Dorong Petani Ubah ‘Mindset’, Presiden Presiden Jokowi: Swasembada Pangan Tidak Dapat Instan

Presiden Jokowi (Presiden Jokowi) menyampaikan, walaupun 4,5 tahun sekarang pemerintah berkonsentrasi dan fokus pada pembangunan infrastruktur, termasuk di antaranya berupa jalan-jalan produksi ke ke kebun, ke ke sawah lewat anggaran biaya desa, tetapi swasembada pangan tidak dapat ditunaikan secara instan.

“Jika orang berharap langsung dapat swasembada, dapat langsung ketahanan kita meloncat baik, kedaulatan pangan kita langsung sehari- 2 hari balikkan tangan jadi, tidak akan mungkin seperti itu. Penting proses, Penting tahapan-tahapan,” kata Presiden Presiden Jokowi waktu memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Koordinasi dan Dialog Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), di Istana Negara, Jakarta, Selasa (19/3) sore.

Presiden Presiden Jokowi memberi contoh waktu 2014 mengunjungi ke Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk melaksanakan panen raya jagung. Yang terjadi di sana, walaupun jagungnya bagus-bagus, ia bahkan dimarahi para petani sebab harga jagung waktu itu bahkan jatuh pada harga Rp1.400-Rp1.600 per kg, sementara ongkos produksi mencapai Rp1.800/kg.

“Jika sungguh produksi per hektarnya bagus tetapi harganya jatuh untuk apa,” ungkap Presiden.

seusai melaksanakan pengecekan, menurut Presiden, jatuhnya harga jagung waktu itu sebab impornya gede banget, nyaris 3,6 juta ton. Sebab itu, Presiden kemudian mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) yang menetapkan Harga Pokok Penjualan (HPP) jagung waktu itu jadi Rp2.700/kg, dengan harapan dengan harga itu petani telah untung, dimanapun sebab kita ambil rata-rata di seluruh daerah.

Tapi Presiden justri kaget sebab harga bahkan dapat di atas Rp3.000, di atas Rp3.500, bahkan pernah di atas Rp4.000, di atas Rp5.000. Sebab impor jagungnya oleh Menteri Pertanian langsung direm total. “Data yang saya punyai, di 2018 kemarin impor kita cuma 180.000 ton. sebelum ini 3, nyaris 3,6 juta ton,” ujarnya.

Artinya apa? Menurut Presiden Presiden Jokowi, produksi petani itu kian melonjak naik sebab sungguh harganya memungkinkan petani untuk dapat keuntungan. sebelum ini Rp1.600, siapa yang mau nanam jika cuma untuk rugi. Akhirnya, pemerintah impor.

“Namun seperti ini memerlukan proses,” tegas Presiden Presiden Jokowi sambil menyampaikan harapannya, supaya proses treatment pada jagung ini juga dapat ditunaikan pada komoditas-komoditas yang lainnya, khususnya yang banyak kita impor.

Tapi Presiden Memperingatkan, bahwa sampai 2011 awal kita baru mempunyai 235 waduk, atau cuma dapat mengairi 11 % sawah dan kebun. Jika ditambah dengan selesainya pembangunan 65 waduk baru tahun sekarang, menurut Presiden, cuma akan menambah suplai air jadi 20 %.

“Masih jauh sekali kita ini. Jadi jangan membayangkan ketahanan pangan, kedaulatan pangan, swasembada jika ini belum tertuntaskan. Ini urusan waduk lho. Dan kita mesti bernyali ini, mesti bernyali investasi di sini,” kata Kepala Negara.

Ubah ‘Mindset’

Dalam Peluang itu Presiden Presiden Jokowi mengajak para petani untuk merubah mindset, merubah pola pikir bahwa keuntungan di pertanian juga di perkebunan yang paling besar itu bahkan di paska panennya. Diproses penggilingannya jika padi misalnya, di porses packaging-nya, kemasannya. Lalu diproses menjualnya untuk ke pasar.

Untuk itu, Kepal Negara mengajak para petani yang tergabung dalam HKTI  supaya mulai berpikir ke paska panennya, misalnya, RMU, rice milling unit beserta semua perangkat kemasan, membikin merek labelnya, namanya. Sehingga packaging itu betul-betul selaku sebuah produk yang sungguh patut untuk langsung dipasarkan di hipermarket, di supermarket, di minimarket.

“Ini saya lihat mulai, telah mulai di dalam 4 tahun sekarang mulai kita arahkan ke sana. Dan sungguh perbankan ini mesti berperan,” ungkap Kepala Negara.

Problemnya sekarang, lanjut Presiden, pembelian RMU untuk kemasan, dryer, itu sungguh Penting sokongan dari perbankan. Ia meminta supaya bank-bank negara seperti BRI, Mandiri, BTN, dan BNI memberikan supportsebanyak-banyaknya sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Tapi Presiden Presiden Jokowi juga memotivasi para petani untuk mengkoorporasikan. “Jadi petani itu membikin korporasi, bukan koperasi, korporasi. Isinya dapat koperasi, dapat kelompok-kelompok tani tapi dalam hitungan total yang besar. Lalu ambil RMU, dryer, packaging semuanya ada, berikan ke bank. Telah, suruh biayai. Balik itu dalam 2-3 tahun,” kata Presiden sambil menambahkan, korporasi itu mesti dikelola dengan manajemen yang bagus.

Tampak datang dalam Peluang itu di antaranya Mensesneg Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Ketua Badan Pertimbangan HKTI Oesman Sapta, dan barisan pengurus HKTI. [setkab.go.id]

Source link

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *