Sebuah pesan masuk, “Bang, Purwakarta dapat penghargaan Harmony sebagai wilayah yang toleran..”
Saya tersenyum bacanya. Sudah seharusnya. Purwakarta berjuang keras untuk itu. Saya terngiang kata2 Kang Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta waktu kami berbincang, “Toleransi itu harus diperjuangkan, bukan hanya diucapkan..”
Selama dua periode, 10 tahun menjabat, Kang Dedi Mulyadi harus berjibaku melawan intoleransi yang tumbuh massif di Jawa Barat. Ormas2 radikal berbaju agama di sekitar Purwakarta tumbuh kencang.
Bukan tanpa resiko ia berjuang seperti itu. Ia dijadikan musuh besar bagi FPI. Patung di Purwakarta di rusak. Bahkan ia pernah dikejar2 oleh FPI saat menjadi pembicara di TIM, Jakarta. Dan tudingan bahwa ia musyrik, penyembah patung, begitu melekat pada dirinya. Fitnah yang dibangun dalam usaha membunuh karakternya.
“Saya siap tidak populer..” Katanya. Dan memang pada masa itu, saat ormas garis keras dipelihara oleh para penguasa, siapapun yang berhadapan dengan mereka harus siap tidak populer. Bahkan beberapa kepala daerah harus bergandengan tangan dengan ormas garis keras hanya supaya tidak kehilangan suara.
Dedi Mulyadi tidak menyerah. Ia masuk ke sudut2 desa, mengetuk pintu2 rumah rakyat kecil, berbicara dengan mereka, untuk mengenalkan arti toleransi kepada sesama manusia. Rakyat Purwakarta jatuh cinta padanya. Karena itu, ia tetap ada di sana meski fitnah massif terus menghantamnya.
Dan pada masa pemerintahan Jokowi inilah, namanya mengharum. Kementerian agama merespon perjuangan beberapa wilayah di Indonesia yang berhasil menjaga kerukunan agama dengan “Harmony awards”.
Saya yakin, Dedi Mulyadi tidak mengharapkan awards apapun untuk perjuangannya, karena bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah menunjukkan kepada seluruh kepala daerah di Jawa Barat bagaimana seharusnya bekerja.
Jawa Barat selama ini banyak menyabet gelar juara. Juara provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi. Juara penduduk miskin terbanyak. Juara pungli terbanyak di Indonesia. Prestasi yang membanggakan ketika PKS berkuasa..
Dan dengan gelar juara2 itu, penghargaan Purwakarta sebagai wilayah yang “paling rukun umatnya” versi Menteri Agama, tentu kurang menarik bagi Jawa Barat.
“Rukung doang, gada duitnya..” begitu mungkin kata rata2 para pejabat di Jawa Barat yang sekarang meringkuk di balik penjara karena korupsi sebanyak2nya.
Selamat ya  Kang Dedi Mulyadi atas penghargaannya. Selamat untuk warga Purwakarta, warga desa Galia, yang mampu menjunjung kerukunan di provinsi yang intoleran. Kalian memang sejak kecil sudah jatuh di panci ramuan ajaib..
Demi Toutatis, semoga langit tidak runtuh menimpa warga Purwakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here