Ini adalah fenomena umum di zaman ini, di mana rutinitas kehidupan manusia ditentukan oleh dua hal saja. Satu hal menentukan anak-anak. Dan satu lagi menentukan orang dewasa.

Rutinitas kehidupan seorang anak ditentukan oleh sekolahnya. Sedangkan rutinitas hidup seorang dewasa ditentukan oleh pekerjaannya…

Yang dimaksud pekerjaan adalah akitivitas mata pencaharian, melakukan kasab atau mengusahakan ma’isyah (livelihood). Atau disebut juga dengan aktivitas ekonomi, yang wujudnya bisa dengan bekerja sebagai pekerja, buruh, pegawai, profesional, atau berwirausaha atau berbisnis sendiri.

Anak-anak ditentukan oleh sekolah, sedangkan orang dewasa ditentukan oleh pekerjaannya. Baik-buruknya anak-anak juga ditentukan oleh sekolahnya. Sebagaimana bauk-buruknya orang dewasa, dalam konteks tertentu, juga ditentukan oleh pekerjaannya. Tidak sedikit orang baik jadi jahat karena tuntutan atau kondisi pekerjaan, juga orang jahat jadi baik karena diubah oleh pekerjaan.

Bagi anak, sekolah sangat menentukan. Begitu menentukannya, sehingga seorang anak tidak bisa beraktivitas lain jika bentrok dengan aktivitas sekolahnya. Bahkan, jam berapa ia harus sudah tidur malam, bangun tidur pagi, jam berapa ia mandi, jam berapa ia sarapan dan lain-lainnya, juga ditentukan oleh kondisi dan peraturan sekolahnya. Sekolah selalu dinomorsatukan. Ia bukan hanya menentukan, bahkan juga mengatur ritme dan aktivitas seorang di luar persekolahan formal.

Sebenarnya, jujur diakui, sekolah tidak dapat memberikan semua bekal yang dibutuhkan bagi masa depan seorang anak. Karena, tidak semua pengetahuan dan lifeskill dasar yang sangat penting, diajarkan dan dibinakan oleh sekolah kepada anak-anak.

Akan tetapi, karena mindset kebanyakan kita sangat mempercayakan anak-anak kepada sekolah, maka seolah-olah sekolah sudah dianggap cukup mengajarkan dan membekalkan modal hidup menjadi manusia di zaman ini.

Oleh sebab itu, perhatian, waktu, energi dan materi seseorang banyak dihabiskan untuk urusan persekolahan anak-anaknya. Dan banyak yang tidak menyadari bahwa sekolah formal belum cukup untuk membekalkan semua pengetahuan dan keterampilan hidup dasar dan penting. Karena ketidaksadaran ini, mereka tidak melibatkan anak-anak pada tempat-tempat ilmu lain selain sekolah, untuk menutupi berbagai kekurangan di persekolahan.

Waktu, perhatian dan energi anak-anak habis di sekolah, namun mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk berbekal dengan hal-hal dasar yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Kelak, ketika mereka tumbuh dewasa, sangat terasa bahwa mereka masih banyak kekurangan bekal untuk menjalani dan menentukan hidup.

Dulu, di kampung, banyak anak usia sekolah yang mengikuti dua sekolah. Sekolah pagi dan sekolah sore. Pagi hingga zuhur mereka bersekolah di SD, dan siang menjelang sore (14.00-16.00) mereka bersekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) atau MD (Madrasah Diniyah). Kedua sekolah ini saling melengkapi. Apalagi sesudah itu anak-anak juga belajar ngaji Al-Quran dan ilmu-ilmu lainnya (seperti akhlak) bada maghrib, baik di masjid/mushalla maupun rumah ustadz setempat. Lebih lengkap lagi.

Menariknya, dalam kondisi demikian, anak-anak masih bisa bermain dan beraktivitas layaknya usia anak-anak. Mengapa? Karena, di saat-saat istirahat, sekolah tetap nyaman untuk bermain dan berekspresi indoor dan outdoor di lingkungan sekolah.

Bagi orang-orang yang dulu sempat merasakan dua sekolah plus mengaji bada maghrib saat kanak-kanak, pengalaman belajar ini sangat membekas dan bermakna. Apalagi generasi mereka saat itu sering menjadikan malam purnama sebagai waktu bermain dan berinteraksi di sekitar rumah, sehingga kehidupan usia anak-anak sangat berwarna dan tidak membosankan.

Namun saat ini jelas, terutama di kota-kota, anak-anak tidak mengikuti dua sekolah seperti di atas. Mereka hanya mengikuti satu sekolah, namun menghabiskan cukup banyak waktu, sedikit arena dan kesempatan bermain, apalagi sampai berkesempatan berinteraksi dengan bulan purnama di malam hari.

Karenanya, saya sangat apresiatif dan terkesan dengan sejumlah kebijakan dan gebrakan Kang Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta saat ini berkaitan dengan anak-anak sekolah. Saya sebut dua saja sebagai misal. Pertama, sehari dalam seminggu, anak sekolah harus membantu orang tuanya bekera. Jika orang tuanya petani, anak harus ikut membantunya di sawah. Jika orang tuanya sopir angkot, anaknya harus membantunya. Jika orang tuanya berdagang, si anak harus membantunya berdagang. Jika orangtuanya nelayan, si anak harus membantunya mencari ikan. Dan lain sebagainya.

Kebijakan ini mungkin dianggap kontroversial, karena akan dianggap sebagai mempekerjakan anak-anak yang dilarang oleh undang-undang? Tidak. Kebijakan ini tidak untuk mempekerjakan anak, melainkan untuk membekalkan pengetahuan, pengalaman, kebijaksanaan, dan empati kepada orang tua mereka. Dan itu bagian dari “kurikulum” bagi anak-anak sekolah di Purwakarta. Ini bagian dari pendidikan penting, yang tidak ditemukan di persekolahan di daerah-daerah dan kota-kota lain pada umumnya.

Kedua, kebijakan lainnya (kebijakan baru), adalah siswa SD kelas 6 hingga SMA yang Muslim mendapat pelajaran lain, yakni mempelajari Kitab Kuning. Untuk apa? Agar anak-anak terbiasa membaca ragam pendapat para ulama terdahulu yang tersimpan dalam banyak kitab, sehingga kelak mereka terbiasa menghargai perbedaan pendapat, tidak mengkafir-kafirkan sesama Muslim, tidak menyerang orang yang berbeda dalam pemahaman keagamaan, dan bersikap toleran. Ini bagian dari pengetahuan sekaligus pendidikan karakter dan akhlak yang sangat mendasar, yang sangat menuntun hidup, namun tidak dibekalkan di persekolahan di daerah-daerah dan kota-kota lain pada galibnya.

Dua kebijakan ini diperkuat lagi dengan kebijakan Malam Purnama, yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi semua kalangan, namun lebih sangat penting lagi bagi anak-anak. Setiap malam purnama, lampu luar rumah-rumah di Purwakarta dipadamkan. Semua penghuni rumah dianjurkan keluar rumah, berbaur dengan tetangga dan berkegiatan sosial di bawah cahaya terang bulan yang sempurna.

Bagi kalangan dewasa dan orang tua, ini adalah kesempatan sosialisasi dan silaturahim. Bagi anak-anak, ini adalah pendidikan tentang sosialisasi dan (tidak kalah penting) kosmologi. Dengan teknologi listrik, anak-anak zaman sekarang tidak terlalu berinteraksi dengan gelapnya malam, karena di mana-mana selalu terangboleh cahaya listrik. Seolah-olah mereka tidak mengenal malam itu gelap. Apalagi mereka sering berada di rumah di setiap malam mereka.

Akibatnya, mereka tidak mengenal bulan purnama, apalagi berinteraksi dan menikmatinya. Padahal kesadaran kosmologis itu penting, sebagaimana pentingnya dua kesadaran lainnya, yakni kesadaran diri (ma’rifat nafsi) dan kesadaran Ilahi (ma’rifat rabb). Inilah trilogi kesadaran yang seharusnya sudah dibekalkan sejak dini pada anak-anak. Dan ini yang mulai ditradisikan di Purwakarta Istimewa oleh Bupati Langka.

Manfaat lainnya bisa disebutkan. Jika dunia memperingati Hari Bumi setahun sekali dengan memadamkan lampu satu jam di hari tersebut, di Purwakarta justru dilakukan sekitar 3 jam dalam setiap bulan, atau 12 kali dalam setahun (sekitar 36 jam dalam setahun). Saat digulirkan pertama kali di akhir 2015, listrik di Purwakarta dilaporkan hemat 5 milyar. Padahal memadamkan lampu hanya lampu di luar rumah dan jalan saja, hanya 3 jam saja dalam semalam di Malam Purnama itu. Gerakan Save Energy bukan hanya slogan atau kampanye, tetapi ditradisikan dengan tindakan secara massal.

Kebijakan yang digali dari kearifan lokal ini jelas sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anak, di mana mereka belajar langsung kosmologi bahkan lebih itu, termasuk sosiologi dan teologi. Ketika sekolah telah banyak mengambil dan menghabiskan waktu anak-anak, sementara ia tidak membekalkan semua kebutuhan mendasar, maka terobosan-terobosan menjadi sangat penting digulirkan. Baik melalui kreativitas keluarga, masyarakat, maupun (apalagi) terobosan dari pemimpin di sebuah wilayah atau daerah.

Untuk menuju trilogi kesadaran itu….

Sampurasun….!

Sumber : https://seword.com/pendidikan/ketika-sekolah-sangat-menentukan-anak-zaman-ini-belajar-dari-kang-dedi-mulyadi/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here