OKI kritik keras Planning Pembangunan Pemukiman Baru di Jantung Kota Khalil

PELESTINA – Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengutuk planning kontroversial Israel ayang akan membangun pemukiman baru di jantung kota al-Khalil (Hebron), Tepi Barat.

Naftali Bennett, Menhan Israel, menjelaskan pada hari Minggu (1/12/2019) bahwa pemukiman baru akan dibangun di tempat kompleks pasar grosir di al-Khalil.

Di bawah proyek konstruksi, kios-kios pasar lama akan dihancurkan untuk membuka jalan bagi toko-toko baru dan bangunan tempat tinggal.

Waktu ini, kisaran 800 pemukim tinggal di al-Khalil yang dijaga oleh ratusan pasukan Israel. Para pemukim Israel dikelilingi oleh kisaran 200.000 penduduk Palestina.

BacaLatihan Gabungan AL Rusia, Iran, China akan Diawali 27 Desember

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Selasa, Sekretaris Jend. OKI Yusuf bin Ahmed al-Uthaymeen menjelaskan keputusan Israel ialah “pelanggaran mencolok kepada hukum internasional, Komitmen Jenewa dan resolusi PBB serta merusak usaha perdamaian.”

Baca :
Gelombang Panas Melanda Eropa Dampak dari Pemanasan Global

Dia juga mendesak perkumpulan internasional dan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil “tindakan tegas” untuk mengakhiri pelanggaran Tel Aviv.

sebelum ini, Saeb Erekat, sekretaris jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), menjelaskan proyek itu ialah “hasil nyata ke-1 dari keputusan AS yang melegitimasi kolonisasi.”

Erakat mereferensi pada pengumuman Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada bulan lalu, bahwa pembentukan permukiman di Tepi Barat “bukan semata-mata tidak konsisten dengan hukum internasional.”

Kecuali itu, gerakan perlawanan Hamas yang berbasis di Gaza, menjelaskan proyek pemukiman baru itu ialah hasil dari “sokongan Amerika yang meningkat” kepada Israel, dan mengingatkan bahwa itu akan “memperkuat keputusan strategi agresi pendudukan di tanah Palestina.”

Baca :
Janganlah Hobi Melaknat, Walaupun Untuk Non Muslim

Kubu anti-pemukiman Israel Peace Now juga mengutuk planning penyelesaian al-Khlail.

“Untuk mempertahankan keberadaan 800 pemukim di antara seperempat juta penduduk Palestina, semua jalan di Hebron ditutup bagi penduduk Palestina, artinya menghabisi kebebasan bergerak bagi mereka,” katanya dalam sebuah pernyataan.

BacaPBB: 168 Juta Orang Butuh Sokongan di 2020

Lebih dari 600.000 penduduk Israel tinggal di lebih dari 230 permukiman yang dibangun semenjak pendudukan Israel pada tahun 1967 di wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur al-Quds.

Didorong oleh sokongan habis-habisan Presiden AS Donald Trump, Israel sudah menaikkan aktifitas pembangunan permukimannya yang bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334, yang mengumumkan permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur al-Quds “sebuah pelanggaran mencolok di bawah hukum internasional.” (WS)

Warta Batavia by alfiani wardah

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *