Mengenali SUNDAYANA Lebih Dekat

Kitab Lahyang Salaka Domas adalah Kitab yang menghimpun 800 Ayat yang di berikan kepada para nabi mulai dari nabi Allah Adam. As hingga Nabi sebelum Nabi musa.

WA-HYANG

Read More

SERAT LAHYANG SALAKA DOMAS

Generasi : SURAYANA ( Ajaran Nabi Adam As )

Penerus : SUNDAYANA

Penebar : Prabu Sindu Lahyang

Raja Ratu Raja Resi Raja Pandita

Dunia Sebelum Nabi Ibrahim As

Sebagai generasi Nabi Adam As.

Kitab Lahyang Salaka Domas adalah Kitab yang menghimpun 800 Ayat yang di berikan kepada para nabi mulai dari nabi Allah Adam. As hingga Nabi sebelum Nabi musa.

Lahyang Salaka Domas adalah kitab yang menghimpun 800 Ayat dari ajaran para nabi sebelum nabi Musa isi kitab Lahyang Salaka Domas adalah yang kini ada pada kitab Taurat kuno yg di turunkan kepada Nabi Musa As.

Layang Salaka Domas: Kitab Suci Jati Sunda yang dinamakan Layang Salaka Domas yang diartikan secara “mudah” adalah “Kitab Suci Delapan Ratus Ayat” yang terdiri dari:

  1. Ajaran Kesempurnaan tentang Sambada (hidup dari semenjak lahir);
  2. Sambawa (dewasa sampai tua);
  3. Winasa (kematian serta kehidupan di alam hyang) jadi Kitab Jati Sunda itu bukan 1 tapi 3 tapi bukan berarti ada 3.

Pada jamannya, isi ketiga Kitab Suci tadi selalu dibaca pada malam yang hening, penuh ke-tenteraman yaitu pada puncak upacara Kuwera Bakti di Balay Pamunjungan Kihara Hyang, beratapkan langit malam diterangi cahaya Damar Sewu, berbaur dengan cahaya bulan purnama sedang mengembang, dipimpin oleh Brahmesta Pendeta Agung Nagara.

Keesokan harinya ketiganya diarak di dalam “Jampana Niskala Wastu” berkeliling di hala-man Balay Pamunjungan lalu ke kompleks Pakwan Pajajaran sampai ke Jero Kuta. Pada saat seperti itu Rakyat Sunda berbondong-bondong datang dari seluruh penjuru tanah Sunda untuk menyaksikan upacara tersebut.

“Pikukuh Agama Sunda Pajajaran diserat dina Layang Sambawa, Sambada, Winasa anu serat ku Parabu Reusi Wisnu Brata, nya Inyana anu tukang tapa ti ngogorana. Inyana anu saeun-yana ngagalurkeun jadi kabehan pada ngarti Agama anu kiwari disarebut Agama Sunda Pajajaran téa. Agama anu hanteu ngabeda-bedakeun boro-boro ngagogoréng ngaha-hawuran Agama séjén.

Lantaran euweuh Agama anu hanteu hadé, anu hanteu hadé mah lain Agama tapi meta-keun Agama jeung laku lampah arinyana anu areumbung ngalarti hartina “Ahad” téh Nung-gal nu ngan Sahiji-hijina ngan Sahiji baé.”

Artinya: “Ajaran-ajaran Agama Sunda Pajaja-ran dituliskan dalam Kitab Suci Sambawa, Sambada, Winasa yang dituliskan oleh Prabu Resi Wisnu Brata, Dia lah yang suka bertapa dari semenjak muda, Dia pula yang mengajak semua jadi mengerti Agama yang sekarang disebut Agama Sunda Pajajaran yakni Agama yang tidak membeda-bedakan bahkan yang tidak menjelek-jelekan memusuhi Agama lain. Sebab tidak ada Agama yang jelek, yang jelek itu bukan Agama tapi cara mengamalkan Agama dan kelakuan mereka yang tidak mau mengerti apa makna “Ahad” itu berarti Tung-gal yang benar-benar hanya Satu hanya Satu-satunya”

Tokoh yang pertama menyebarkan Ajaran Jati Sunda yang pertama, yang namanya Mundi Ing Laya Hadi Kusumah setelah Dia menda-patkannya dari Jagat Jabaning Langit. Mundi Ing Laya Hadi Kusumah yang berarti Sese-orang yang telah mampu menqusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga, yang juga juga berarti seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian, nama ini identik dengan “Utusan Sang Khalik”.

Dapat masuk ke Jagat Jabaning Langit suatu Jagat diluar Alam semesta bersimpuh kehari-baan Sang Hiyang Tunggal, tentu bukan ma-nusia sembarangan. Jagat Jabaning Langit adalah Mandala Agung atau dalam Istilah Al Qur’an adalah Sidratul Muntaha tempat bersemayamnya Sang Rumuhung Nu Maha Agung, Sang Hiyang Tunggal.

Dalam keadaan Tunggalnya, Sang Hiyang Ru-muhung Nu Ngersakeun dibantu oleh para Sang Hiyang seperti Sang Hiyang Wenang , Sang Hiyang Wening, Sang Hiyang Guru Tunggal (Guriang Tunggal), Sang Hiyang Kala, Sang Hiyang Guru Bumi, Sang Hiyang Sri Rumbiang Jati, Sunan Ambu dan para Sang Hiyang lainnya sesuai tugas dan wewenang masing-masing dalam mengatur Jagat. Sang Hiyang yang menempa kepasrahan dalam perjalanan kehidupan manusia adalah Sang Hiyang Kala atau biasa disebut Dewa papasten (Dewa Kepastian) yang menguasai kewena-ngan waktu.

Orang Sunda nu Nyunda demikian yakin per-jalanan hidupnya dikendalikan ketentuan-ketentuan waktu yang di istilah kan Papasten tadi.

Historiana Cari Buku Referensi Terkait Home Sunda Buhun Inilah Kitab Suci Ageman Sunda Buhun – Jati Sunda Inilah Kitab Suci Ageman Sunda Buhun – Jati Sunda.

Foto: mytrip.co.id [Historiana] – Sebelumnya kita telah membahas ageman (agama) Sunda Buhun atau Jati Sunda. Gambaran dan definisi Ageman Jati Sunda tersebut telah kita bahas, Silahkan meng-klik link di atas.

Kali ini kita menelusuri apa kitab suci Sunda Buhun atau Ageman Jati Sunda?

Menururt Anis Djatisunda, “sampai dewasa ini saya belum menemukan pendapat para ahli yang berani memastikan, apa agama Orang Sunda pada masa Sunda Kuna.” Walaupun belita sejarah memberikan indikasi -anasir Hindu dan Budha nampak dominan. Secara ekstrim Djati sunda berpendapat, agama orang Sunda kuna sebut saja Zaman Paja-jaran, adalah “Agama Sunda”. Dipercaya bahwa beberapa berita yang sudah ditemu-kan mayoritas telah rnemberikan kejelasan. Contohnya naskah lontar kropak-406, Carita Parahyangan (CP) yang menunjukkan adanya para wiku “nu ngawakan Jati sunda..” Yakni para pendeta yang menganut dan mengamal-kan Agama Sunda.seraya memelihara “kabu-yutan parahyangan”.

Indikasi dari sisa pranata religi semacam itu, kini masih tetap hidup di lingkungan masya-rakat “urang Rawayan (Baduy)”, yang disebut agama “Sunda Wiwitan” sisa dari Kabuyutan Jati sunda atau Parahiyang, adalah Mandala Kanekes; ternpat hunian mereka. Sebab pemeliharaan mandala atau kabuyutan “Jati Sunda” dengan penuh kesetiaan mereka laksanakan hingga kini, yang kini lazim mereka sebut “Sasaka Domas”, Sasaka Pusaka Buana atau disebut juga “Sasaka Pada Ageung”.

Kesaksian lain secara primordial merujuk kepada berita serial Pantun Bogor versi Aki uyut Baju Rambeng. Dalam Pantun Bogor” (pantun sakral) episode “Curug Si Pada Weruh “, diceritakan bahwa: “Saacan Urang Hindi ngaraton di Kadu Hejo ogeh, Karuhun urang mah geus baroga agama, anu disarebut aga-ma sunda tea…” (Sebelum orang Hindi bertah-ta di Kadu Hejo pun, Leluhur kita telah memi-liki agama, yakni yang disebut Agama Sunda).

Secara hipotesis, yang dimaksud “Urang Hindi” di sini, adalah tokoh Dewawarman. Sebagaimana diberitakan Pustaka Wang-sakerta, ia dipungut mantu oleh Aki Tirem alias Aki Luhur Mulya, dikawinkan kepada puterinya, Pohaci Larasati, kemudian diangkat jadi Raja di Salakanagara yang beribukota di Rajatapura (130 – 168 M), menggantikan diri-nya. Nama tempat Kadu Hejo, sejalan dengan berita Pantun berlokasi di Kabupaten Pandeg-lang Propinsi Banten, sampai sekarang masih bernama demikian.Pada tahun 1972 Ayah Sacin (alm), ahli sastra bambu dan mantan Panengen (penasehat Puun) Baduy Tangtu Cikeusik menjelaskan, bahwa zaman para “prahajian” Pakuan Pajajaran, agama mereka “Agama Sunda Pajajaran”. Sampai sekarang masih mereka agungkan, terpatri dalam ikrar yang mereka namakan “Sadat Sunda” (Sahadat Sunda): “Pun, Sadat sadat sunda, tuan katata tuan katepi, selam larang teu ka sorang, tuan urang (h)aji pakuan”. Sahadat Sunda ini, setaun sekali mereka ucapkan pada kegiatan upacara muja di Babalayan Pamujan “Sasaka Pada Ageung” (Pemujaan Urang Baduy).

Beralih kepada pengertian kata “Sunda” se-bagai nama suatu agama. Dalam mitos Nga-degna Nagara Sunda, berita Pantun Bogor episode Pakujajar Beukah Kembang, Sunda berarti suci atau bahagian yang menyempur-nakan (“harti sunda teh suci, wareh nu nyam-purnakeun”). Tanah Sunda pada awalnya di-sebut Buana Sunda. Nama yang diberikan oleh Sanghyang Wenang. Sebab, ketika tanah ini masih berupa hamparan kosong, banyak didatangi orang untuk “nyundakeun diri” (bertapa menyucikan diri). “….. di dinya ta hadé Jasa pikeun panyundaan nyundakeun diri. pikeun nyampurnakeun raga jeung suk-ma, ambéh bisa ngarasa paéh sajero hirup, ngarasa hirup sabari paéh “. (…disana bagus sekali untuk mensucikan diri, untuk menyem-purnakan raga dan sukma, agar mampu me-rasakan mati selama hidup, merasa hidup sambil dalam keadaan mati ).

Kian hari Buana Sunda kian padat oleh para petapa yang nyundakeun diri. Karenanya, lama kelamaan mereka menyandang sebutan “wang sunda” (manusia suci) nama mewujud suatu komunitas, “etnik sunda”.

Kitab Suci Sunda: Sambawa. Sambada dan WinasaTelah dimaklumi, Agama Sunda sudah ada semenjak sebelumnya Dewawarman bertahta di Salakanagara (130 – 168 M). Dihitung sampai sekarang, eksistensinya sudah kurang lebih 20 abad bahkan mungkin lebih. Kitab Suci sebagai pegangannya disebut Sambawa, Sambada dan Winasa, tiga kitab yang ditulis oleh “Prabu Resi Wisnu Brata”.

“… pikukuhan Agama Sunda Pajajaran ditu-liskeun dina Layang Sambawa, Sambada, Wi-nasa anu dituliskeun ku Parbhu Reusi Wisnu Brata. Nya inyana anu tukang tapa ti ngongo-ra. Inyana anu saenyana ngagalurkeun jadi kabehan pada ngarti Agama anu kiwari di-sebut Agama Sunda Pajajaran téa. Agama anu hanteu ngabeda-bedakeun boroboro ngago-goréng ngahaharuwan agama séjén. Lantaran euweuh agama anu hanteu hadé. Anu hanteu hadé mah lain agama, tapi metakeun agama jeung laku lampah arinyana anu arembung baé ngarti hartina Ahad téh nunggal nu ngan Sahiji-sahijina, ngan sahiji baé…..”.

(Ajaran-ajaran agama sunda Pajajaran ditulis-kan dalam Kitab Suci Sambawa, Sambada, Wi-nasa yang dituliskan oleh Prabu Resi Wisnu Brata. Dialah yang suka bertapa dari semenjak muda. Dia pulalah yang mengajak semua jadi mengerti agama yang sekarang disebut Aga-ma Sunda Pajajaran. Yakni agama yang tidak membeda-bedakan bahkan juga tidak men-jelek-jelekan memusuhi agama lain. Sebab tidak ada agama yang jelek Yang jelek itu bu-kan agama, tapi cara mengamalkan agama, dan kelakuan mereka yang tidak mau menger-ti kepada makna “ahad” itu berarti tunggal yang benar-benar hanya satu, hanya “satu-satu-nya”).

Secara hipotesis tokoh Prabu Resi Wisnu Brata menurut cerita Pantun, adalah, Rakéan Dar-masiksa Prabu Sanghyang Wisnu’ (1175 -1297 M) berdasarkan catatan sejarah Pustaka Wangsakerta. Sebab salah satu diantara raja-raja Sunda yang berperangai arif bijaksana sebagai Resi dan gencar menyiarkan agama kala itu, hanya raja ini.

Mungkin sebelum 3 buah kitab suci tadi ia tulis, identitas agama sunda selama kurang lebih 1 millenium (1000 tahun), masih bersifat agama tidak resmi. Baru semenjak Kerajaan Sunda di bawah pemerintahannya Agama Sunda disahkan oleh negara. (penelitian lebilt lanjut sangat diperlukan).

Nampaknya kala itu pula, agama Hindu atau-pun Budha mulai rnemudar. Sekurang-ku-rangnya telah luluh dengan agama sunda. Sehingga berbagai Kitab Suci Agama Hindu-Budha sudah kurang diberlakukan lagi secara khusus.

Dalam Pantun (sakral) Bogor episode “Tunggul Kawung Bijil Sirung” diceritakan, penyebar agama Sunda pertama adalah seorang tokoh yang menyandang julukan “Mundi ing Laya Hadi Kusumah” setelah ia mendapatkan Layang Salaka Domas dari “Jagat Jabaning Langit”

Secara harfiah Layang Salaka Domas berarti “Kitab Suci Delapan Ratus Ayat ” (The Holy Scripture of Eight Hurdred Verses). Yang berisi tentang ajaran kesempurnaan hidup dari se-menjak lahir (sambawa), dewasa sampai tua (sambada) dan kematian serta kehidupan di alam hyang (winasa). Bagaimana bunyi tiap ayat dalam ketiga kitab suci tadi, “Urang Rawayan” (Baduy) pun tetap merahasiakan-nya, atau mungkin memang mereka sudah tidak mengetahuinya lagi.

Pada zamannya Siliwangi masih bertahta di Pakuan Pajajaran, isi ketiga kitab suci tadi selalu dibaca pada malam yang sunyi, hening, penuh ketenteraman yaitu pada puncak upa-cara Kuwera Bakti di Balay Pamunjungan Ki-hara Hyang, beratapkan langit bebas diterangi cahaya “damar sewu” berbaur dengan cahaya bulan purnama sedang mengembang, dipim-pin oleh Brahmesta Pendeta Agung negara. Keesokan harinya ketiganya diarak di dalam “Jampana Niskala Wastu” berkeliling di halam-an Balay Pamunjungan lalu ke kompleks Pakuan.

Kembali kepada tokoh Mundi ing Laya Hadi Kusumah. Siapa ia sebenarnya? Tak ada sa-tupun cerita pantun atau cerita babad yang menjelaskannya. Tersebutnya tokoh “Mun-dinglaya Dikusumah” putra Prabu Siliwangi dirasa tidak memungkinkan, sebab zamannya terlalu muda. Mundi ing Laya Hadi Kusumah, suatu nama bermakna filosofis: ” [seseorang] yang telah mampu mengusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga”, konotasi dari “seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan hal ihwal keduniawian”, identik dengan “Utusan Sang Khalik”.

Bisanya masuk ke Jagat Jabaning Langit, suatu jagat diluar alam semesta, bersimpuh kehari-baan Sang Hyang Tunggal, tentu figur ini bu-kan manusia sembarangan. Jagat Jabaning Langit adalah “Mandala Ageung”. Dalam istilah Urang Baduy disebut “Buana Nyungcung”. Tempat bersemayamnya Sang Rumuhung, Nu Maha Agung, Sang Hyang Tunggal.

Dari pengistilahan nama-nama dzat Sang Maha Pencipta seperti di atas, memberikan indikasi bahwa Orang Sunda semenjak masa nirleka pun sudah menganut faham Mono-theisme (Satu Tuhan) yakni Tuhan sebagai-mana digambarkan dalam Pantun Bogor:

“Nya Inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa aya tanpa waruga, hanteu kaambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana. ” Dalam mantra yang disebut “sahadat Pajajaran”, disebutkan sifat-sifatnya, berbunyi: “Hyang Tunggal atawa panganjali, Ngawandawa di jagat kabeh alam sakabéh, halanggiya di saniskara, hung tatiya ahung. “(Sang Hyang Agung yang Maha Esa, Dialah yang sebenarnya sang “Penyembahan”, tiada beranak tiada bersaudara, mempunyai teman pun tidak di Jagat dan di Alam ini. Yang paling unggul di segala-gala. Hung, nah itulah Sang Benar Sejati, Ahung!) Hanya kepadanya orang sunda rnenyembah dan minta perlindungan, sebab hanya Inyana-lah yang memiliki kebenaran sejati dan hakiki.Dalam keadaan “Tunggal-nya”, “Sang Hyang Rumuhung Nu Ngeresakeun” dibantu oleh para “Sang Hyang”, seperti ‘. Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Wening, sang Hyang Guru Hyang Tunggal (Guriang Tunggal). Sang Hyang Kala. Sang Hyang Guru Bumi Sang Hyang Ambu Sri Rumbiyang Jati, Sunan Ambu dan para Sang Hyang lainnya, sesuai tugas dan wewenangnya rnasing-masing di Jagat dan Alam seisinya.Sang Hyang yang menempa kepasrahan dalam perjalanan kehidupan manusia adalah Sang Hyang Kala, lazim disebut Dewa Papasten (dewa kepastian) yang menguasai kewenangan “Sang Waktu”. Orang Sunda-Nyunda demikian yakin perjalanan hidupnya dikendalikan oleh ketentuan waktu yang diistilahkan “papasten” tadi. Seperti ucapan Sang Hyang Lengser kepada Prabu Siliwangi, yang gagal menyeberang ke Nusa Larang karena diterpa badai dan topan: “Dengekeun Gusti! Saha anu bisa ngabendung gunturna waktu, saha anu bisa nyahatkeun talaga lara. saha anu bisa mungpang ka papasten”

(Dengarkan Gusti ! Siapa yang mampu membendung membanjirnya waktu, siapa yang bisa mengeringkan telaga kesusahan, siapa yang bisa melawan kepastian). Disini tersirat bahwa segala langkah dan upaya, tak akan bisa tercapai apabila belum waktu-nya yang dalam bahasa sunda lama disebut “Uga”.

Dalam kolteks sebagai masyarakat berladang, Sanghyang yang diagungkan oleh orang Sunda ialah Sanghyang Amhu Sri Rumbiyang Jati (sebagai Dewi Kesuburan Padi dan tanam-tanaman) dan Sanghyang Ayah Kuwera Guru Bumi atau disebut pula Batara Patanjala (Dewa kesuburan dan kesejahteraan ). Kedua Sanghyang suami isteri ini, sebagai pangbayu hirup hurip manusia sunda. Karenanya dija-dikan inti puja dalam kegiatan-kegiatan upacara besar semacam “Lebaran”, baik Upacara tahunan Seren Tahun Guru Bumi maupun winduan Upacara Tutug Galur Kuwera Bakti di Pakuan. Waktu kegiatannya berupa pesta akbar setiap selesainya panen padi di ladang.

Kita maklumi, sekarang pun hal demikian masih berlaku di lingkungan masyarakat adat Baduy, Pancer Pangawinan, Naga, Dukuh, Sumedang Larang, Cigugur, bahkan warga masyarakat Kampung Budaya Sindang Barang.

Agama Sunda mernberikan ajaran tentang proses hidup manusia sejak lahir, hidup, mati dan menitis secara reinkarnasi. Menghadapi proses ini, manusia Sunda dihadapkan kepada dua jagat yang disebut jagat jadi carita dan jagat kari carita (dunia fana dan alam baka). Di jagat kari carita. terdapat mandala dan buana karma atau jagat pancaka. Mandala tersebut terdiri dari 9 tingkat secara vertikal, diantaranya dari bawah keatas: Mandala Kasungka – Mandala Parmana – Mandala Karna – Mandala Rasa – Mandala Seba – Mandala Suda – Jati Mandala – Mandala Samar – Mandala Agung. Setiap roh orang mati, harus masuk dulu ke Mandala Kasungka (mandala paling bawah).Jika semasa hidupnya tidak-baik, harus pindah dulu ke Kawah Panggodogan di Buana Karma, untuk mendapatkan ujian-ujian. Bagi yang masa hidupnya baik-baik, bisa secara langsung naik sampai ke mandala yang lebih tinggi.

Mandala keenam, Mandala Suda; berupa tempat berkumpulnya para “Karuhun” yang telah bebas untuk pulang pergi ke dunia fana. Ia boleh berwujud lagi, tapi kalau berbicara hanya melalui perasaan. Atau sebaliknya, boleh bersuara biasa tapi mesti tanpa wujud.

Dari Mandala Suda naik lagi ke “Alam Kasucian” yaitu ke Jati Mandala. Di mandala ini terdapat dua paseban; Paseban Pangauban tempat para Karuhun yang sudah bebas untuk kembali lagi ke dunia fana menjenguk yang masih hidup, seraya boleh berwujud dan berbicara seperti biasa. Sebelah atasnya terdapat Papanggung Bale Agung. Di sana berkumpul para Karuhun yang sedang menunggu giliran untuk nitis.

Sebelah atas Jati Mandala ada Mandala Samar. Di Mandala ini yang tinggal para Karuhun yang sudah memiliki jadwal nitis. Mereka sudah tidak perlu lagi naik tahapan mandala, sebab mereka sudah pada habis giliran, untuk kemudian lebur menyatu dengan dzat semesata alam.Ada tiga tempat sejajar diatas Mandala Samar. Yang ada di tengah, tempat bersemayamnya Sanghyang Guril yang Tunggal. Sebelah kirinya persemayaman Sang Hyang Wenang, yang kanan Sang Hyang Wening. Ditengah atas ketiganya tempat bersernayamnya Sang Hyang Kala.***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.