Di tengah gencarnya isu radikalisme dan terorisme yang mengancam kesatuan NKRI, Pancasila dianggap sebagai nilai falsafah hidup yang bisa merekatkan persaudaraan. Sayangnya, gerakan kembali kepada Pancasila masih kerap dimaknai secara sederhana sebatas slogan atau jargon kering makna.

Ada yang menarik dari pandangan akan hal itu di mata Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Bukan sekadar wacana, gerakan kembali kepada Pancasila menemukan praktik yang sederhana dalam kehidupan nyata.

“Bagi saya, ber-Pancasila itu bukan sekedar posting di media sosial, berteori dengan pidato berapi-api. Tapi bergotong royong untuk mencapai keadilan. Contohnya, di Purwakarta kami memberlakukan ATM beras untuk warga,” kata pria yang akrab disapa Kang Dedi itu, Sabtu (5/8/2017).

Sebagai pribadi yang lahir dan besar dengan nilai sunda yang kental, Dedi menganggap kebudayaan sunda sangat menekankan soal tata-nilai yang berkeseimbangan. “Itu bisa kita lihat terutama dalam soal tata kelola udara, sumber air, energi matahari dan angin yang menjadi sumber kehidupan manusia di dunia ini. Kita harus bangga menjadi orang Sunda menjadi Indonesia,” tutur Dedi.

Dia menambahkan bahwa melaluo nilai Kesundaan itu, dirinya menemukan oase dan problem solving atas permasalahan Jawa Barat saat ini. “Nilai-nilai kearifan lokal yang bersumber dari falsafah Kesundaan itu sangat pas untuk merekonstruksi kerusakan di berbagai bidang di wilayah Jawa Barat kini,” tandasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here