Jakarta – Kecintaan lifter nasional Eko Yuli Irawan terhadap dunia angkat besi membuatnya enggan beranjak dari dunia itu. Di masa istirahat kali ini, seusai SEA Games 2017 Kuala Lumpur dan persiapan menuju Asian Games 2018 belum dimulai, pria kelahiran Lampung ini bahkan masih rutin berlatih.

Yang unik, Eko memilih berlatih mandiri di ruang latihan yang ada di salah satu rumahnya, di daerah Bekasi Selatan. “Saya beli barbel sendiri, jadi ketika istirahat pelatnas masih bisa latihan buat diri sendiri,” kata Eko saat ditemui Tempo di rumahnya, Selasa, 19 September 2017.

Lokasi latihan yang dimaksud Eko adalah sebuah garasi mobil di rumah yang dulu ia tinggali bersama istrinya, Masitoh. Sejak awal tahun ini, ia dan keluarganya pindah ke rumah lain yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah lamanya.

Garasi itu berukuran sekitar 3 x 7 meter persegi. Satu set peralatan angkat besi berstandar internasional tersedia di sana. Mulai dari beban seberat setengah kilogram hingga 25 kilogram tersedia di sana. Eko mengaku membeli peralatan itu pada tahun 2013 silam seharga Rp 70 juta.

Modal untuk membeli, ia dapatkan dari hasil raihan medali perunggu di ajang Olimpiade 2012 di London, Inggris. “Dari hasil itulah, bonus itu saya belikan rumah dan ada lebih, lalu saya belikan satu set untuk latihan,” kata Eko. Selain set perlengkapan angkat besi, ada pula tiang penyangga untuk squat juga treadmills. Eko mengatakan biasa latihan di sore hari atau pagi hari. Jika latihan mandiri, ia mengatakan waktu latihan tidak menentu. “Kalau tidak kayak gitu kita susah mempertahankan. Dengan level kita (angkat besi) yang sudah tinggi, jadi ketika dipanggil pelatnas kita sudah siap juga,” kata Eko.

Namun rupanya cita-cita Eko tak hanya berakhir di situ. Ke depannya, ia berharap bisa membangun rumah tempatnya latihan menjadi ruang latihan yang lebih besar. Bahkan, jika mampu, pria kelahiran 24 Juli 1989 itu ingin membuat klub sendiri di sana.

Apalagi Eko pertama kali mencoba angkat besi adalah di salah satu tempat latihan lokal di Lampung dulu. Ia mengatakan jika klubnya bisa direalisasikan, potensi-potensi muda bisa muncul dan terlihat. “Jadi kita bisa sekalian membina, bisa ngelatih lah,” kata Eko.

Di masa rehat ini pula, Eko juga mulai aktifitas melatih. Meski masih sebagai atlet aktif, namun seminggu terakhir ia ikut dalam training pribadi dan umum di salah satu klub cross fit di daerah Jalan Jenderal Sudirman. Di sana, ia fokus melatih weightlifting.

Pertama kalinya mengajar, membuat Eko juga merasa sedikit gentar. “Banyak pesertanya adalah dari luar (negeri). Saya agak kesulitan jika berkomunikasi, untungnya sih kebanyakan bisa berbahasa Indonesia,” kata dia terkekeh.

Pengalaman berlatih di pelatnas sejak 2006 hingga saat ini, kata dia, banyak memberinya pelajaran terkait program dan metode latihan angkat besi. Ia pun telah mampu menyusun kurikulum latihan sederhana yang bisa diterapkan pada peserta latihannya.

Eko Yuli merupakan atlet angkat besi yang menyumbang medali perunggu di Olimpiade London 2012 dan medali perak Kejuaraan Dunia di Kazakhstan tahun 2014. Di Olimpiade Rio de Janeiro, ia suskes menyumbang satu perak.

Di tingkat Asia Tenggara, sejak 2007 ia merupakan langgangan peraih emas Indonesia. Sayang di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur Malaysia, Eko Yuli gagal mendulang emas dan hanya meraih perak. Eko merupakan spesialis di nomor 62 kilogram. Ia akan kembali jadi andalan Indonesia pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. (TEMPO.CO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here