Pada hari Rabu (26/4), ada yang tak biasa di Purwakarta, Jawa Barat. Ribuan warga dan perangkat desa dari seluruh Purwakarta, serta beberapa daerah lain di Jawa Barat ramai-ramai mendatangi Rumah Dinas Bupati Purwakarta di Jalan Gandanegara Nomor 25.

Mereka hadir dalam rangka pelaksanaan Seba Nagri, sebuah tradisi tahunan pascapanen raya sebagai perwujudan rasa syukur warga desa kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Oleh sebab itu, mereka turut membawa hasil bumi dari desa mereka masing-masing untuk dikumpulkan di rumah dinas Bupati. Pengertian Seba Nagri itu sendiri adalah memberikan yang terbaik kepada negeri.

Berbagai hasil bumi seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan hingga beragam penganan khas Sunda tampak mengisi acara tersebut. Beras beserta hewan ternak seperti ayam juga tampak dibawa oleh warga dan perangkat desa. Kebanyakan warga membawa seluruh hasil bumi itu dengan dongdang, sebuah wadah khusus untuk membawa makanan dan hasil bumi dalam Seba Nagri.

Lantas, diperuntukkan bagi siapakah seluruh hasil bumi itu?

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan seluruh hasil bumi yang dibawa oleh masyarakat itu akan segera didistribusikan kepada warga lain yang tak mampu.

“Ini mah tradisi tahunan, beginilah masyarakat desa, selalu silih seba, saling anteuran, saling mengantar rezeki di antara mereka,” ujar pria yang juga tokoh Nahdlatul Ulama Purwakarta itu.

Kegiatan Seba Nagri ini sendiri sudah digalakkan oleh Bupati Dedi beberapa tahun terakhir. Tradisi ini merupakan manifestasi tekad Pemkab Purwakarta untuk melestarikan budaya Sunda sekaligus mengakomodir keberadaan masyarakat desa.

Pemkab juga menjadikan Seba Nagri sebagai tolok ukur produksi pertanian di masing-masing wilayah di Purwakarta. Dengan begitu, ke depannya Pemkab akan dapat mengidentifikasi potensi wilayah-wilayah tersebut dalam rangka menjaga ketahanan pangan seluruh wilayah Kabupaten Purwakarta.

Tradisi Leluhur

Tradisi Seba sesungguhnya punya cerita sendiri. Prosesi tersebut sebenarnya lebih lekat dengan tradisi masyarakat Baduy, yang juga dikenal sebagai Urang Kanekes, Banten. Saat ini (28-29 April), ribuan masyarakat Baduy sedang melakukan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun itu dengan cara melakukan perjalanan dari desa mereka ke tempat pembesar Kabupaten Lebak, Kota Serang serta Provinsi Banten dengan membawa berbagai hasil bumi sebagai persembahan bagi para pembesar tersebut.

Namun, tujuan dari Seba ini tak semata mempersembahkan beragam hasil bumi itu kepada para pejabat layaknya pemberian upeti rakyat kepada rajanya. Melalui Seba ini, masyarakat Baduy ingin mengingatkan para pembesar Lebak dan Banten akan adanya sebuah kawasan yang menurut pemahaman mereka adalah pusat bumi, atau Pancer Bumi. Pusat bumi itu hingga kini di jaga oleh dua Jaro Tangtu dan seorang Pu’un, yang tak lain adalah Kanekes, tempat tinggal masyarakat Baduy.

Begitupun dengan cara Urang Kanekes melakukan Seba, yakni berjalan puluhan kilo meter tanpa alas kaki. Melalui cara ini, Urang Kanekes ingin memperlihatkan gaya hidup ramah lingkungan pada para pembesar Lebak dan Banten, sekaligus memperingatkan mereka agar tidak merusak alam.

Lantas, sejak kapan tradisi Seba ini dilakukan masyarakat Baduy?

Di dalam bukunya yang berjudul Masyarakat Baduy di Banten dalam Masyarakat Terasing di Indonesia (993), Antropolog senior dari Universitas Padjadjaran, Judistira Garna mengungkapkan bahwa tradisi Seba sudah ada sejak Kesultanan Banten berdiri pada abad 16. Tradisi ini dilakukan Urang Kanekes sebagai tanda pengakuan kepada Kesultanan Banten. Dan setelah Republik Indonesia (RI) berdiri, masyarakat Baduy melanjutkan tradisi Seba kepada pemerintah daerah yang berada dalam sruktur pemerintahan RI.

Urang Kanekes menggelar prosesi Seba setelah musim panen tiba dan melakukan ritual Kawalu selama tiga bulan. Selama Urang Kanekes melakukan ritual Kawalu, wisatawan dilarang memasuki wilayah Baduy Dalam yang terdiri dari tiga kampung, yakni Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik.

Jadi, tradisi Seba sejatinya merupakan warisan leluhur yang terkait erat dengan pola produksi agraris masyarakat Sunda sejak ratusan tahun lalu. Sebagaimana budaya warisan leluhur Sunda lainnya, tradisi Seba adalah prosesi sarat makna yang harus terus dijaga.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here