Geneologi Islam Radikal dan Penyebarannya di Indonesia

Penjelasan geneologi Islam radikal (sumber: istimewa)

Oleh: Iin Sholihin

Warta Sunda – Maraknya kubu berideologi transnasional yang berkembang waktu ini dapat jadi ancaman bagi persatuan bangsa Indonesia. Kubu ini senantiasa menggaungkan arabisasi Islam serta menilai pemerintah Indonesia tidak islami. Corak kubu yang seperti ini telah tampak semenjak zaman Nabi Muhammad.

Kyai Said dalam beberapa Peluang pernah menerangkan prihal geneologi Islam radikal dan penyebarannya di Indonesia. Menurut beliau, corak keislaman seperti itu muncul sesudah penaklukan kota Thaif.

Pada waktu itu, ummat Islam memperoleh banyak ghonimah (rampasan perang) seperti unta, kambing, dan harta lainnya. Tetapi pembagian ghonimah oleh Rasulullah sedikit aneh, sebab para sahabat senior tidak diberi bagian apapun. Sebaliknya, ghanimah diberikan untuk sahabat yang baru masuk Islam seperti Abu Sufyan dan al-Bakhtari, padahal mereka telah kaya.

Menyaksikan kejadian itu, seketika Dzul Huwaishir melaksanakan protes untuk Rasul. Ia berkata, “Berbuat adillah wahai Muhammad, jangan membagi semaumu sendiri”. Nabi pun menjawab, “Tidak ada yang lebih adil di muka bumi ini daripada saya, apa yang saya lakukan ialah perintah Allah”.

seusai itu, Huwaishir pun berangkat. Lalu nabi menyampaikan untuk para sahabat bahwa di masa yang akan Hadir akan muncul orang semacam itu. Orang yang hafal al-Quran tapi tidak melewati tenggorokannya, serta dangkal pemahamannya. Imam Nawawi mengambarkan sosok Dzul Huwaishir itu kurus, berjenggot panjang, jidatnya hitam, kepala botak, dan gamisnya di atas mata kaki.

Perkiraan nabi terbukti benar dengan terbunuhunya Ali bin Abi Thalib. Ali dihukumi kafir oleh 1 kubu sebab dituduh tidak mempergunakan hukum Allah. sebelum ini Ali menilai ujaran mereka sungguh benar, tapi tendesius. Ujaran mereka cuma melegitimasi untuk mengkafirkan orang lain. Kubu tersebut ialah Khawarij, kubu yang mempergunakan Al Quran untuk kepentingan yang tidak benar.

sebelum ini, waktu Ali berperang melawan kubu Khawarij di jembatan kota Haruroh, kebanyakan dari mereka sudah terbunuh. Kecuali beberapa orang yang sukses menyelamatkan diri. Diantaranya, ke Bahrain, Afrika Utara dan Oman. Jaringan teroris yang selama ini berkembang di Timur Tengah Adalah anak cucu dari mereka.

Secara lembaga, kubu khawarij telah hilang dari kehidupan masarakat. Tetapi, ideologinya terus berkambang sampai Saat ini dalam wujud bermacam organisasi. Pada tahun 1970-an muncul jema’ah Takfir wal Hijroh di Mesir, dipelopori oleh Umar Syukri Ahmad. Seluruh orang dinilai kafir kecuali mereka yang hijrah. Kubu ini dapat menghabisi orang secara terang-terangan, bagian korbannya ialah Husain al-Dzahabi pengarang Tafsir wal Mufassirun, Yusuf Siba’i, dan Presiden Anwar Sadad.

Di Irak muncul kubu al-Qaeda. Awalnya, kubu ini Adalah bentukan Amerika Serikat untuk membantu Pertempuran melawan Soviet di Irak. Pemuda Islam dibina dan dilatih berperang merakit bom dan kemiliteran. Pasca perang, pemuda Saudi ditarik kembali oleh Raja Fahd kecuali Osama bin laden.

Dalam perjalanannya, al-Qaeda berbalik memerangi Amerika Serikat dan NATO dengan target Inti camp mereka. Pemuda Islam Indonesia yang ikut pelatihan itu di antaranya Amrozi dan Imam Samudra yang direkrut jadi member al-Qaeda lewat Abu Bakar Baasyir di Johor, Malaysia.

seusai itu, muncul ISIS yang dimotori Mus’ab Zarkowi, lelaki bertato masyarakat negara Yordania yang berdomisili di Israel . Pasca Mus’ab meninggal, kepemimpinan diambil alih Ibrahim bin ‘Awan bin Ibrohim al-Badri (Abu Bakar Al Baghdadi). Pada awalnya Amerika Serikat membiarkan kubu ini sebab dianggap menghalangi perjalanan serdadu Iran yang hendak membantu Basyar Asad. Mereka lebih bengis dari kubu al-Qaeda. Mereka tidak cuma menghalalkan menghabisi non muslim, orang Islam yang tidak sejalan dengan mereka pun halal dibunuh, termasuk anak kecil.

Jaringan Islam radikal yang berkembang di Indonesia sampai waktu ini Adalah tangan panjang dari kelompok-kelompok radikal di Timur Tengah.  Selepas kembali ke Indonesia, alumni kubu separatis tersebut mulai melaksanakan gerakan dengan merekrut member baru serta melaksanakan aksi teror di bermacam daerah. Mereka tergabung dalam bermacam golongan, ada di kubu jemaah Takfir wal Hijroh, jema’ah Islamiah, sampai Anshorut Tauhid wad Daulah atau ISIS.

Walaupun baru, penyebaran ISIS di Indonesia nyaris merata di saban kota: Bekasi, Medan, Samarinda, Majalengka, Banten, Aceh, Cianjur dan kota-kota lainnya. Sekarang, kisaran 1.200 warga Indonesia sudah berkoalisi dengan  ISIS. Adapun yang merekrut member ISIS di Indonesia ialah Salim at-Tamimi seorang masyarakat Malang, lebih dikenal dengan sebutan Abu Jandal.

Di era info, penyebaran paham radikal merambah di dunia maya. Waktu ini sudah menjamur situs-situs radikal yang sering mengobarkan antusias jihadis. Tentunya, ini amat berbahaya bagi kehidupan berbangbangsa dan bernegara. Maka, telah selazimnya pemerintah memblokir situs-situs yang menyebarkan konten paham radikal. Bukankah seperti ini? [Warta Sunda/in]

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *