Aqoid 50 Berserta Arti dan Dalilnya Komprehensif

aqoid 50 bahasa jawa dan bahasa sunda
Sifat mustahil bagi Allah Swt (bagian dari Aqoid 50).

Warta SundaAqoid 50 ialah akidah 50 yang tiap-tiap ummat Islam wajib mengetahui dan lebih bagus dapat mneghafalnya, komprehensif dengan arti dan penjelasan dalil aqli (rasio) maupun dalil naqli (qur’an hadist) nya.

Hitungan total aqoid ada 50 sebab terdiri atas:

  1. Sifat wajib bagi Allah Swt. (20)
  2. Sifat mustahil bagi Allah Swt. (20)
  3. Sifat jaiz bagi Allah Swt. (1)
  4. Sifat wajib bagi Rasul Allah Swt. (4)
  5. Sifat mustahil bagi Rasul Allah Swt. (4)
  6. Sifat jaiz bagi Rasul Allah Swt. (1)

50 aqidah (aqo’id) itulah yang lantas dikelompokkan jadi 2 bagian besar dalam Ilmu Tauhid, yaitu:

  1. Aqidah Ilahiyyah (عقيدة الهية) dan
  2. Aqidah Nubuwwiyah (عقيدة نبوية).

Berikut ini ialah rincian aqoid 50 (seket) beserta arti dan dalilnya secara komprehensif, disajikan Warta Sunda ke Anda yang memerlukan ilmu mengenal Allah dan utusan-Nya lebih dekat.

A. Sifat Wajib bagi Allah (20 sifat)

1. Wujud (Ada) – ﻭﺟﻮﺩ

Adanya Allah itu bukan sebab ada yang menciptakan-Nya, tetapi Allah itu ada dengan zat-Nya sendiri.

Dalilnya ada dalam Surat As-Sajdah: 4, berikut ini:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya:
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, lantas Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi engkau selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah engkau tidak memperhatikan?” (QS. As-Sajdah: 4)

2. Qidam (Dahulu/Awal) – ﻗﺪﻡ

Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah selaku Pencipta yang lebih dulu Ada daripada semesta alam (yang Dia ciptakan).

Dalilnya ada dalam Al-Qur’an Surat Al-Hadid ayat 3 yang berbunyi,

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid: 3).

3. Baqa’(Kekal) – ﺑﻘﺎﺀ

Allah Adalah suatu zat yang Abadi dan Kekal Selamanya sebab Allah Swt. bersifat Baqa’ (Kekal).

Dalilnya dapat Anda baca dalam Al-Qur’an surat Qashas ayat 88, yang berbunyi,

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya:
“Janganlah engkau sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan cuma kepada-Nya-lah engkau dikembalikan” (QS. Qashas: 88).

4. Mukhalafatuhu Lilhawadith (tak sama dengan ciptaan-Nya) – ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ

Sifat ini memperlihatkan bahwa Allah Swt. tak sama dengan yang Dia ciptakan, tidak ada hal di dunia ini yang menyerupainya.

Dalilnya, dapat Anda baca dalam ayat di bawah ini:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya:
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi engkau dari kategori engkau sendiri pasangan-pasangan dan dari kategori hewan ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya engkau berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Menguping dan Menyaksikan”. (QS. Asy-Syuro: 11)

5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri) – ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ

Artinya, bahwa Allah Swt. berdiri dengan zat sendiri tanpa memerlukan sokongan yang lain. Maksudnya, keberadaan Allah Swt. itu ada dengan sendirinya tidak ada yang menggelar atau menciptakan. Contohnya, Allah Swt. menciptakan alam semesta ini sebab kehendak sendiri tanpa pertolongan siapapun.

Dalil sifat Allah qiyamuhu binafsihi, bacalah arti Surat Al-Ankabut ini:

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya:
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu ialah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah sungguh-sungguh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Al-Ankabut:6)

6. Wahdaniyyah (Tunggal/Esa) – وحدانية

Artinya bahwa Allah Swt. ialah Tuhan Yang Maha Esa, baik itu Esa zat-Nya, sifat-Nya, maupun perbuatannya. Esa zat-Nya maksudnya zat Allah bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan atau penyatuan 1 unsur dengan unsur yang lain. Esa sifat-Nya artinya seluruh sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah Swt. tidak sama dengan sifat-sifat pada mahluk yang diciptakan Nya. Esa perbuatan-Nya artinya Allah Swt. berbuat sesuatu tidak dicampuri oleh perbuatan mahluk lain dan tanpa memerlukan proses atau waktu. Allah Swt. berbuat sebab kehendak-Nya sendiri tanpa ada yang dapat mencampurinya.

Dalil sifat wahdaniyah Allah Swt. ada dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 22 di bawah ini:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Artinya:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”. (QS. Al Anbiya: 22).

Baca juga: Tembang Aqo’id 50 versi Jawa (Produk Islam Nusantara dari Jepara)

7. Qudrat (Berkuasa) – ﻗﺪﺭﺓ

Kekuasaan Allah Swt., atas segala sesuatu itu mutlak, tidak ada batasnya dan tidak ada yang membatasi, baik kepada zat-Nya sendiri maupun kepada makhluk-Nya. Tak sama dengan kekuasaan manusia ada batasnya dan ada yang membatasi.

Dalil, silakan buka Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 20 di bawah ini,

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
Nyaris-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Saban kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu“. (QS. Al-Baqarah: 20)

8. Iradah (berkehendak) – ﺇﺭﺍﺩﺓ

Artinya, Allah Swt. sudah menciptakan alam semesta beserta isinya atas kehendak-Nya sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Apapun yang Allah Swt. kehendakin pasti akan terjadi.

Dalil sifat iradah Allah Swt. ada dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 107:

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

Artinya:
…mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali kalau Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana kepada apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud: 107)

9. Ilmu (Mengetahui) – ﻋﻠﻢ

Allah Swt. mempunyai pengetahuan dan kepandaian akan segala hal, artinya ilmu Allah tidak terbatas dan tidak pula dibatasi. Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang tampak maupun yang gaib. Bahkan, apa yang dirahasiakan didalam hati manusia sekali pun.

Simak dalil sifat Ilmu-Nya Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 29,

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu“. (QS. Al-Baqarah: 29).

dan surat Al-Hadid ayat 3, di bawah ini,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk engkau dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Hadid: 3)

10. Hayat (Hidup) – ﺣﻴﺎﺓ

Artinya Hidupnya Allah tidak ada yang menghidupkannya melainkan hidup dengan zat-Nya sendiri sebab Allah Maha Sempurna, tak sama dengan makhluk yang diciptakan-Nya.

Dalilnya dapat Anda simak dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 58,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Artinya:
Dan bertawakkallah ke Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya“. (QS. Al-Furqon: 58)

11. Sama’ (Menguping) – ﺳﻤﻊ

Artinya, Allah Swt. dapat menguping seluruh suara yang ada di alam semesta. Tidak ada suara yang terlepas dari pendengaran Allah Swt. walaupun suara itu amat pelan.

Pendengaran Allah Swt. tak sama dengan pendengaran ciptaan-Nya sebab Dia tidak terhalang oleh suatu apapun. Adapun pendengaran ciptaan-Nya dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dalil naqli sifat sama’ Allah Swt. tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 76,

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya:
Katakanlah: “Kenapa engkau menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” Dan Allah-lah Yang Maha Menguping lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah: 76)

12. Bashar ( Menyaksikan ) – ﺑﺼﺮ

Allah Swt. itu Maha Menyaksikan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Penglihatan Allah Swt. bersifat mutlak. Artinya tidak dibatasi oleh jarak dan tidak dapat dihalangi oleh penghalang (misalnya dinding dan tabir, dll).

Dalil sifat Allah Bashar Ada dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 265,

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya sebab mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya 2 kali lipat. Kalau hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Menyaksikan apa yang engkau perbuat“. (QS. Al-Baqarah: 265)

13. Kalam (Berbicara/Berfirman) – ﻛﻼ ﻡ

Artinya, Allah Swt itu Maha Kalam, artinya Allah berfirman dalam kitab-Nya yang diturunkan ke para Nabi dan rasul-Nya. Perbincangan Allah Swt. tentu tidak sama dengan perbincangan manusia sebab Allah Swt. tidak berorgan (panca indra), seperti lidah dan mulut yang dipunyai oleh manusia. Allah Swt. berbicara tanpa menggunkan alat bantu yang berbentuk apapun karena sifat kalam Allah amat sempurna.

Dalil sifat Kalam Allah Swt, Ada dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 164:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Artinya:
Dan (Kami sudah mengutus) rasul-rasul yang sungguh sudah Kami kisahkan mengenai hal mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan mengenai hal mereka kepadamu. Dan Allah sudah berbicara ke Musa dengan langsung“. (QS. AnNisa’: 164)

14. Kaunuhu Qadiran – ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ

Yaitu Kondisi Allah Ta’ala Yang Berkuasa Menggelar dan Meniadakan suatu apapun.

Dalil sifat Allah kaunuhu qadiran Ada dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 20:

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
Nyaris-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Saban kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu“. (QS. Al Baqarah: 20).

Baca: Saat Santri Menemukan “Kekhilafan” Redaksi dalam Kitab Kuning

15. Kaunuhu Muridan – ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ

Yaitu Kondisi Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu. Dia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.

Dalilnya ada dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 107,

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

Artinya:
“…..mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali kalau Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana kepada apa yang Dia kehendaki“. (QS. Hud: 107)

16. Kaunuhu ‘Aliman – ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ

Yaitu Kondisi Allah Ta’ala Yang Mengetahui tiap-tiap sesuatu. Mengetahui segala hal yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah Swt. pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.

Simak dalil sifat Allah Swt. yang kaunuhu aliman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 176:

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
Mereka meminta fatwa kepadamu (mengenai hal kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu mengenai hal kalalah (yaitu): kalau seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara wanita, maka bagi saudaranya yang wanita itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (semua harta saudara wanita), kalau ia tidak mempunyai anak; tetapi kalau saudara wanita itu 2 orang, maka bagi keduanya 2 pertiga dari harta yang ditinggal oleh yang meninggal. Dan kalau mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan wanita, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian 2 orang saudara wanita. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya engkau tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“. (QS. An Nisa’: 176)

17. Kaunuhu Hayyan – ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ

Yaitu Kondisi Allah Ta’ala Yang Hidup. Allah ialah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

Dalil sifat Allah kaunuhu hayyan Ada dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 58, 

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Artinya:
Dan bertawakkallah ke Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya“. (QS. Al Furqon: 58)

18. Kaunuhu Sami’an – ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ

Artinya, Kondisi Allah Ta’ala Yang Menguping. Allah Swt. senantiasa menguping perbincangan manusia, permintaan atau doa hamba-Nya.

Dalil sifat Allah kaunuhu sami’an ada dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 265 juga, berikut ini:

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya sebab mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya 2 kali lipat. Kalau hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Menyaksikan apa yang engkau perbuat“. (QS. Al-Baqarah: 265).

Baca: Penjelasan Mengenai hal Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asy’ari

19. Kaunuhu Basirun – ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ

Yaitu Kondisi Allah Ta’ala Yang Menyaksikan akan tiap-tiap yang maujudat (benda yang ada). Allah Swt. senantiasa menyaksikan gerak-gerik kita. Oleh sebab itu, hendaknya kita senantiasa berbuat baik.

Dalinya,

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya:
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan apa yang engkau kerjakan“. (QS. Al Hujurat: 18)

20. Kaunuhu Mutakallimun – ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ

Yaitu Kondisi Allah Ta’ala Yang Berkata-kata, Allah tidak bisu. Dia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al-Quran. Bila Al-Quran sudah kita jaikan pedoman hidup, maka kita sudah patuh dan tunduk kepada Allah Swt.

B. Sifat-sifat Mustahil bagi Allah Swt
Sifat mustahil bagi Allah Swt ialah kebalikan dari 20 sifat wajib bagi Allah Swt. yang arti dan dalilnya telah diterangkan di atas. Berikut ini ialah sifat mustahil, yaitu sifat-sifat yang tidak mungkin dipunyai Allah Swt sebab Allah Swt. telah mempunyai sifat wajib 20 seperti tertuang di atas.

  1. ‘Adam – ﻋﺪﻡ artinya tiada (dapat mati)
  2. Huduth – ﺣﺪﻭﺙ artinya baharu (dapat di perbaharui)
  3. Fana’ – ﻓﻨﺎﺀ artinya binasa (tidak kekal / dapat mati)
  4. Mumathalatuhu Lilhawadith – ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ artinya menyerupai akan makhlukNya.
  5. Qiyamuhu Bighairih – ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ artinya berdiri dengan yang lain (ada kerjasama)
  6. Ta’addud – ﺗﻌﺪﺩ artinya berbilang – bilang / banyak (lebih dari 1).
  7. ‘Ajz – ﻋﺟﺰ artinya lemah (tidak kuat).
  8. Karahah – ﻛﺮﺍﻫﻪ artinya terpaksa (dapat di paksa) / Tertegah (tidak dapat menentukan).
  9. Jahlun – ﺟﻬﻞ artinya jahil (bodoh).
  10. Maut – ﺍﻟﻤﻮﺕ artinya mati (dapat mati).
  11. Shamam – ﺍﻟﺻمم artinya tuli.
  12. ‘Umyun – ﺍﻟﻌﻤﻲ artinya buta.
  13. Bukmu – ﺍﻟﺑﻜﻢ artinya bisu.
  14. Kaunuhu ‘Ajizan – ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ artinya Keadaannya yang Lemah.
  15. Kaunuhu Karihan – ﻛﻮﻧﻪ مكرها artinya Keadaannya yang Terpaksa.
  16. Kaunuhu Jahilan – ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ artinya Keadaannya yang Bodoh.
  17. Kaunuhu Mayyitan – ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ artinya Keadaannya yang Mati.
  18. Kaunuhu Asham – ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ artinya Keadaanya yang Tuli.
  19. Kaunuhu A’ma – ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ artinya Keadaannya yang Buta.
  20. Kaunuhu Abkama – ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ artinya Keadaannya yang Bisu.

2 puluh sifat yang wajib bagi Allah tersebut di atas dibagi ke 4 bagian, yaitu:

  1. Sifat Nafsiyyah. Artinya: Sifat yang tidak dapat difahami Dzat Allah tanpa adanya sifat. Sifat Nafsiyyah ini cuma 1 sifat, yaitu: sifat Wujud.
  2. Sifat Salbiyyah. Artinya: Sifat yang tidak pantas adanya di Dzat Allah Swt. Sifat Salbiyyah ini jumlahnya ada 5 sifat, yaitu: Qidam, Baqa, Mukhalafah lil Hawaditsi, Qiyamuhu bin Nafsi, dan Wahdaniyyah.
  3. Sifat Ma’ani. Artinya: Sifat yang tetap dan pantas di Dzat Allah dengan kesempurnaan-Nya. Sifat Ma’ani ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, dan Kalam.
  4. Sifat Ma’nawiyah. Artinya: Sifat yang Adalah cabang dari sifat Ma’ani. Sifat Ma’nawiyah ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, dan Kaunuhu Mutakalliman.

C. Sifat Jaiz bagi Allah Swt.

Artinya ialah sifat yang boleh ada dan boleh tidak ada pada Allah Swt. Sifat Jaiz Allah itu cuma 1, yaitu bahwa Allah boleh melaksanakan segala sesuatu yang mungkin dn tidak mungkin melakukannya. Adapun dalilnya ialah:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan ke orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu“. (QS. Ali Imran: 26).

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya:
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (QS. Al-Qhashash: 68).

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan kalau engkau melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau engkau menyembunyikan, niscaya Allah akan membikin perhitungan dengan engkau mengenai hal perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“. (QS. Al-Baqarah: 284)

Baca: Tuhan Orang Yahudi Ialah Kakak Tuhan Wahabi, Ini Silsilahnya

D. Sifat Wajib bagi Rasul Allah

1. Shidiq (Jujur)

وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ

Artinya:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah“. (QS. Al-Hasyr: 7)

2. Amanah (Dipercaya)

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Artinya:
Sesungguhnya saya ialah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”. (QS. Asy-Syuara’: 143)

3. Tabligh (Menyampaikan)

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً

Artinya:
Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut ke seorang (pun) selain ke Allah. Dan cukuplah Allah selaku Pembuat Perhitungan.” (QS. Al-Ahzab: 39)

4. Fathanah (Smart)

وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ

Artinya:
Allah berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan ke Ibrahim untuk berhadapan dengan kaumnya.” (QS. Al-An’am: 83)

E. Sifat Mustahil bagi Rasul Allah


  1. Kidib (Bohong)
  2. Khianah (Berkhianat atau tidak dipercaya)
  3. Kitman (Menyembunyikan)
  4. Baladah (Bodoh).

F. Sifat Jaiz bagi Rasul Allah Swt.

Sifat jaiz Rasul Allah Swt. ialah seluruh sifat kemanusiaan yang ada pada diri Rasul selaku seorang manusia dan tidak mengurangi kedudukannya selaku utusan Allah Swt. Sifat jaiz tersebut ada pada diri rasul dan juga ada pada diri manusia biasa. Sifat tersebut di antaranya ialah seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, suka, berkeluarga dan lain sebagainya. Bahkan seorang Rasul tetap meninggal dunia sebab mereka ialah seorang manusia yang diciptakan oleh Allah Swt.

Dalilnya selaku berikut:

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

Artinya:
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menjumpai hari akhirat (kelak) dan yang sudah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti engkau, dia makan dari apa yang engkau makan, dan meminum dari apa yang engkau minum“. (QS. Al-Mu’minun: 33).

Baca: Siapa Wahabi? Ini Ciri dan Akidah Wahabi

Komprehensif telah aqoid 50 beserta arti dan dalilnya komprehensif yang disajikan tim Warta Sunda ke Anda, diambil dari bermacam sumber kompilasi pengetahuan mengenai hal akidah Islam ahlussunnah wal jama’ah dari penjelasan para penulis kitab kuning yang mu’tabarah. [Warta Sunda/uf]

Source link

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *