Demit dan Tuhan Dikelabuhi Pentholan PKS Untuk Kue Kekuasaan

Oleh Sumanto Al-Qurtuby

Warta Sunda – Apakah Anda merasa kasihan dengan PKS? Jika saya sebetulnya kasihan sekali dengan para elit politik PKS khususnya yang di tingkat pusat/nasional. Jika yang di daerah-daerah saya lihat amat beraneka ragam dan cukup dinamis dalam ikut “irama-gendang” sosial-politik lokal.

Kasihan sebab, bagaimana tidak, semenjak “pengsiun” dari kekuasaan/pemerintah, PKS jungkir-balik melaksanakan bermacam-macam cara, termasuk cara-cara kotor dan full tipu-muslihat, cuma sebab “ngences” ingin kembali menikmati “bakpao kekuasaan” yang mlenuk dan empuk itu.

Selama 10 tahun (2004-2014), semenjak SBY menang Pemilihan presiden tahun 2004, PKS menikmati lezatnya “bakpao kekuasaan” itu. Beberapa pentolan dan pentilan kader PKS menduduki bermacam jabatan penting dan empuk di kementerian dan pemerintahan, baik selaku menteri, dirjen, direktur, staf, maupun “pekatik” lain. PKS pun, kala itu, berpesta pora.

Baca: Gerakan Pemuda Ka’bah (GKP), Lowo Ijo PPP Garis Keras Radikal

Sementara SBY klemar-klemer dan ingah-ingih kayak tempe gembus bosok, tidak sanggup menindak bawahannya dari PKS yang tidak becus bekerja dan cuma pandai membaca mantra doa. Menyaksikan SBY yang ingah-ingih, PKS makin merajalela dan menggurita bak lalat-lalat yang mengerumuni si kerbau tua. Di masa SBY-lah, PKS “meng-Indonesia”.

Tatkala SBY tidak dapat lagi nyapres tahun 2014, PKS kembali mencoba keberuntungan dengan “ngupil” atau menyokong Prabowo. Namun kali ini mereka ketiban sial. Prabowo keok. Presiden Jokowi yang menang. Walaupun dikeroyok bermacam parpol, Presiden Jokowi berjaya sebab sokongan massa dan rakyat biasa.

Semenjak Presiden Jokowi terpilih selaku Presiden RI tahun 2014, “bakpao kekuasaan” yang dulu PKS nikmati dengan pesta pora Saat ini “hijrah” ke kader-kader parpol penyokong Presiden Jokowi. Sebab dipangkas dari kekuasaan dan jabatan-jabatan strategis kementerian oleh Presiden Jokowi, PKS pun menangis meraung-raung laksana bayi yang tidak dapat ngemut penthil ibunya.

Semenjak itu, PKS membabi-buta menyerbu Presiden Jokowi pakai ayat dan dalil yang telah mereka pilah-pilih sesuai selera dan kepentingannya. Identitas keagamaan dan keislaman Presiden Jokowi pun ikut diserangnya. Padahal, dalam hal “kualitas keislaman”, Presiden Jokowi tidak beda dengan SBY: sama-sama bukan “santri tulen” tapi dari kalangan “Islam Jawa”.

Baca: Gagal Karim, Terbit Nahdholtul Ummat (NU) for Khilafah.

Namun kenapa mereka sibuk menyerbu dan mempersoalkan keislaman Presiden Jokowi tapi “cangkeme mingkem” jikalau dengan SBY? Ya Anda tahu sendiri jawabannya. Kenapa selama pemerintahan SBY, PKS tidak pernah sepentilpun menyerbu pemerintah dengan ayat dan dalil tetapi gencar sekali melaksanakan penyerbuan di zaman Presiden Jokowi? Ya Anda juga tahu sendiri jawabannya. 

PKS makin mangkel dengan Presiden Jokowi sebab beberapa kali mereka ingin “dipinang” dan “ngupil” dengan Presiden Jokowi tapi dicuekin oleh “wong Solo” ini. Akhirnya, apa boleh buat, mereka pun kembali terpaksa menyokong si “Calon Presiden gagal” yang dulu mereka pernah usung. Terpaksa sebab si cawapres Saat ini bukan dari kader yang mereka idam-idamkan.

Untuk ingin kembali menikmati bakpao kekuasaan itu, PKS melaksanakan bermacam-macam cara tipu daya, bukan cuma menipu manusia saja, demit dan Tuhan pun mereka kelabuhi, misalnya dengan “salat politik” yang amburadul itu.

Mari kita doakan bersama-sama, semoga kader-kader PKS cepat tobat, memperoleh hidayah, dan hijrah ke jalan yang benar. Amiiinnn (tanpa Rais, jikalau Makruf boleh). [Warta Sunda/ab]

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *