Dalam Kitab Mukasyafatul Qulub Mencintai Allah Tidak Cukup Dengan Ibadah

Penjelasan kitab mukasyafatul qulub perihal ibadah. Foto:istimewa

Warta Sunda – Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yang kuat sekali tahajudnya. Nyaris bertahun-tahun dia tidak pernah absen melaksanakan shalat tahajud. Pada suatu tatkala waktu hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu bin Hasyim dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk di bibir sumurnya.

Abu menanyakan, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau ?”.
Seraya tersenyum, sosok itu berkata; “Saya Malaikat utusan Allah” Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga sebab kehadiran tamu Malaikat mulia.
Lalu menanyakan lagi, “Apa yg tengah kau lakukan di sini ?” Malaikat itu menjawab, “Saya disuruh mencari hamba pencinta Allah”.

Baca: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 2, Sikap Tolong Menolong

Menyaksikan Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu menanyakan; “Wahai Malaikat, buku apakah yang kamu bawa ?”
Malaikat menjawab; “Ini ialah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”
Menguping respon Malaikat, Abu bin Hasyim menginginkan dalam hati namanya ada disitu.
Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Senantiasa mengerjakan sholat tahajud saban malam, berdo’a dan bermunajat ke Allâh SWT di sepertiga malam.
“Baiklah, saya buka,” kata Malaikat seraya membuka kitab besarnya. Dan ternyata Malaikat itu tidak menemukan nama Abu di dalamnya.

Tidak percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tidak ada di dalam buku ini !” kata Malaikat.
Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi-jadinya. “Rugi sekali diriku yang senantiasa tegak berdiri di saban malam dalam tahajud dan bermunajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya.

Menyaksikan itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! Bukan saya tidak tahu engkau bangun saban malam tatkala yang lain tidur, mengambil air wudhu dan kedinginan pada waktu orang lain terlelap dalam buaian malam. Namun tanganku dicegah Allâh mecatat namamu.”
“Apakah gerangan yang jadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim.
“Engkau sungguh bermunajat ke Allâh, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana-mana dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan.

Hubungan Allah, Alam dan Manusia

Bagaimana mungkin engkau dapat jadi hamba pecinta Allah jikalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu.
Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah cuma ke Allâh semata (hablum minAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablum min annâs) dan (hablum minal alam).

Jangan bangga dengan banyak shalat,puasa dan zikir sebab itu seluruh belum membikin Allah suka. Mau tahu apa yang membikin Allah suka ???

Nabi Musa: Wahai Allah, saya telah melakukan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membikin Engkau suka ?
Allah : Shalat ? Shalat mu itu untukmu sendiri, sebab dengan mengerjakan shalat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikir ? Dzikirmu itu cuma untukmu sendiri, membikin hatimu jadi tenang. Puasa ? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa : Lalu apa  yang membikin hati-Mu suka Ya Allah ?
Allah : Sedekah, infaq, zakat serta perbuatan baikmu. Itulah yang membikin AKU suka, sebab tatkala engkau membahagiakan orang yang tengah susah, AKU datang disampingnya. Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)

Baca: Metafora Imam Al Ghazali: Asyiknya Close Reading Bareng Gus Ulil

Nah, bila kau sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, maka itu tandanya kau cuma mencintai dirimu sendiri, bukan Allah. Namun, bila kamu berbuat baik dan berkorban untuk orang lain, maka itu tandanya kamu mencintai Allah dan tentu Allah suka karenanya. Buatlah Allah suka maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membikin hidupmu lapang dan bahagia. [dutaislam/ka]

(Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali)

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *