” lanjutnya, seraya menahan air matanya. “Kau merampok seluruh mimpiku. Saya pernah dipegang oleh Daesh dan Anda, tetapi sekarang Anda akan merasakan arti siksaan dan kesepian. Kalau Anda punya perasaan, Anda tidak akan memperkosa saya saat saya berumur 14 tahun, seusia dengan putra Anda atau putri Anda. “

Hamid lantas pingsan. Sementara teroris Daesh berdiri dan bungkam sejauh acara, cuma tertunduk dan memperlihatkan kesedihan.

TV Al-Iraqiya juga mewawancarai Abu Humam soal perlakuannya kepada Ashwaq, tanpa malu-malu menjelaskan bahwa “dia tidak mau berhubungan, sehingga saya memukulinya supaya dia mau berhubungan.”

Ashwaq juga mengungkapkan bahwa pada tahun lalu Abu Humam melaksanakan perjalanan ke Jerman di mana dia menghentikan eks budak di jalan di Stuttgart, dan menjelaskan dia tahu di mana dia tinggal.

Baca :
Lebanon Ancam Bombardir Bandara Ben Gurion Kalau Perang Meletus

Dia “ingin cepat meninggalkan Jerman” sesudah perjumpaan itu, dengan menjelaskan dia “merasa lebih baik tinggal di kamp pengungsian” di Irak bersama-sama ayahnya.

Bulan lalu, Turki menjelaskan akan menyampaikan member Daesh kembali ke negara asal mereka di Eropa sesudah mereka ditangkap selama serbuan lintas tapal batas.

Diperkirakan setidaknya ada 10.000 orang yang ditahan selaku tersangka teroris Daesh yang dipenjara di timur laut Suriah.

BacaKejahatan ISIS Kepada Gadis-Gadis Yazidi

Pejabat Kurdi menjelaskan bulan lalu nyaris 800 tahanan Daesh sukses menyelamatkan diri dari kamp tahanan sesudah serbuan Turki.

Ekstremis dari semua Eropa berkoalisi dengan Daesh berbondong-bondong pada tahun 2014, saat kubu teror Takfiri meluncurkan kampanye pembunuhan masal di Irak dan Suriah.

Waktu itu, banyak pemimpin Eropa yang melalaikan warning berkali-kali bahwa para anggota milisi dapat pulang ke negara asal mereka dan akan jadi tantangan keamanan yang serius. (WS)

Warta Batavia by alfiani wardah

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *