Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi meyakini ruang publik menjadi arena warga untuk menumpahkan ekspelresi dan mendapatkan kenyaman. Hal itu nyata terlihat ketika kita memasuki Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Aneka macam ruang publik yang bisa dinikmati warga secara gratis.

Salah satunya adalah Taman Air Mancur Sri Baduga. Publik bisa memasuki taman air mancur terbesar di Asia Tenggara itu dengan gratis. Sengaja ia menggratiskan fasilitas publik katena keyakinan Bupati Dedi bahwa kepala daerah harus menjaga perputaran uang di daerah, bukannya sebanyak-banyaknya mencari keuntungan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan menarik bayaran dari ruang publik.

Pemkab Purwakarta di bawah kepemimpinannya menginginkan publik bisa berbahagia menyaksikan keindahan atraksi air mancur dengan diiringi oleh lantunan lagu Sunda dan lagu nasional itu. Di dekat Taman Air Mancur, ada pentas seni yang digelar para seniman Sunda dengan melantunkan tembang-tembang khas Sunda. Dan hal itu diharapkan mampu meningkatkan kecintaan publik pada budaya Sunda.

Ruang publik lainnya adalah Taman Pasanggrahan Padjajaran. Taman seluas 3 hektare yang terletak di dekat kompleks Pendopo Pemda Purwakarta ini diwarnai oleh keindahan air mancur, kolam dengan aneka ikan hias, dan berbagai jenis bunga yang ada pada taman tersebut.

Pengunjung juga bisa menyaksikan dua patung harimau di sekitar Taman Pasanggrahan Padjajaran. Harimau memang identik dengan kisah raja besar Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi. Selain itu, ada pula beberapa leuit atau tempat penyimpanan padi khas Sunda di taman yang juga bisa diakses publik secara gratis itu.

Selain itu, ada juga museum yang dinamakan Bale Panyawangan Diorama. Museum ini memiliki sembilan bagian yang membahas berbagai macam hal mengenai budaya dan sejarah Sunda sekaligus Purwakarta. Untuk masuk museum yang menampilkan masa lalu dengan kecanggihan masa kini ini pun tak perlu bayar alias gratis.

Bupati Dedi memang tak ingin publik tak bebas mengakses ruang publik. Selain membangun berbagai ruang publik yang penuh nuansa kesundaan serta bisa diakses secara gratis, pria yang akrab disapa kang Dedi itu juga berupaya keras melawan komersialisasi ruang publik atau ruang terbuka hijau.

Tahun lalu, Dedi telah menolak 30 proposal perizinan yang diajukan para pengembang perumahan karena menyalahi tata ruang kota. Kang Dedi, begitu sapaan akrabnya, sangat menjaga ruang publik dari komersialisasi.

Sebab, apabila ruang publik sudah terjamah komersialisasi, maka publik tak lagi bebas mengunjunginya. Ruang publik akan ‘dikangkangi’ pemilik modal, yang kemudian mengarahkan ruang tersebut pada keinginannya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Dalam kondisi itu, ruang publik tak bisa lagi menjadi tempat para seniman dan budayawan berkreasi. Dengan begitu, tak bisa lagi diharap lahirnya narasi-narasi seni dan budaya dari proses kreasi alamiah para seniman dan budayawan. Dan kang Dedi sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here