Ini Komentar Kyai Azaim Situbondo Masalah perdebatan Film The Santri

KH Ahmad Azaim Ibrahimy. (Foto: mahadaly-situbondo.ac.id)

Warta Sunda – Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kyai Ahmad Azaim Ibrahimy, ikut memberi tanggapan terkait polemik film The Santri yang trailernya baru-baru ini diluncurkan.

“Ke-1, bahwa kita tidak dapat mengomentari berlebihan jauh soal polemik dalam film tersebut, sebab yang muncul di media cuma trailernya saja. Belum film secara utuh,” kata Kyai Azaim, dikutip dari mahadaly-situbondo.ac.id, Selasa (17/09/2019).

Kyai Azaim juga Menyenggol terkait beberapa adegan yang tayangkan dalam trailer film tersebut.

“Silahkan masuk dalam perdebatan dan dialog, tapi tetap mempergunakan akhlak dan budi pekerti. Ilmu dilawan dengan ilmu, analisis dilawan dengan analisis. Jika mau mengkritik mesti punya hujjah, argumen”, lanjutnya.

Menurut Kyai Azaim, duduk perkara dalam polemik ini ialah soal logika. Dari judul, film ini mempergunakan “The Santri” yang masuk kategori lafadz universal/kulli, dimana meliputi semua santri.

Sementara ada beberapa adegan yang dinilai kurang sesuai dengan tradisi pesantren misalnya, pacaran, adegan santri putra-putri naik delman berbarengan dan lain-lain. Kyai Zaim menilai, orang-orang menduga bahwa hal tersebut ialah tradisi santri sebab dipengaruhi keumuman judul. Bahwa campur baur antara santri putra-putri ialah hal yang lumrah. Lebih-lebih, yang jadi promotor dan inisiator ialah Nahdlatul Ulama.

Kyai Azaim lantas mengumumkan bahwa istilah santri ialah istilah yang sakral dan jadi milik banyak orang Islam di Indonesia.

Kyai Azaim menganjurkan untuk semua pihak supaya dapat menahan diri dan saling menjaga perasaan, terlebih di zaman fitnah seperti hari ini. Dari perdebatan-perdebatan yang terjadi apa telah memberi sumbangsih atau cuma adu urat saraf yang rentan jadi awal dari sebuah permusuhan.

“Mari tolong saling menjaga perasaan, termasuk menjaga perasaan orang banyak supaya tidak terganggu dengan apa yang kita lakukan. Jangan sampai hal-hal remeh seperti ini menghabiskan tenaga, gara-gara film ini sesama santri saling debat kusir dan marah-marah full kecurigaan, eman!. Padahal masih banyak masalah dan perjuangan yang lebih besar yang memerlukan perhatian kita,” ujarnya. [Warta Sunda/gg]

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *