Vladimir Vujovic tinggalkan persib

Vladimir Vujovic/ DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Menjaga cleen sheet atau tidak kebobolan dalam satu pertandingan perlu lini belakang yang solid. Membangun benteng yang tangguh tidak bisa hanya mengandalkan nama besar seorang pemain.

Dengan begitu,  kesatuan menjadi modal utama suatu pertahanan akan sulit ditembus penyerang lawan. Kuartet lini belakang (Tony Sucipto, Vladimir Vujovic, Achmad Jufriyanto, dan Supardi) saat mengantarkan Persib menjadi juara Liga Super Indonesia 2014 salah satu buktinya. Saat liga dibagi wilayah barat dan timur, Persib yang berada di barat mampu memasukkan 42 gol dan kemasukan 20 gol pada 20 pertandingan. Artinya, rasionya 1 gol setiap pertandingan.

Kemudian saat di babak 8 besar LSI 2014 dan berada di Grup L Persib kemasukan 7 gol dari 6 laga dan kokoh di puncak Grup 2. Di babak semi final saat menghadapi Arema Cronus Persib kemasukan satu gol dan memasukkan tiga gol. Di partai final berhadapan Persipura di mana Persib kebobolan 2 gol di waktu normal. Namun akhirnya menang melalui drama adu penalti 5-3.

Hegemoni lini belakang yang mengantarkan Persib juara itupun coba kembali dihidupkan pada Liga 1 2017. Achmad Jufriyanto dan Supardi yang sempat lepas ke Sriwijaya FC seusai gelaran Piala Presiden 2015 hingga akhir tahun 2016, dibawa kembali pulang ke Bandung.

Kehadiran duet Vladimir dan Jufriyanto memang mampu menghadirkan keamanan bagi pertahanan Persib. Sebab, mereka berdua tipikal bek modern yang mampu memegang bola atau biasa disebut ball-playing-defender. Dan meski keduanya bukan pemain belakang yang dianugerahi kecepatan, namun kemampuan mereka dalam membaca permainan mampun menutup kelemahan tersebut.

Namun, keduanya ternyata tak cukup kuat menghalau tusukan dasyat yang dilontarkan penyerang Bali United pada laga uji coba jelang Liga 1 bergulir. Persib terhempas 2-1 dari Bali United di kandangnya sendiri Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Sabtu, 8 April 2017.

Ya, meski Vladimir sudah mendapatkan rekannya kembali Achmad Jufriyanto tapi hal itu tak terjadi di bek kanan. Supardi yang biasanya mendampingi mereka terpaksa harus mengalah karena adanya regulasi pemain muda.

Regulasi itu menyebabkan Djadjang lebih memilih Henhen Herdiana ketimbang Supardi. Perubahan di bek kanan lebih rasional ketimbang menggeser Vladimir, Jufriyanto maupun Tony Sucipto karena terbentur dengan stok pemain muda yang sangat terbatas.

Padahal,  Supardi Nasir merupakan pemain vital Persib ketika menjuarai LSI 2014. Berdasarkan durasi bermain, dia adalah pemain terpenting dalam skuad Maung Bandung musim itu. Pemain kelahiran Bangka itu selalu dimainkan penuh oleh Djadjang Nurdjaman dalam 28 laga LSI 2014 dengan 2.580 menit bermain. Supardi juga memiliki peran sentral dalam membantu serangan dengan menyumbangkan lima umpan pengantar gol.

Djadjang Nurdjaman juga mengakui, Supardi merupakan salah satu elemen vital dalam sepak terjang Persib Bandung sehingga bisa menggondol trofi bergengsi sepanjang musim 2014 dan 2015. Selain konsisten mempertahankan performa, Supardi diakui Djadjang sebagai pemain paling disiplin yang pernah dia latih baik dalam ak­tivitas di dalam lapangan maupun saat menja­lani kehidupan pribadi.

“Secara kualitas keempat bek yang membawa Persib juara tidak ada yang berubah. Vladimir, Jufriyanto, Tony dan Supardi masih kompetitif. Tapi karena ada regulasi ini mengurangi kekuatan tim secara utuh,” ucap Djadjang kepada “PR”, di Bandung, Senin, 10 April 2017.

Djadjang mengakui, dari empat elemen lini belakang ini kemudian harus ada satu pemain yang baru membuat timnya tidak siap 100 persen. Akibatnya, hal ini sangat menganggu rencana reformasi tim yang sedang diusungnya.

“Jujur saja dari empat lini belakang ini kemudian diganti satu karena regulasi membuat tim tidak siap. Itu mengganggu reformasi keseluruhan materi tim. Artinya, empat pemain senior ini tidak bisa main bersama,” ujar pelatih asal Majalengka tersebut.

Dia menambahkan, dari enam pemain muda yang direkrut Persib saat ini pihaknya menilai hanya Febri Hariyadi yang sudah siap. Sisanya, ia akui mereka masih belum siap mental untuk memperkuat Persib Bandung.

“Dari enam pemain muda ini hanya Febri yang menurut saya sudah siap (di Persib). Yang lainnya mungkin kita tidak tahu kalau di tim lain,” ujarnya.

Menurut dia, solusi satu-satunya agar pertahanan Persib kembali kokoh adalah menunggu Henhen cepat matang. Itu karena, pihaknya sudah terbentur dengan adanya regulasi pemain muda. Meskipun sudah mendatangkan pemain incarannya.

“Karena regulasinya seperti itu yang harus bersabar. Sampai para pemain muda ini matang. Karena bermain di Persib ini berbeda. Para pemain muda harus siap mental,” tuturnya.

Selain itu, kata Djadjang, ada yang harus diperbaiki di sektor belakang. Diantaranya sering kemasukan melalui bola mati maupun open play. Dengan waktu yang tersisa jelang Liga 1, Djadjang optimis hal tersebut bisa dibenahi.

“Ada yang harus kami evaluasi di lini belakang, termasuk soal kemasukan saat set piece dan open play yang harus dibenahi. Kita akan terus ingatkan dan belajar lagi supaya tidak kemasukan dengan cara yang sama,” tuturnya.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/persib/2017/04/11/persib-bangun-pertahanan-dengan-formasi-baru-lini-belakang-398667

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here