http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/04/11/o5gntw365-perempuan-ini-berani-cium-bupati-dedi-siapa-dia#

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mendapat ciuman mesra dari ibu asuhnya yang berusia 106 tahun, di hari ulang tahunnya, Senin (11/4). ( Republika/Ita Nina Winarsih)

Untuk pertama kalinya, saya ingin menulis tentang seseorang yang “cukup asing” bagi pembaca Seword yaitu Dedi Mulyadi, Bupati Purawakarta. Tokoh ini menarik, karena beberapa kali disebut sebagai salah satu Kepala Daerah yang hebat, berdampingan dengan nama-nama besar seperti Bu Risma, Pak Ridwan Kamil, dan lain-lain

Saya beberapa kali mendengar nama ini, membaca reputasinya, tapi kemarin adalah kali pertama saya melihat Sang Bupati secara langsung di Metro TV. Ya di televisi lah, kalau ketemu langsung kan susah.

Supaya jangan salah menduga, Kang Dedi Mulyadi ini tidak pernah syuting sinetron, juga bukan Kepala Daerah yang main di iklan minuman yang ada badaknya. Sama-sama pemimpin di daerah Jawa Barat, tapi yang satu lebih terkenal karena kerjanya, sedang yang lain lebih terkenal karena sosiznya. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di sini

Deradikalisasi

Masalah bom panci yang terjadi beberapa waktu lalu, ternyata membawa keresahan bagi masyarakat kita. Selain waktunya yang berdekatan dengan kedatangan King Salman (bukan Zalman King), kejadian itu juga menimbulkan polemik di kalangan ibu-ibu rumah tangga. Para ibu-ibu ini kuatir, apabila nanti untuk membeli panci dibutuhkan surat keterangan berkelakuan baik dari RT RW, ini kan merepotkan. Ketipu nih yeeee…….

Kata deradikalisasi sendiri secara sederhana berarti proses (upaya) menurunkan paham radikal, dengan tujuan menjadikan seseorang lebih menghargai perbedaan. Untuk pengertian yang lebih mendalam bisa anda lihat di tulisan ini

Pemerintah melalui BNPT sudah mencoba menjalankan program Deradikalisasi ini. Barusan juga mereka telah meluncurkan program, yang kali ini bekerjasama dengan 27 kementrian terkait. Tapi ketika lagi-lagi ada residivis teroris ternyata terlibat lagi dalam jaringan terorisme, maka program BNPT mulai mendapat sorotan dari berbagai pihak

Tiga Pokok Masalah

Ketika seorang mantan terpidana terorisme keluar dari penjara, maka pe er dari pemerintah masih terus berlanjut. Mengapa? Karena seorang yang pernah mendekam di penjara karena masalah terorisme akan mendapat double stigma dari lingkungannya, yaitu kriminal dan teroris, dan itu terus terang membuat hidupnya akan jauh lebih sulit

Ada tiga permasalahan yang dihadapi oleh seorang mantan teroris sekeluarnya dari Lapas, yang harus jadi perhatian pemerintah:

  1. Ekonomi: terus terang di dalam masyarakat, bahkan di negara-negara maju, seorang residivis sulit mendapat pekerjaan. Ini harus diakui. Siapa sih yang dengan sukarela mau mempekerjakan seseorang yang pernah masuk penjara? Saya pikir tidak banyak. Apalagi jika dia adalah mantan teroris, pasti kita harus berpikir seribu kali. Problem ini menambah kesulitan bagi mereka untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, dan itu masih masalah pertama
  2. Psikologis: tekanan dari masyarakat jelas merupakan yang tidak bisa diremehkan, baik bagi sang teroris juga bagi keluarga mereka. Warga sekitar pasti cenderung enggan bergaul, pemilik rumah kost-kostan juga dijamin enggan menyewakan rumah mereka. Yang paling ngenez adalah bagi para teroris jomblo, mereka dijamin akan dijauhi gadis-gadis sosialita, cewek-cewek gaul dan cabe-cabean. Bayangkan, sudah sulit dapat kerjaan, masih ditambah susah laku. Tidak heran mereka sangat mudah jatuh dalam iming-iming 72 bidadari dari Saudi, alamak
  3. Idealisme: mereka yang pernah terjun ke dalam “lembah terorisme” pasti sudah mengalami brain washed. Ideologi yang sudah melekat dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun tentunya susah diganti dengan program rumah dengan DP 0% misalnya (becanda). Konsep negara khilafah berbeda dengan negara demokrasi; masalah Pancasila, keanekaragaman agama dan toleransi, juga akan menjadi paradigma yang sulit untuk diterima dalam pandangan mereka. Apalagi kenyataan bila seorang pemimpin kafir ternyata bisa bersalaman dengan Raja Saudi Arabia, sedangkan Habib Tujuh juta Umat mereka musti nunggu undangan dari DPR. Sakiiiiittt bang…..

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (kiri) menerima mantan terpidana kasus terorisme, Agus Marshal (kanan) di rumah dinas Bupati Purwakarta, Selasa (28/2/2017). TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA

Dedi Mulyadi

Pendekatan holistic model Kang Dedi terhadap Agus Marshal, seorang mantan terpidana kasus terorisme, bisa dijadikan model pembelajaran. Dedi Mulyadi jelas bukan sekedar raja retorika, dia menunjukkan kepeduliannya ketika dia mendatangi rumah Agus yang bukan AHY itu. Dia berbincang-bincang lalu memberikan modal awal 20 juta bagi Agus untuk dipakai sebagai modal usaha.

Singkat cerita, akhirnya uang 20 juta itu habis karena Agus ternyata kurang berhasil dengan usaha barunya. Kang Dedi lalu menawari Agus untuk menjadi tenaga pengawas kebersihan di daerah Sadang sampai Cibening, Purwakarta. Pekerjaan ini diterima oleh Agus, pekerjaan ini juga menyelesaikan dua masalah Agus sekaligus, yaitu masalah ekonomi dan psikologi. Masalah ekonomi jelas karena melalui pekerjaan barunya, Agus Marshal bisa menghidupi diri dan keluarganya. Masalah psikologi juga terselesaikan, karena kepercayaan diri yang meningkat disertai dengan adanya penerimaan dari lingkungan sekitar.

Yang lebih hebat lagi, Dedi Mulyadi memberi kepercayaan kepada Agus yang seorang mantan teroris, untuk mengajar di sekolah ideologi Purwakarta. Di sekolah itu Agus sharing pengalamannya saat bergabung dengan kelompok teroris. Jelas melalui cara ini, idealisme kebangsaan yang “salah” perlahan-lahan dikikis dari pola berpikirnya

Keberanian Dedi Mulyadi untuk mengambil resiko, rasa empatinya, jelas harus menjadi teladan bagi kepala daerah-kepala daerah lain yang ada di Indonesia. Masyarakat juga harus belajar dari contoh ini untuk bisa menerima mantan-mantan pesakitan dengan tangan terbuka, bukan dengan hati tertutup

Tema kebangsaan ini penting, karena sudah terlalu lama bangsa ini diceraiberaikan dengan masalah-masalah yang tidak penting. Sudah bosan kami mendengar berita yang itu-itu saja. Kenapa kalau masalah Gubernur kafir membuat 7 juta orang bisa Jumatan bersama di Monas, tapi masalah terorisme dan pengeboman yang jelas-jelas menyebabkan kematian anak balita, malah dianggap pengalihan isu? Iki lak g*ndeng

Saya ini Warga Negara Indonesia yang kebetulan dari suku Tionghoa, saya juga seorang Kristen. Tapi jika saya bisa menghargai dan mengapresiasi kerja mereka-mereka yang “berbeda” dengan saya. Lalu kenapa sesuatu yang sudah clear disetujui oleh konstitusi kita, masih terus menerus dibahas dengan penuh kebencian?

Ijinkan saya mengakhiri artikel ini dengan sebuah joke yang bagi saya juga termasuk sebuah kalimat parodi

Sumber : https://seword.com/politik/belajar-dari-dedi-mulyadi-deradikalisasi-para-teroris/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here