Gencar Kritik Film The Santri, Tetapi Anteng Lihat Film Pesantren & Rock n’ Roll

The Santri dan Pesantren & Rock N Roll. Foto: Istimewa.

Warta Sunda – Film The Santri yang akan tayang perdana pada Oktober 2019 ramai dikritik oleh sekelompok orang. Sejumlah tudingan negatif muncul walaupun film yang diinisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu baru dapat ditonton trailernya.

Bagian dasar yang dijadikan kecaman Film The Santri, sebagaimana baru dapat diterka dari trailernya, adanya seorang santri berpacaran di pesantren. Kecuali itu, adanya adegan seorang santri yang masuk ke geraja dan memberikan tumpeng. Bahkan penceramah sekelas UAS langsung mengeluarkan fatwa haram masuk ke gereja, padahal dalam problem ini, para ulama tak sama pandangan.

Secara umum, kritik dilancarkan sebab Film The Santri dianggap tidak sesuai dengan tradisi pesantren.

Film yang mengangkat tema mengenai hal pesantren sesungguhnya bukan hal baru di jagat per-film-an tanah air. Sebelum The Santri, sebuah Film berjudul Film Pesantren & Rock n’ Roll telah lebih dahulu tayang. Bahkan sinetron yang ditayangkan di SCTV tayang perdana pada 14 Februari 2011 silam.

Kalau dibandingkan dengan Film The Santri, Film Pesantren & Rock n’ Roll tentu amat tidak sesuai dengan tradisi pesantren di Indonesia meningat dalam film tersebut tidak lepas dari adegan percintaan: bagian masalah yang diangkat untuk mengkritik Film The Santri.

Kenapa Film The Santri dikritik dan anteng menyikapi Film Film Pesantren & Rock n’ Roll?

Di sinilah titik permasalah mulai jelas. Apapun yang diinisiasi oleh PBNU akan senantiasa jadi isu yang seksi. NU ialah rumah besar yang sungguh senantiasa jadi sorotan. Para pembenci NU tidak akan pernah tinggal diam dengan kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah NU.

Jangankan NU melaksanakan kekhilafan, sebenar dan sebaik apapun langkah NU akan senantiasa dicari kesalahannya. Kalau tidak menemukan kekhilafan pada NU, distulah fitnah mulai dihembuskan. Kita tentu masing ingat sederet fitnah ke NU. Yang teranyar dan masih segar dalam ingatan tatkala ada tuntutan pada Banser NU untuk dibubarkan terkait kerusuhan di Papua.

Sampai sekarang tidak pernah ada bukti bahwa Banser NU ialah biang kerusuhan di Papua. Fitnah yang berlebihan mengada-ngada dan amat murahan.

Seperti ini juga dengan Film The Santri yang jikalau kita lihat secara sekilas mempunyai antusias mengusung toleransi antar ummat bermacam. Adanya adegan santri yang berpacaran di pesantren tentu tidak dalam rangka membawa misi supaya santri berpacaran tatkala di pesantren. Adegan itu tentu cuma selaku bumbu cerita lebih menarik.

Kita seluruh juga tahu bahwa nyaris seluruh film, baik yang tayang di bioskop maupun di televisi, tidak lepas dari cerita percintaan antara laki-laki dan wanita. Dan mesti diakui bahwa kita sudah jadi penikmatnya. Walaupun begitu, kita tidak serta merta menjadikan cerita selaku ajaran layaknya dakwah agama yang mesti diikuti. Dan kita jadi orang yang maklum bahwa itu hanyalah film. Adapun para pengkritik The Santri kelihatan anteng sebab film itu tidak ada hubungan dengan PBNU.

Sekali lagi, mengapa cuma Film The Santri yang dipermasahlahan? Titik persoalannya kembali lagi pada yang membikin film itu. Jangankan membikin film yang bernuasa santri atau keagamaan, andai NU buat film sejenis komedi pun tidak akan lepas dari kecaman dan dinilai penyesatan kepada ummat. Dan mereka para penghujat, pengecam, pemboikot, dan pengkritik itu tidak lain ialah bagian dari gerombolan orang-orang itu saja. Jikalau tidak percaya, silahkan lihat sendiri tampang-tampangnya. [Warta Sunda/pin]

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *