Jakarta–Elektabilitas Presiden Joko Widodo dalam tiga survei lembaga berbeda menunjukan angka di bawah 50 persen. Hasil ini berbanding terbalik dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-JK.

Dalam survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), elektabilitas Jokowi pada September 2017 adalah 38,9 persen. Angka ini naik dibanding survei pada Oktober 2015 dimana elektabilitas Jokowi berada pada angka 25,5 persen. Sementara elektabilitas Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan angka 12 persen. Turun 1,6 persen dari survei yang dilakukan pada Oktober 2015.

“Nama lain belum ada yang cukup kompetitif. Ini top of mind, dukungan solid yang agak sulit diubah,” kata Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, dalam pemaparan survei di kantor SMRC, Cikini, Jakarta, Kamis, 5 Oktober 2017. Survei dilakukan pada awal September 2017 dengan melibatkan 1.057 responden untuk diwawancarai. Margin error dari survei ini sebesar lebih kurang 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Elektabilitas Jokowi di bawah 40 persen juga ditunjukan hasil survei Media Survei Nasional (Median). Menurut survei tersebut, elektabilitas Jokowi ada di angka 36,2 persen; sementara elektabilitas Prabowo 23,2 persen. Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menyatakan hasil survei ini menunjukan 40,6 persen publik menginginkan tokoh alternatif selain Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2019.

Menurut Rico hal tersebut bisa menjadi tren awal keinginan publik untuk mencari tokoh lain di luar Jokowi dan Prabowo. “Hanya saja keinginan itu belum terkonsolidasi ke satu figur,” ujar Rico pada Senin, 2 Oktober 2017.

Media melakukan survei dengan melibatkan 1.000 responden dengan margin of error +/-3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling.

Elektabilitas Jokowi di bawah 50 persen juga ditunjukan lembaga kajian KedaiKopi. Survei ini bahkan menggunakan pendekatan yang lebih tegas, yakni opsi pilihan Jokowi dan bukan Jokowi. Hasilnya, elektabilitas Jokowi adalah sebesar 44,9 persen; sementara yang memilih opsi jawaban selain Jokowi ada 48,9 persen, dan sisanya tidak menjawab.

Pada opsi jawaban selain Jokowi, responden menyebut nama Prabowo, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan beberapa nama lain. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 800 responden di delapan kota pada 8-27 September 2017 dengan margin of error 3,5 persen.

Hasil elektabilitas Jokowi ini berbanding terbalik dengan penilaian terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Survei KodaiKopi menunjukan 55,7 persen responden puas dengan pemerintahan Jokowi-JK, sementara yang tidak puas 43,3 persen dan sisanya tidak menjawab. Relatif tingginya tingkat kepuasan publik atas pemerintahan Jokowi juga terekam dalam survei SMRC. Kepuasan publik akan kinerja Jokowi di atas 60 persen.

Survei KedaiKopi menunjukan tingkat kepuasan utamanya dalam bidang pembangunan infrastruktur, yakni 32,7 persen; dan bantuan kesehatan serta pendidikan 16,3 persen. Namun mayoritas responden mengeluhkan masalah ekonomi. “Rakyat masih mengeluhkan tentang masalah ekonomi,” ujar pendiri KedaiKOPI, Hendri Satrio dalam siaran pers, Minggu, 8 Oktober 2017.

Pihak Istana menanggapi santai hasil survei-survei tersebut. “Pemerintah tidak bekerja untuk keperluan survei,” ujar juru bicara Istana Kepresidenan Johan Budi pada Jumat pekan lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here