Kyai Abbas: Kubu Takfiri Gunakan Al-Qur’an dan Hadis Selaku Tameng

KH Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim. (Foto: Detikcom)

Warta Sunda – Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon KH Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim peringatkan ummat Islam supaya waspada kepada kubu takfiri, hal tersebut disampaikan dalam acara haul ke-45 KH Abdal Adzim bin Mad Nahri di Pesantren Sarongge Desa Cigintung Kecamatan Singajaya, Garut, Jawa Barat, Kamis (03/10/2019).

Dalam tausyiahnya, KH Abbas menerangkan bahwa kubu takfiri bersembunyi dibalik ayat Al-Qur’an dan hadits selaku tameng. Sebab tanpa hal tersebut, mereka tidak akan memperoleh simpati dari masarakat.

“Semenjak zaman Khulafaurrasyidin, kaum takfiri bernyali mengkafir-kafirkan sahabat Nabi, khususnya sayidina Ali RA yang terang termasuk calon ahli surga serta menantu Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Baca :
Panik, FP1 Buat Tagar Bantu Rakyat

Dijelaskan, kaum muslimin pada waktu itu banyak terpengaruh kepada doktrin tersebut, sehingga banyak kaum muslimin yang juga ikut mengkafirkan Sayidina Ali.

“Kubu takfiri gunakan Al-Qur’an dan hadits selaku tameng, khususnya untuk mengambil simpati masarakat. Pada zaman Khulafaur Rasyidin, kaum takfiri doktrin masarakat awam dengan Al-Qur’an dan hadits selaku senjata, sehingga mereka ikut mengkafirkan Sayidina Ali pada waktu itu,” tegas KH Abbas

Kecuali itu, KH Abbas juga ingatkan ke penduduk NU Singajaya supaya jangan sampai tidak suka ulama NU, tidak suka pemerintah, TNI, dan Polri apalagi Banser sebab propaganda kubu takfiri melalui bendera HTI. Sebab sesungguhnya kalimat tauhid diagungkan oleh penduduk NU melalui tahlil yang diucapkan, bukan dituliskan di bendera.

Baca :
Aniaya Pekerja, Putri Raja Salman Akan Diadili di Prancis

“Jangan sampai bapak dan ibu benci kepada ulama NU, benci pada pemerintah, benci pada TNI dan Polri, apalagi pada Banser, sebab mereka ialah penjaga NKRI. Apalagi dengan bendera HTI, sebab sesungguhnya yang mengagungkan kalimat tauhid itu NU, sebab tiap-tiap penduduk NU membaca tahlil waktu wirid dan tahlilan, bukan dituliskan pada bendera,” katanya.

“Jangankan ulama NU, Sayidina Ali RA yang jelas-jelas sahabat nabi dan termasuk Khulafaurrasyidin saja dikafirkan, apalagi ulama zaman now. Jadi kita wajib hati-hati dalam menerima doktrin agama sebab dikhawatirkan berisi radikalisme,” imbuhnya.

Kyai Abbas juga berpesan supaya masarakat masuk ke dalam NU atau kembali ke NU dan memahami NU secara holistik (menyeluruh). Sebab tidak sedikit kyai, santri, dan masarakat yang mengklaim NU, walaupun secara keseharian mengamalkan dzikir, shalawat, qunut, dan lainnya.

Baca :
Serbuan Udara Hantam Pusat Migran Libya, Puluhan Meninggal

“Akan tetapi harakah (gerakan) dan fikrahnya (pemikiran) bertentangan dengan NU. Sehingga Allah akan mencabut keberkahannya dan disatukan dengan pengkhianat,” tutupnya.

Kelihatan dalam acara tersebut Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KH Aceng Abdul Mujib Pengasuh Pesantren Safinatul Faizin Fauzan 2 KH Aceng Abun Sohibul Burhan, Pengasuh Pondok Pesantren Fauzan 1 sekaligus Rais Syuriah MWCNU Sukaresmi KH Aceng Muhammad Ali, Pengurus MWCNU Kecamatan Singajaya.

Datang pula Kapolsek Kecamatan Singajaya Iptu Sahono, Kepala Desa Cigintung Dida, puluhan ajengan, pimpinan pesantren, alumni, dan ratusan masarakat Garut dengan khidmat ikut acara haul sampai akhir. [Warta Sunda/gg]

Source: NU Online

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *