Sukabumi – Mak Cacih (52) dan keluarganya sudah 40 tahun mengontrak tanah di Kampung Situawi, RT 2 RW 2, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Sejak 1,5 tahun ini tempat huniannya berupa gubuk makin miring dan nyaris roboh.

Di gubuk reyot itu Mak Cacih tinggal bersama suami, Santoso, dan anaknya, Raharja. “Dulu almarhum mertua saya juga tinggal di tempat ini. Sepeninggal almarhum, rumah ini dibagi dua. Suami saya dapat bagian depan, sementara saudaranya di bagian belakang,” kata Mak Cacih di rumahnya, Senin (4/9/2017).

Ia berkisah, rumah ini dahulunya dibangun oleh mertua. Mak Acih dan suami cuma menyewa tanah kepada pemiliknya yang masih warga setempat.

Dia dan warga sekitar bukan tidak mau memperbaiki gubuk tersebut. Alasan keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tidak bisa berbuat banyak.

“Ada yang datang ke sini, foto-foto katanya mau dibantu. Tapi sampai sekarang enggak ada (bantuan) memang saya sadar kalau tinggal di sini cuma ngontrak,” ujar Mak Cacih.

Mak Cacih berharap tetap tingggal di area tanah itu, tentu dengan bangunan layak huni. “Saya dikasih solusi katanya di suruh tinggal dulu di Rumah Susun (Rusun). Tapi saya setengah hati karena inginnya tetap tinggal di sini. Cuma mentok sama pemilik tanahnya, mau dibayar kan uang dari mana,” ucapnya.

“Jangankan beli tanah, buat rehab aja enggak ada uangnya. Mudah-mudahan ada dermawan yang mau bantu,” tutur Mak Cacih menambahkan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Sukabumi Hanafi Zein menyebut aparat kewilayahan mulai kelurahan dan kecamatan sudah mengecek langsung kediaman Mak Cacih. Dia menjelaskan pemberian bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) terkendala status tanah yang ternyata milik orang lain.

“Sebetulnya upaya dari pihak kelurahan maupun kecamatan setempat sudah ada sejak lama. Hanya saja status tanahnya ini kepunyaan orang lain. Sambil mencari solusi, saya ajak Mak Cacih ke Rusun,” tutur Hanafi via telepon. (detik.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here