Implementasi Tafsir Al-Qur’an Dengan Pancasila

Penjelasan hubungan pancasila dan al quran. Foto: istimewa

Oleh: Ahmad Muttaqin

Warta Sunda – Telah sepatutnya memahami teks Al-Qur’an wajib mempertimbangkan konteks, baik di mana Al-Qur’an diturunkan maupun ruang di mana Al-Qur’an akan diterapkan. Hal ini meniscayakan untuk tidak buta kepada konteks dan realitas sosial yang dihadapi.

Kenapa seperti ini? Sebuah penafsiran tidak mungkin memberi Pergantian tanpa melibatkan konteks partikular dimana Al-Qur’an akan difungsikan. Saya setuju dengan Farid Esack, pemikir Islam berkebangsaan Afrika Selatan, bahwa penafsiran yang bersifat universal dan bebas nilai hanyalah nonsense. Penafsiran malah akan sukses kalau melibatkan nilai-nilai partikular di mana sang penafsir hidup.

Kalau tidak percaya, cobalah tengok cara Nabi Muhammad memahami Al-Qur’an dalam menuntaskan pelbagai problem yang dihadapi pada waktu dulu. Beliau juga seorang penafsir yang Ada dalam ruang bangsa Arab. Waktu memahami dan mengamalkan nilai Al-Qur’an, beliau tentu amat paham konteks dan keadaan orang Arab dimana Nabi hidup.

Artinya, Nabi dalam menafsirkan dan mengaktualkan Al-Qur’an amat mempertimbangkan konteks dan nilai-nilai lokalitas. Seyogyanya, penafsiran pada konteks ke-Indonesiaan wajib ikut cara Nabi, yaitu melibatkan dan mempertimbangkan konteks, nilai-nilai, kultur, adat-istiadat bangsa Indonesia. Bangsa ini punya sejarah dan nilai-nilai yang penting dipertimbangkan dalam memproduksi pemahaman-pemahaman Al-Qur’an.

Makanya, seseorang yang coba-coba memahami Al-Qur’an tanpa memahami nilai-nilai bangsa Indonesia atau bahkan menutup diri rapat-rapat untuk menyaksikan kultur bangsa Indonesia ialah sesungguhnya tidak ikut cara Nabi mengamalkan Al-Qur’an. Sebaliknya, dia tengah melaksanakan pemaksaan makna kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang ujungnya menjadikan Al-Qur’an tidak lagi membenahi kondisi di segala ruang dan waktu.

Penafsiran semestinya bukan lagi sebatas memahami dan mengelaborasi makna untuk kepuasan keilmuan sang penafsir. Lebih jauh, penafsiran wajib berfungsi menuntaskan masalah dan isu-isu aktual yang terjadi. Makanya pada konteks Indonesia, tugas dan tanggung jawab para akademisi dan pemerhati Al-Qur’an ialah menyajikan penafsiran yang riil menuntaskan problem dan isu-isu aktual yang terjadi di bangsa ini.

Hubungan Pancasila dan Al Quran

Kemudian caranya bagaimana? Penawaran saya ialah Pancasila. Pancasila ialah dasar dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila Adalah ekstrak dari nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia. Selaku Muslim Indonesia, kita memikul dualisme identitas yaitu, selaku Muslim wajib mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan selaku rakyat Indonesia wajib menjunjung tinggi nilai Pancasila selaku pandangan hidup bangsa Indonesia. 

Kita tidak bermaksud menguji ke-Islaman Pancasila dengan menghadirkan ayat-ayat legitimasi sebagaimana yang sudah banyak ditunaikan. Sebaliknya, kita ingin menjelaskan bahwa Pancasila ialah sebuah keniscayaan dasar ideologi bangsa. Dengan begitu, Al-Qur’an selaku sumber ke-1 wajib diaktualkan dengan melibatkan nilai dari sila Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.

Kelima kata kunci dari masing-masing sila ini Adalah konteks dan maksud yang ingin dicapai bangsa Indonesia. Inilah yang dimaksud mendialogkan teks (Al-Qur’an) dan konteks (bangsa Indonesia). Bukan bermaksud menundukkan Al-Qur’an di bawah bayang-bayang Pancasila, tetapi Al-Qur’an tetap jadi sumber Inti sedangkan nilai Pancasila selaku wadah mengaktualkan nilai-nilai Al-Qur’an.

Bagian contoh penafsiran berparadigma Pancasila yaitu Q.S. Ali Miran: 64 “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) untuk kalimatun sawa...”. Kalau berpatokan untuk leksikon bahasa Arab, kata “sawa’un”  dapat artinya membenahi (hasuna), mendamaikan (aslaha) dan merukunkan (waffaqa).

Kalimatun sawa pada konteks Indonesia wajib dipahami dengan paradigma Pancasila. Maka, kalimatun sawa ialah bersama-sama menjunjung tinggi nilai Ketuhanan dengan mengakui bahwa seluruh pemeluk agama, walaupun dengan baju agama yang tak sama mempunyai visi yang sama yaitu ketuhanan, bersama-sama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, menjaga persatuan NKRI, memperjuangkan kesejahteraan rakyat baik sosial maupun ekonomi dan bersama-sama membenahi kualitas pendidikan, pemberantasan kemiskinan dan sebagainya, selaku ruang untuk melakukan nilai keadilan konteks keindonesiaan. [dutaislam/ka]

Sumber: NU ONLINE,
Ahmad Muttaqin | Alumnus Pondok Pesantren Al-Junaidiyah, Bone

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *