Kemarau Panjang, Bagaimana Hakikat Manusia ?

Kemarau panjang. Foto: istimewa

Oleh: Mukhammad Nur Rokhim


Warta Sunda – Membuka bahasan ini, terlebih penulis sampaikan untuk para pembaca yang budiman untuk sejenak merenung. Siapapun kita marilah kita gagapi perasaan terdalam kita, jikalau dapat gagapilah sampai relung hati terdalam diri kita.

Enam bulan berjalan sesuai siklus musim yang ada di Indonesia dimana kita waktu ini masih Ada di musim kemarau. Kemarau maupun penghujan sesungguhnya ialah suatu kenikmatan bagi manusia. Tetapi, seberapa besar nikmat itu pasti ada ujian di dalamnya dan di tiap ujian pasti ada hikmahnya.

Apakah kita pernah berfikir bahwa bumi itu juga berpuasa? Iya. Tiap-tiap makhluk hidup punya cara puasanya sendiri-sendiri. Pohon yang meranggas, beruang yang hibernasi, ulat yang bermetamorfosis jadi kupu-kupu, unggas yang mengerami telurnya, dan ular yang berganti kulit disadari atau tidak itu ialah bentuk puasa yang diciptakan Allah SWT untuk makhluknya. Lebih wajib lagi ialah manusia yang akal dan nalurinya lebih sempurna. Bahkan, disadari atau tidak alam ini sesungguhnya juga mengamalkan puasa.

Baca: Berkomunikasi Sesui Ajaran Islam

Pernahkah kita berfikir bahwa alam semesta ini berdzikir lebih keras daripada manusia? Bahkan, suara kodok saja diibaratkan selaku suara dzikir. Suara gerakan daun-daun yang tertiup angin mereka juga berdzikir. Gunung dan pepohonan yang diajak Ikut serta oleh Nabi Dawud AS mereka juga berdzikir. Lebih detail, semesta ini tengah dan terus berdzikir.

Kalau Sunan Kalijaga memberikan pelajaran bahwa kelir atau layar wayang kulit itu putih, itulah wujud putihnya semesta. Bumi dan apapun itu hakikatnya tidak mempunyai dosa. Sebab yang menorehkan bayangan pada kelir itu wayangnya. Siapa wayang itu? Manusia. Manusia yang baik dan negatif sama-sama menorehkan jejak hidupnya di dunia ini. Kemudian, bagaimana manusia jadi seorang khalifah di muka bumi sementara bawahannya sibuk berdzikir dan berpuasa kita sibuk berhura-hura dengan sifat dan tabiat yang tidak sewajarnya?

Dulu sebelum Nabi Adam AS diciptakan, Allah SWT sudah menyerukan untuk Malaikat bahwasanya Dia akan menciptakan seorang khalifah (Adam AS). Dan saat amanah itu dijalankan, mungkin ada yang lupa atau terlupa. Lupa bahwa dunia ini ialah titipan Sang Maha Kuasa. Lalu siapa yang disalahkan? Manusia.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُون

Artinya:
Sudah kelihatan kerusakan di darat dan di laut dikarenakan sebab perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan untuk mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Ruum : 41).

Hakikat Manusia menurut Pancasila

Yah, mungkin jikalau alam dapat menyindir dia akan berkata, “kemarau ini Hadir selaku warning untuk engkau. Seberapa besar tingkat ketaqwaan engkau untuk Tuhanmu, seberapa ingat amanah dari Tuhanmu yang dibebankan untuk engkau. Apakah dengan kemarau ini, engkau baru sadar bahwa emas mutiara, harta, pangkat, dan jabatan cuma kalah dengan setetes air saja yang kadang engkau abaikan?”

Pembaca yang budiman,
Mari kita sejenak merenungi diri menyaksikan kondisi bangsa yang kita alami waktu ini. Saling gontok-gontokan dan apatisme kepada alam membikin simetri kehidupan tidak seimbang. Hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam terjadi gonjang-ganjing tidak seirama. Ada apa terjadi dengan negara ini semuanya ialah buah dari apa yang ditanam oleh seluruh yang ada di negara ini.

Kalau alam tengah berdzikir dan berpuasa lantas ada yang mendzalimi dengan membakar hutan dan merusak lingkungan dengan dalih apapun, jangan salahkan kalau Sang Pencipta Alam ini memberikan kritikan melalui alam. Kalau manusia cuma sibuk mencela dan saling menjatuhkan, maka manusia diberikan pelajaran dari rasa lapar dan empati.

Baca: 4 Unsur Memahami Ayat Lingkungan

Puasa bukan cuma sekadar menahan lapar dan haus, tapi puasa dari semuanya. Saat seluruh telah berpuasa, maka itulah hakikat menyatu dengan alam, itulah hablum minal alam. Saat manusia berpuasa dan dianjurkan untuk berlaku sederhana dalam menyikapi musim kemarau, disitulah hablum minannas. Dan saat puasa, dzikir, dan taubat dijalankan disitulah hablum minallah. ujung tertinggi dari puasa, taubat, dan sikap sederhana ada pada ibadah sakral bernama Shalat Istisqa’, maka wajib kita mulai dari sikap prihatin, empati, dan sadar diri akan kekhilafan kita sehingga Insya Allah semoga Allah SWT menurunkan berkah dan rahmatnya dalam hujan. Seimbanglah simetri kehidupan itu sendiri. Wallahu a’lamu bis showab. [dutaislam/ka]

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *