Analis Amerika: Keputusan taktik Luar Negeri Trump Oportunistik, Sinis dan Munafik

Warta Batavia, CALIFORNIA – “Keputusan taktik luar negeri Presiden AS Donald Trump ialah ‘transaksional,’ yang Ialah puncak dari sikap oportunistik, sinis dan munafik,” kata Dennis Etler, seorang analis politik Amerika yang mempunyai minat puluhan tahun dalam urusan internasional.

Etler, eks profesor Antropologi di Cabrillo College di Aptos, California, membikin pernyataan itu dalam sebuah Tanya Jawab dengan Press TV pada hari Kamis (11/07) waktu mengomentari pernyataan baru dari AS soal Korea Utara.

Amerika Serikat menerangkan mereka berkeinginan Korea Utara akan membekukan program nuklirnya, sebuah langkah yang dapat jadi awal dari proses denuklirisasi.

Baca: Analis Amerika: Fakta Hizbullah Makin Kuat Jadikan Zionis Israel Israel dan Pendukungnya Gila

Ini terjadi sesudah Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menggelar perjumpaan di Zona Demiliterisasi (DMZ) akhir Juni, di mana keduanya setuju untuk meneruskan perbincangan tingkat kerja sesudah perjumpaan puncak gagal mereka di ibukota Vietnam, Hanoi, di Februari.

Menurut Sekretaris Negara AS Mike Pompeo, perbincangan itu kemungkinan akan berlangsung “kisaran bulan Juli … mungkin dalam 2 atau 3 minggu ke depan.”

“Jika ada argumentasi untuk percaya bahwa posisi AS Masalah proliferasi nuklir ialah hanyalah taktik politik dan tidak lebih dari itu, standar ganda mereka Masalah Korea Utara, Iran, Israel dan Arab Saudi seharusnya menutup problem ini. Sikap AS tidak konsisten dan tidak berprinsip. Standar yang berlaku untuk yang 1 tidak berlaku untuk yang lain, sehingga tidak ada gunanya mengharapkan argumentasi untuk keputusan taktik AS selain dari keuntungan. Seperti yang sering dikatakan, keputusan taktik luar negeri Trump ialah aksi transaksional, ’yang Ialah puncak dari sikap oportunistik, sinis, dan munafik,” ujar Profesor Etler.

Baca: Analis: Trump Lebih Mengedepankan Keputusan taktik Israel daripada Amerika

“Ambil contoh keputusan taktik nuklir Trump untuk Korea Utara. Pada awalnya ia mengancam api dan amarah untuk Korea Utara jikalau Korea Utara tidak cepat berhenti mengejar program nuklirnya. Namun cepat, karena pertimbangan geopolitik dalam negeri dan luar negeri, ia mundur dan sepenuhnya merubah kebijaksanaan. Washington menerima janji Ketua Korea Utara Kim untuk tidak menguji senjata nuklirnya atau rudal balistik sementara negara itu Setuju Pyongyang meneruskan pemeliharaan pencegah nuklirnya yang baru, sementara perbincangan yang samar dan berselang terus berlanjut, ”tambahnya.

“Sekarang, Gedung Putih telah menganjurkan bahwa jikalau Korea Utara Mempublikasikan pembekuan pada program nuklirnya, perbincangan baru dapat mulai membahas denuklirisasi. Seperti yang terjadi, tidak ada prasyarat yang dipaksakan pada Korea Utara untuk meneruskan Perundingan. Tidak ada batasan untuk pengayaan bahan bakar nuklir dan tidak ada inspeksi untuk melihat apakah Korea Utara mentaati bagian janjinya. Sebaliknya Trump dan Kim bertukar surat pujian dan berjumpa secara damai, saling menepuk punggung, ”katanya.

Baca: Analis: Trump Lebih Mengedepankan Keputusan taktik Israel daripada Amerika

“Bandingkan dengan sikap Trump untuk Iran. Iran, dengan itikad baik, menegosiasikan Tekad bulat komprehensif untuk mengurangi program pengembangan nuklirnya, dengan pembatasan ketat pada pengayaan nuklir dan inspeksi rezim yang menyeluruh. Tidak ada yang membantah bahwa Iran telah dengan cermat memenuhi kewajibannya. Sebagai imbalannya sanksi yang dikenakan PBB dicabut dan hubungan ekonomi Iran dengan UE dan seluruh dunia tengah dinormalisasi, ”katanya.

“Lalu, Trump, memenuhi janji kampanyenya, menarik AS dari Tekad bulat dan menerapkan kembali sanksi dengan maksud yang dinyatakan melumpuhkan ekonomi Iran dan memaksa Iran untuk meninggalkan hak kedaulatannya untuk membela diri,” katanya.

“Perbedaan antara pendekatan Trump ke Korea Utara dan Iran tidak dapat lebih jelas. Ini cuma dapat dikaitkan dengan fakta bahwa Trump melihat Korea Utara sebagai kemungkinan chit untuk dipakai dalam pertengkarannya yang tengah berlangsung dengan Republik Rakyat Tiongkok. Di sisi lain, Iran dipandang sebagai musuh bebuyutan sekutu AS, Israel dan Arab Saudi, yang keduanya terlibat dalam bermacam pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan untuk kemanusiaan. Sejauh Israel menyaksikan, AS menutup mata untuk persenjataan nuklirnya, sementara itu memasok Arab Saudi Sarana untuk memulai program nuklirnya sendiri, ”katanya.

Baca: Analis: Dibawah Trump, Amerika akan Terisolasi

“Apa pun argumentasi yang dapat dipakai Washington untuk mengisolasi dan menghukum Iran dengan sanksi ekonomi dan sanksi lainnya, pada kenyataannya itu tidak ada hubungannya dengan program nuklirnya. Itu hanyalah argumentasi untuk mengobarkan perang ekonomi melawan Republik Islam Iran. 1-satunya argumentasi Trump Mundur dari Tekad bulat nuklir Iran ialah untuk menyokong Israel dan Arab Saudi dalam usaha mereka untuk mengukir Timur Tengah di antara mereka, ”catat analis itu. (ARN)

rnrn
Source by Ahmad Fawas","author":{"@type":"Person","name":"Ahmad Fawas","url":"https://wartabatavia.com/author/fawas/"},"articleSection":["BERITA DUNIA"],"image":{"@type":"ImageObject","url":"https://wartabatavia.com/wp-content/uploads/2019/07/Analis-Amerika-Keputusan strategi-Luar-Negeri-Trump-Oportunistik-Sinis-dan-Munafik.jpg","width":1160,"height":773},"publisher":{"@type":"Organization","name":"Warta Batavia","url":"https://wartabatavia.com","logo":{"@type":"ImageObject","url":"https://wartabatavia.com/wp-content/uploads/2018/07/wartabatavia-ico.jpg"},"sameAs":["http://facebook.com","http://twitter.com"]}}

Warta Batavia by alfiani wardah

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *