Yogyakarta – Putri sulung Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid mempertanyakan penggunaan istilah pribumi pada pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat pelantikannya awal pekan ini. “Memang siapa sih yang bisa mengklaim ‘saya ini orang paling asli Indonesia?’  Yang lain cuma nunut (menumpang)?” kata Alissa saat menjadi pembicara diskusi Merdeka Dalam Keberagaman di Yogyakarta, Rabu petang 18 Oktober 2017.

Alissa menuturkan istilah pribumi-non pribumi jika dipakai demi menunjukkan keaslian identitas ke Indonesiaan tidak sesuai konteks karena kepulauan yang bernama Indonesia pun tak ada. Hal ini menunjukkan tak ada pula bangsa Indonesia yang benar benar asli.

Alissa menuturkan istilah bangsa biasanya merujuk pada satu ras. Sedangkan Indonesia terdiri dari berbagai macam ras dari Melayu hingga Melanesia. Dengan berbagai macam ras itu, ujar Alissa, tidak ada yang bisa memaksa diri dengan klaim bahwa seseorang merupakan bangsa asli Indonesia.

Menurut dia, tak ada bahasa asli bangsa Indonesia. “Indonesia itu bikinan, itu ide pendiri bangsa untuk mengatasi dan menyatukan elemen yang berbeda-beda,” ujar Alissa. Indonesia sebagai sebuah bangsa baru tercetus saat 1928 saat lahirnya Sumpah Pemuda dan tahun 1945 saat proklamasi kemerdekaan. Sehingga berbagai latar belakang suku dan ras yang berbeda bersatu.

“Jadi jelas Indonesia lahir karena ada perbedaan, tanpa ada perbedaan tak ada Indonesia,” ujar Alissa. Alissa menuturkan pemikiran tentang asal usul keindonesiaan itu juga yang selama ini diyakini almarhum Gus Dur. Indonesia ada karena keberagaman, warisan yang tak bisa disingkirkan dari Indonesia.

Alissa berseloroh jika Indonesia tak ada, maka ia dan masyarakat lain bakal kerepotan. “Kita harus buat paspor dari Jakarta ke Yogya, dan saya juga harus proses naturalisasi karena lahir di Jombang tapi selama ini tinggal di Sleman,” ujarnya.

Ia memperingatkan publik agar mencermati kembali pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tentang pribumi yang tengah menjadi polemik hingga dilaporkan ke kepolisian. Alissa melihat kasus Anies hampir sama ketika publik disodori pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menggunakan kutipan surat Al Maidah. “Jangan sampai publik terjebak lagi (menafsirkan) seperti saat kasus Pak Ahok menggunakan Al-Maidah, harus dilihat konteksnya utuh,” ujar Alissa. (TEMPO.CO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here