Dajjal: Saya Lebih Suka Mendustai dan Ingkar Janji

Dajjal lebih suka dusta dan ingkar janji. Foto: istimewa

Warta Sunda – Dalam sebuah mimbar tabligh, seorang penceramah tampak berapi-api, orasinya garang sekali, ia membedah bahaya televisi yang dapat merusak moral bangsa ini. Ia menyebut televisi ialah agama baru yang dianut oleh orang-orang dungu. Ia juga punya istilah keren, “TV itu Dajjalnya orang modern.”

Mat Sikil yang bingung menyikapi ini cepat Hadir ke saung sang guru, menanyakan separah itukah televisi? Sehingga ia disebut Dajjal?

Baca: Dalam Kitab Mukasyafatul Qulub Mencintai Allah Tidak Cukup Dengan Ibadah

kiai Endas tersenyum ringan lalu berkata, “Kil, engkau datangi saja penceramah itu, main ke rumahnya, anjangsana, silaturahim, sowan ke rumah orang sholeh itu membawa berkah.”

“Inggih Yai.” Jawab Mat Sikil mantap

Seminggu lalu, Mat Sikil kembali berjumpa Sang Guru. “Bagaimana Kil?”
“Saya telah sowan Yai, nganu, penceramah itu rumahnya besar sekali, ternyata dia juga punya TV, bagus sekali, layar datar 53 Inches.”

kiai Endas melantunkan lagu, “zaman wis akhir, zaman wis akhir…”
Kil, Dajal itu bagian dari eskatologi agama. Perbincangannya amat interpretatif, full tafsir. Tetapi selaku simbol kemunkaran di zaman akhir, Dajjal disebutkan selaku lawan dari Al-Masîh yang sesungguhnya.

Mengingkari Janji ialah Sifat

Secara bahasa Dajjal artinya sang pendusta (misalnya berjanji mau jalan kaki jika sumpahnya tidak terbukti lalu diingkari; ini Dajjal secara bahasa).  Orang NU itu Kil, jika berdo’a ada menyebut, “berlindung dari Al-Masîh ad-Dajjâl atau juru selamat yang berdusta.” Artinya ada Al-Masîh yang benar, yang jujur, yang tidak berdusta. Dialah Isa yang secara eskatologis dipercayai akan turun kembali ke bumi untuk melawan Dajjal ini.

Nah, yang aman Kil, maknai saja Dajjal secara simbolik, yaitu sikap dan prilaku yang anti kemaslahatan. Dajjal itu senangnya memprovokasi dan mengajak orang untuk kejahatan. Dajjal itu jahat sekali, sama sekali tidak ada kebaikannya. Televisi itu masih ada kebaikannya walaupun keburukannya juga tidak sedikit, tapi yang pegang remote control kan manusianya. Nda ada TV yang On-Off sendiri, mesti ada yang menyalakan dan mematikan. Jadi, apa dan siapa saja yang masih ada sedikit kebaikannya, mbo ya jangan disebut Dajjal.

Baca: Catatan KH Imam Jazuli: 5 Kritik Nalar Atas Ideologi HTI

“Tetapi kyai, penceramah itu keras sekali menyebut TV selaku Dajjal?”
Kil, dia mungkin berlebihan antusias atau mungkin tengah guyon. Di pentas dunia, banyak orang guyon kil, embuh guyon politik opo politik guyon, waktu ini janji terjun dari monas besok diingkari, waktu ini janji jalan kaki dari Jakarta ke Jogja besok diingkari, janjinya mau ngasih 10 mobil Esemka tapi diingkari. Jika ditagih, kan jawabnya gampang, “lha wong saya cuma guyon.” Pentas selesai. Layar ditutup. Kita tertawa. [dutaislam/ka]

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *