Kelir Pakaian yang Dilike Nabi dan Hukum Berpakaian Merah/Kuning

hukum pakai pakaian warna merah dan kuning

Warta Sunda – Kelir yang dilike Rasulullah Saw., sebagaimana Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menjelaskan ialah kelir putih. “Kelir yang paling dilike oleh Nabi Saw ialah putih.”

Anas bin Malik menyebut, “Kelir yang paling dilike oleh Rasulullah Saw. ialah hijau”.

Suatu kali Rasulullah Saw. pernah menyuruh para sahabat mengenakan pakaian kelir hijau atau putih.

“Pada hari raya kami disuruh menggunakan pakaian berkelir hijau sebab kelir hijau lebih Inti. Adapun kelir hijau ialah afdhal daripada kelir lainnya, sesudah putih”.

Dalam riwayat Ibnu Ady dari Jabir RA, Rasulullah Saw. suatu kali mengenakan serban hitam. “Rasulullah Saw. pernah berpakaian bercorak merah pada 2 hari raya dan pada hari Jumat”.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah Saw. juga menyukai kelir abu-abu. “Suatu kali Nabi Saw. keluar dengan kepala yang dibalut sehelai kain yang berkelir abu-abu”.

Baca: 3 Hal yang Dibenci Rasulullah Saw dari Sifat Orangtua Untuk Anak

Riwayat Imam Bukhari yang lain mengumumkan, sahabat Anas ra. diceritakan pernah menyaksikan Rasulullah Saw. menutup kepala dengan kain kelir dan bercorak.

Pakaian Berkelir Kuning 
Bagaimana hokum mengenakan pakaian kelir kuning? Beberapa hadist sungguh ada yang membicarakan mengenai hal pemanfaatan pakaian berkelir kuning. Banyak ahli hadits menyebutkan indikasi adanya pelarangan berpakaian kelir kuning dari hadits tersebut.

Dari beberapa redaksi hadist yang diriwayatkan mengandung makna bahwa Nabi Muhammad Saw. amat mencela orang yang menggunakan pakaian yang dicelup berwana kuning tersebut, sebagaimana redaksi hadist berikut ini:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا

Artinya:
Bahwasanya ‘Abdullāh bin ‘Amrū bin al-‘Aṣ  berkata: Rasulullah saw., suatu kali menyaksikan saya menggunakan 2 potong pakaian yang dicelup dengan kelir kuning, lalu dia bersabda: “Sesungguhnya ini  (pakaian berkelir kuning) ialah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kau memakainya”. (HR. Muslim, No. 3872).

Padahal, kita ketahui bareng bahwa dalam kaidah fiqih para ulama merumuskan, “hukum asal pakaian ialah mubah (artinya: dibolehkan)”. Allah Swt. berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kau dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

Oleh sebab itu, barangsiapa yang mengakui bahwa pakaian kelir tertentu itu haram ataupun terlarang dikenakan, tentu kurang pas. Apalagi tidak ada dalil teksnya.

3 Kelir Pakaian Laki-laki 
Para ulama berselisih pandangan Soal hukum kelir pakaian laki-laki dalam 3 problem berikut.

  1. Kelir merah polos yang tidak bercampur dengan kelir lainnya. Adapun apabila kelir merah pada pakaian tersebut bercampur dengan kelir lainnya, maka ini dibolehkan.
  2. Kelir yang dicelup dengan ‘ushfur (sejenis tumbuhan dan menghasilkan kelir merah secara dominan). Adapun apabila menghasilkan kelir merah selain dengan ‘ushfur, maka termasuk dalam pembicaraan nomor 1.
  3. Kelir yang dicelup dengan za’faron (sejenis tumbuhan yang menghasilkan kelir kuning). Adapun apabila dicelup dengan kelir kuning dari selain za’faron, misalnya ini dibolehkan berdasar Komitmen para ulama.

Soal larangan mempergunakan pakaian yang dicelup za’faron disebutkan dalam hadits Anas muttafaqun ‘alaih (dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim). Anas berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَتَزَعْفَرَ الرَّجُلُ

Artinya:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah laki-laki mencelup dengan za’faran”. (HR. Bukhari no. 5846 dan Muslim no. 2101).

Baca: Bendera Rasulullah Itu Merah-Putih (Indonesia), Bukan Hitam Putih (Bughot)

Dinukil oleh Al Baihaqi, Imam Imam Syafi’i mengumumkan, “Saya mencegah laki-laki mengenakan pakaian yang dicelup za’faron. Apabila pakaiannya misalnya itu, saya perintahkan untuk dicuci.”

Al-Baihaqi kemudian menjelaskan, “Apabila beliau ikut petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam larangan pakaian yang dicelup za’faron, maka untuk larangan pakaian yang dicelup ‘ushfur lebih pantas untuk diikuti”.

Pelarangan ini terkait pula dengan kondisi sosial warga pada masa Nabi Muhammad Saw. yang full dengan ketimpangan, fanatisme kesukuan, budaya patriarki, monopoli, perampokan dan gaya hidup mewah yang dinikmati oleh para penguasa.

Minuman arak, pakaian sutera kala itu juga didatangkan dari negara lain untuk dinikmati para raja selaku bentuk keperkasaan. Emas dipakai selaku tempat makan serta minum. Mereka punya kultur mencelup pakaian dengan za’faron dan ‘uṣfur yang memberikan efek kelir kuning dan merah pada pakaian.

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ وَعَنْ لِبَاسِ الْقَسِّيِّ وَعَنْ الْقِرَاءَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَعَنْ لِبَاسِ الْمُعَصْفَرِ

Artinya:
Sudah menceritakan ke kami ‘Abd bin Humaid, sudah menceritakan ke kami ‘Abdur Razāq, sudah mengabarkan ke kami Ma’mar dari Az-Zuhri dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain dari ayahnya dari ‘Ali bin Abi  Ṭalib ia berkata, “Rasulullah saw. melarangku menggunakan cincin emas, pakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, membaca al-Qur’an waktu ruku’ dan sujūd, serta pakaian yang di celup kelir kuning.” (HR. Muslim, No. 3876).

Baca: Bos Itali Lecehkan Merah Putih, Karyawan Ini Marah Lalu Mengundurkan Diri

Pakaian Bercorak Merah/Kuning
Soal pakaian yang tidak polos merah ataupun kuning (bercorak dicampur dengan kelir lain), dibolehkan berdasar Komitmen para ulama. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi,

يجوز لبس الثوب الابيض والاحمر والاصفر والاخضر والمخطط وغيرها من ألوان الثياب ولا خلاف في هذا ولا كراهة في شئ منه قال الشافعي والاصحاب وأفضلها البيض

Artinya:
Boleh mempergunakan pakaian yang bergaris merah, kuning, hijau dan kelir pakaian yang bercorak lainnya. Hal ini berdasar Komitmen (ijma’) para ulama. Kelir pakaian yang bercorak semacam itu tidaklah makruh sedikit pun. Inilah yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya. Tapi yang paling afdhal ialah mengenakan pakaian berkelir putih.”

Seperti ini artikel Warta Sunda mengenai hal kelir pakaian yang dilike Rasulullah Saw. serta hukum mengenakan pakaian berkelir merah maupun kuning. [Warta Sunda/ab]

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *