Sate maranggi yang gurih ini titik kenikmatannya ada pada proses pembuatannya yang lebih panjang, jika dibandingkan dengan hidangan sate lain. Ada tahap perendaman daging di dalam bumbu sebelum dipotong-potong dan dipanggang, tahap ini bisa menghabiskan waktu hingga seharian.

Bumbu untuk merendam biasanya merupakan campuran dari air asam, kaldu sapi, gula merah, kecap manis, minyak, serta bumbu halus yang memadukan bawang merah, bawang putih dan ketumbar.

Karena kekhasannya, sate maranggi kemudian dikukuhkan Kementerian Pariwisata sebagai salah satu dari 30 Ikon Kuliner Tradisional Nasional.

Nama sate maranggi sendiri berasal dari nama penjualnya yaitu Mak Ranggi. Ini terjadi ratusan tahun lalu dan kelezatan sate ini dibicarakan banyak orang, sehingga saat menyebut nama sate tersebut maka terucaplah ‘maranggi’ pada akhir kalimatnya.

Sate maranggi dihidangkan dengan banyak pilihan. Beberapa tempat memberikan bumbu yang cukup umum, yaitu bumbu kacang dan kecap sebagai opsinya lalu dilengkapi dengan nasi. Akan tetapi, ada beberapa penjual yang coba menawarkan sate maranggi dengan lontong, ketan bakar berikut oncom dan juga nasi timbel.

Jika makan bersama keluarga dan rombongan, jangan lupa memesan menu lain sebagai variasi seperti sop dan soto.

Sate maranggi asli dari Purwakarta tetapi keberadaannya meluas hingga di beberapa daerah di Jawa Barat termasuk Bandung dan Cianjur. Sebagian berjualan di kios-kios, sebagian lagi masih menggunakan gerobak dorong dan pikulan.

Walaupun sate ini sudah mudah ditemui di banyak daerah, Purwakarta masih menjadi tujuan utama. Pada perkembangannya, pengusaha-pengusaha sate maranggi membangun tempat yang luas dan membuat alat panggang yang panjang untuk mengantisipasi permintaan tamu secara massal, sehingga saat kios penuhpun tamu tidak menunggu terlalu lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here