Di masa kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi, roh kearifan budaya Sunda kian hidup di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Yang terbaru, sebanyak 69 bidan desa di Purwakarta yang baru menerima surat keputusan pengangkatan sebagai aparat sipil negara (ASN) dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia setempat menyumbangkan satu kuintal beras untuk disumbangkan bagi warga miskin Kabupaten tersebut.
Sumbangan ini merupakan perwujudan dari kegiatan perelek yang sudah menjadi kearifan masyarakat Tatar Sunda berabad-abad lamanya.  Kegiatan perelek merupakan aktivitas pengumpulan beras dengan cara menyimpannya dalam sebuah tempat yang sebelumnya telah disediakan aparat.
Beras-beras itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan warga yang kurang mampu, kegiatan masak saat ronda, hajatan, maupun ketika ada warga yang meninggal. Jadi, beras perelek ini merupakan manifestasi gotong royong yang sejatinya merupakan ciri khas masyarakat Sunda maupun nusantara.
Dan sejak tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta dibawah kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi memang telah menggalakkan kembali beras perelek. Dalam kegiatan perelek ini, seluruh masyarakat di Kabupaten Purwakarta menyisihkan beras 1/4 gelas per hari untuk dikumpulkan dalam sebuah tempat yang terbuat dari bambu.
Lalu, setiap harinya 1/4 gelas beras yang disisihkan oleh satu keluarga itu akan diambil oleh para ketua RT atau linmas untuk dikumpulkan. Dan selanjutnya, para pengumpul beras itu melaporkan hal tersebut melalui program E-Pabeasan yang terdapat pada website Pemkab Purwakarta.
Jadi tampak bahwa Pemkab Purwakarta telah memadukan kearifan budaya dengan modernisasi teknologi. E-Pabeasan itu merupakan manifestasi kontribusi teknologi untuk mendeteksi daerah-daerah yang minim memberikan beras. Daerah-daerah itulah yang kemungkinan membutuhkan subsidi beras, sehingga hasil kegiatan beras perelek itu akan diberikan ke kawasan tersebut.
Bupati Dedi sendiri punya target dari pelaksanaan beras perelek ini.
“Kita efektifkan lagi program “beras perelek”, agar Desember 2017 ini Purwakarta bebas Rastra (Beras Sejahtera) dari Perum Bulog,” kata Dedi.
Dan kenyataannya program beras perelek ini berbuah manis. Menurut catatan Pemkab Purwakarta, jumlah keluarga penerima manfaat rastra di Purwakarta pada 2017 sudah mengalami penurunan 3,76 persen menjadi 46.582 kepala keluarga (KK) karena mereka telah beralih menyantap beras hasil kegiatan perelek.
Sementara pada 2016 angka penerima rastra masih berada di kisaran 48.354 KK.
Fakta ini menunjukkan bahwa gotong royong ala masyarakat Sunda yang termanifestasi dalam beras perelek di Purwakarta ini bisa dikembangkan seturut dengan kemajuan zaman. Bahkan, bisa membuahkan keberhasilan.
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here